HATI YANG TERTUTUP
29 May 2021
Sabtu, 29 Mei 2021
Sirakh 51:12-20
Mazmur 18:8-11
Markus 11:27-33
“Mereka menjawab Yesus: ‘Kami tidak tahu!’. Maka kata Yesus kepada mereka: ‘Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.” Markus 11:33
DI AWAL Injil Markus, dikisahkan Yesus membuat gempar di seluruh penjuru Galilea. Pertama, orang-orang takjub sewaktu Yesus mengajar di Bait Suci. Ia mengajar ‘sebagai orang yang berkuasa dan tidak seperti ahli-ahli Taurat’ (Mrk 1: 21-22). Yesus lalu mengusir roh jahat dari seseorang, sampai orang menjadi takjub dan bertanya ‘Apa ini? ...Ia berkata dengan kuasa.’
Ini memancing rasa kesal dalam hati para ahli Taurat dan orang Farisi. Di mata mereka, Yesus itu orang Galilea, tukang kayu, berani-berani, ke Bait Suci di Yerusalem, mengajar para pengikutNya, dengan cara-cara sebagai Guru yang profesional. Sedangkan Ia tak punya latar belakang pendidikan hukum-hukum agara Yahudi. Tak heran kalau mereka lalu bertanya tentang dari siapa Yesus mempunyai wewenang dan kuasa mengajar dan melakukan mukjizat.
Waktu ditanya, Yesus balik bertanya, “Baptisan Yohanes itu dari surga atau dari manusia”. Pertanyaan yang menohok – ‘maju kena -mundur kena.’
Sebenarnya para ahli Taurat itu tahu, tetapi merasa ‘gengsi’. Latar belakang pertanyaan mereka kepada Yesus adalah tidak senang, tidak menghargai, tak mau menerima penjelasan Yesus. Dan bagi Yesus, tak ada gunanya memberi jawaban kepada mereka, sebab tak berguna dan mereka tak percaya. Hati mereka tertutup
Bagaimana sikap hati kita sendiri dalam hidup menggereja di paroki: Hati kita tetap terbuka dengan ajaran dan penjelasan dari Pastor, Guru Agama atau Pengajar-pengajar yang diundang untuk pendalaman iman kita? Atau hati kita tertutup, karena kita tak percaya atau kita sombong, merasa sudah tahu?
Jawaban Yesus, bahwa Dia juga tidak mau menjawab pertanyaan mereka, membuat mereka tambah kesal, dan tambah benci. Dan kalau kita membaca perikop selanjutnya yakni tentang ‘Penggarap-penggarap Kebun Anggur’ (Mrk 12: 1-11), kita menangkap bahwa perumpamaan ‘Penggarap Kebuh Anggur’ itu adalah sindirian sekaligus penghukuman terhadap mereka. Perumpamaan Yesus berupa ‘Penggarap Kebun Anggur’ membungkam mereka.
Kesan dan tanggapan para Ahli Taurat, kaum Farisi dan tua-tua, sebagaimana ditulis Markus memuncak dalam kebencian sampai suatu keputusan untuk membinasakan Yesus. ”Mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpaan itu “, tetapi belum berani (Mrk 12:12). Mereka mundur untuk mengatur strategi guna menyerang Yesus kembali. (SW)
DOA: “Ya Yesus tebah dan teguhkan hati kami, kalau kami mendapat tantangan dan serangan dari kelompok yang menolakMu.”
JANJI: “Kuhormati orang yang memberikan kebijaksanaan kepadaku.” Mazmur 51:17b
PUJIAN: Umat kenal Scott Hamn, yang menulis buku ‘Rome Sweet Home’. Seputar tahun 1980-an lalu mulai ada umat non-katolik nyebrang ke Gereja Katolik, semakin hari semakin banyak dan termasuk para tokoh. Scott Hamn ditunjuk untuk menjadi penghadang membendung arus pindah Gereja. Maka ia mempelajari Kitab Suci dan tafirnya, Sejarah Gereja sejak awal sampai Reformasi. Dan hasilnya mencengangkan. Dia yang seharusnya mengahalangi dan membendung arus pindah Gereja, justru dari hasil studi ia sendiri dan istrinya pindah ke Gereja Katolik, mendahului para tokoh yang harusnya ia cegah.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ