‘HOAKS’ PALING TERKENAL
18 April 2022
?Senin, 18 April 2022
Kisah Para Rasul 2:14.22-32;
Mazmur 16:1-2a.5.7-8.9-10.11;
Matius 28:8-15.
”Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam,
dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur”.
Matius 28:13
KUTIPAN MATIUS DI ATAS adalah perintah kepada para penjaga makam Yesus, sesuai keputusan para imam kepala dan para tua-tua Yahudi mengenai ‘kabar kebangkitan Yesus’. Isi perintah itu menjadi hoaks, atau informasi bohong, paling terkenal, “tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini” (Mat. 28:15).
Hoaks selalu membuat gelisah. Secara tidak sadar, iapun menciptakan hoaks baru. “Jika ada yang tanya, katakan, murid-murid Yesus datang malam-malam, dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur” (lih. Mat 28:13). Itulah hakekat kebohongan, makin tidak masuk akal, makin berkembang seperti deret ukur, dan makin membuat perpecahan.
Sebaliknya dengan kebenaran. Ia membuat kebahagiaan dan daya tahan yang mempersatukan. Warta kebangkitan dan perjumpaan dengan Yesus, yang bangkit, membuat Maria Magdalena, dan Maria yang lain, bersukacita, menyembah, dan meneruskan warta tersebut. Sapaan Yesus: “Salam bagi kalian (Yun. Xairete)”, merupakan sapaan yang menunjukkan bahwa mereka ‘kini menjadi bahagia karena mengalami anugerah rahmat (Yun. xáris) Allah”.
Rahmat inilah yang membuat para perempuan itu berpartisipasi dalam kehidupan Ilahi. Maka, mereka pun lalu menyembah dan bersyukur karena seluruh hidup mereka telah diubah. Partisipasi dalam kehidupan Ilahi inipun lalu menjadikan mereka pantas dan layak untuk diutus mewartakan Kebangkitan Yesus Kristus kepada para murid Yesus lainnya.
Kebenaran ‘kebangkitan’ itulah, yang kemudian menjadi perekat yang menyatukan para murid, serta menjadi dasar bagi lahirnya Gereja. Warta kebangkitan itu pulalah yang pertama kali diberitakan oleh Petrus setelah peristiwa Pentakosta (lih.Kis 2:14-20). Dan, melalui warta itulah, sekitar 3.000 orang “memberi diri mereka untuk dibaptis” dan “bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan, serta … berkumpul untuk memecahkan roti, dan berdoa” (lih. Kis 2:42).
Situasi sebaliknya dialami oleh para para petinggi agama Yahudi. Bagi mereka, kata-kata Yesus bahwa “sesudah tiga hari, Dia akan bangkit” (lih. Mat. 27:63), dipahami sebagai penyesatan pertama. Untuk melawannya, mereka menciptakan hoaks baru, karena takut terjadi penyesatan yang kedua, yaitu “pewartaan dari para murid Yesus mengenai kebangkitan Yesus Kristus”. Kata mereka, “penyesatan kedua ini akan lebih buruk akibatnya daripada penyesatan yang pertama” (lih. Mat 27:64).
Bagi kita, kebenaran kebangkitan, yang kita wartakan, menjadi kunci dan dasar kehidupan meng-Gereja. Inilah mengapa, Paulus (sebelum ada injil tertulis) selalu menekankan kebangkitan Kristus sebagai warta yang paling utama. Kebangkitan adalah dasar hidup iman dan keselamatan Kristiani. “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu, dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1 Kor 15:17).
Di sini, ditunjukkan bahwa melalui kebangkitan Yesus Kristus, dosa-dosa kita diampuni, dan kita diterima oleh Allah. Ada sebuah hidup baru, di mana orientasinya adalah anugerah rahmat Ilahi. Artinya, hidup kita tidak lagi dikuasai oleh kehendak kita semata, tetapi oleh gerak Allah. Melalui gerak Allah, yang secara bebas kita imani dan kita setujui ini, segala sesuatu yang kita lakukan, memiliki nilai Ilahi, artinya nilai penyelamatan abadi (lih. Rm 4:24-25). Iman akan kebangkitan membuat segala sesuatu yang kita pikirkan, rencanakan, dan lakukan, selalu terkait dengan kemuliaan Allah.
Inilah anugerah dan sekaligus tanggungjawab, yang mewujudkan sebuah kesatuan. Dua hal ini samasekali tidak terdapat dalam sebuah ‘hoaks’. Warta bohong selalu dengan mudah membuat apa, yang di awal sudah menyatu, berakhir dengan perpecahan. (Witdarmono).
DOA : “Ya Bapa yang Mahabenar, urapilah kami dengan Roh Kudus-Mu, sehingga kami selalu setia mewartakan Kabar Sukacita dengan berpangkal pada Sabda-Mu belaka”.
JANJI : “Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah”. Mazmur 16: 7-8
PUJIAN: Dalam pesannya pada Hari Komunikasi Sedunia th. 2018, Paus Fransiskus mengatakan, penyebaran berita bohong atau hoaks itu merupakan perbuatan setan. Ia mengimbau agar para jurnalis dan penggiat media sosial menghindari penyebaran berita palsu, yang memicu perpecahan, demi melayani kepentingan politik serta ekonomi tertentu. “Berita bohong adalah tanda sikap intoleransi dan hipersensitif, dan hanya akan menyebarkan arogansi serta kebencian. Itu adalah hasil akhir kebohongan,” kata Paus. Maka, lewat pendidikan kejujuran, Gereja wajib membantu siapa saja untuk memahami, mengevaluasi, dan memahami sebuah berita dan peristiwa secara lebih mendalam. Inilah cara menolak rayuan dan argumentasi Iblis. Diperlukan sebuah jurnalisme damai dalam arti, jurnalisme yang mampu memberikan alternatif di tengah hiruk-pikuk suara-suara kebohongan. Dasarnya adalah Sabda Yesus sendiri, “kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32).
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ