HATI SEORANG BAPA
11 March 2023
Sabtu, 11 Maret 2023
Pekan Prapaskah II
Mikha 7:14-15, 18-20
Mazmur 103:1-4,9-12
Lukas 15:1-3, 11-32
“Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia” --- Lukas 15:20
KISAH ANAK sulung dan anak bungsu telah seringkali kali kita mendengarnya, dimana pada kisah ini diceritakan bahwa anak sulung yang dengan keegoisannya, menghalalkan cara untuk meminta hak warisan kepada bapaknya, walaupun bapaknya belum meninggal. Umumnya hak waris diberikan ketika orang tua sudah meninggal. Karena permintaan anaknya yang bungsu, bapaknya dengan sukarela untuk membagi warisan kepada anak bungsunya. Setelah mendapat warisan, anak bungsu meninggalkan bapaknya dan kakaknya, pergi ke negeri jauh dan berfoya-foya dengan harta warisannya, hingga ia kehilangannya semua baik harta maupun orang lain yang dianggap sahabatnya. Dalam kisah ini terlihat, bahwa saat ia banyak harta, banyak orangorang di sekitarnya bersikap baik dan menyanjungnya, karena mereka ingin ikut menikmati kekayaannya, tetapi setelah hartanya habis, tidak ada seorangpun berada di sisinya, mereka semua menjauh seolah-olah tidak mengenalnya. Karena kemelaratannya dan tidak ada orang yang menolongnya, si Bungsu untuk memperpanjang hidupnya, ia mencari nafkah sebagai penjaga babi, karena laparnya ia meminta ampas babi untuk mengisi perutnya, tetapi tidak ada seorangpun yang memberikannya. Setelah menderita, baru ia ingat akan segala kesalahannya dan dosanya kepada bapaknya, bahwa di tempat bapaknya, para upahan mendapatkan kelimpahan, sehingga ia ingin kembali ke bapaknya, untuk meminta ampun dan bekerja sebagai upahan di tempat bapaknya. Secara singkat diceritakan bagaimana ia pulang ke rumah, tetapi apa yang dilakukan bapaknya terhadap si bungsu, sungguh hati seorang bapak yang mau memaafkan segala kesalahan anaknya dan memulihkan kembali martabatnya sebagai anaknya. Dengan penuh gembira ia memerintahkan para bawahannya untuk mengenakan jubah, sepatu dan cincin kepada si bungsu dan mengadakan pesta untuk menyambut kehadirannya. Dari kisah ini, bahwa hati bapak yang penuh belas kasih kepada anaknya yang berdosa. Hal inipun telah ditunjukkan oleh Allah Bapa di surga yang begitu mengasihi manusia ciptaan-Nya yang telah jatuh ke dalam dosa. Untuk menyadarkan mereka, Allah telah mengirim banyak orang seperti para Hakim dan para Nabi kepada umat-Nya (khususnya bangsa Israel) supaya mereka kembali bertobat dan kembali kepada-Nya, tetapi keinginan-Nya masih jauh dari harapan-Nya, sehingga dilakukan jalan terakhir yang ditempuh Allah Bapa untuk menyadarkan umat-Nya, yang pada puncaknya, dengan mengirimkan putra-Nya yang sangat dikasihi-Nya yaitu Yesus Kristus. Hanya lewat pengorbanan-Nya yang sempurna, manusia dapat ditebus dari segala dosa dan segala hubungan antara anak dan bapa dipulihkan kembali. Untuk itu, marilah kita kembali merefleksikan diri kita, apakah kita telah sungguh-sungguh bertobat dari segala perbuatan dosa-dosa kita?, sehingga Allah Bapa berkenan menerima pertobatan kita dan merangkul kembali sebagai anak-anakNya yang hilang. (SIW).
DOA: “Tuhan Yesus, utuslah Roh Kudus, agar kami senantiasa untuk bertobat dan mengakui segala kesalahan-kesalahan kami, dan hidup menjadi lebih baik lagi, agar kami dijadikan anak-anak kesayangan-Nya yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya.”
JANJI: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!. Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu.” Mazmur 103:2-3
PUJIAN: Paus Paulus Yohanes II adalah tokoh rohani yang mempunyai hati belas kasih seorang bapa. Peristiwa ini terjadi ketika percobaan pembunuhan kepadanya. Pada 13 Mei 1981, terjadi upaya pembunuhan terhadap Paus Yohanes Paulus II di Vatican City. Di saat menyapa para umat di Lapangan Santo Petrus itu, Sri Paus ditembak sebanyak empat kali dan roboh. Dalam sekejap mata, wajah Paus yang berasal dari Polandia itu pucat, hidupnya pun berada di ujung tanduk. Umat yang pada awalnya bersorak sorai, menjadi menjerit ketika mobil kepausan (Popemobile) membawa Paus Yohanes Paulus II ke rumah sakit. Paus menjalani operasi selama lima jam, dan berhasil selamat. Namun yang membuatnya makin dihormati di seluruh dunia adalah, dia memutuskan memaafkan calon pembunuhnya, Mehmet Ali Agca di penjara, dan Ali agca dihukum selama 30 tahun akibat perbuatannya. Saat Paus sakit di 2005, Agca mengiriminya surat. Paus yang dikenal kharismatik itu pun meninggal pada 2 April 2005, dan Agca mengaku kehilangan. Dalam wawancaranya dengan Daily Mirror, si pelaku utama mengungkapkan dia merasa kakaknya sudah meninggalkannya. Segera setelah pengumuman pembebasan pada 18 Januari 2010, Agca menyatakan dia menganut Katolik Roma. Agca, kini hidup tenang mengurusi kucing liar di rumahnya di Istanbul, Turki, menyebut Sri Paus sebagai "saudara".
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ