HUBUNGAN YESUS DAN BAPA
10 May 2022
Selasa, 10 Mei 2022
Santo Antonius, Uskup dan Pengaku Iman
Kisah Para Rasul 11-19-26
Mazmur 87:1-3.4-5.6-7
Yohanes 10:22-30
“Aku dan Bapa adalah Satu” --- Yohanes 10:30
PERMENUNGAN TENTANG ‘Aku dan Bapa’ adalah satu, -‘Kesatuan Yesus dengan Allah Bapa’ - sukar kita tangkap dan pahami dengan akan budi kita. Mulai dahulu, kesatuan Yesus dengan Allah Bapa, hanya dapat dijelaskan dengan gambaran-gambaran, dan perumpamaan-perumpamaan. Dan di sini relasi itu digambarkan dalam perumpamaan kopi.
Kopi-susu-manis dibuat dari tiga bahan. Yang pertama air panas, bubuk kopi itu sendiri, dan kemudian gula. Ketiga bahan ini adalah sebuah satu kesatuan dalam perumpamaan tentang secangkir kopi. Dalam Injil Yohanes harin ini, Yesus mengatakan bahwa Aku dan Bapa adalah satu, dengan maksud bahwa Yesus adalah bagian tak-terpisahkan dari Allah sendiri: bisa dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Satu hal yang dapat dimengerti, seperti dikatakan Paulus, bahwa seluruh kepenuhan Allah ada dalam diri Yesus (Kol 1:19; 2:9). Iman kita mengajarkan Yesus itu ‘ya Allah - ya Manusia’ - ber-matra ilahi dan insani-. Sebagai manusia Ia mengalami duka derita sama seperti kita. Ia senasib dan sepenanggungan seperti kita, kecuali dalam hal dosa (Ibr 4: 15). Inilah kekhasan dan kebangganaan iman kita. Yesus bukan sekedar manusia, tetapi Dia adalah ‘Firman Allah’ - yang selamanya bersama Allah sendiri, dan yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1: 1.14). Ia ingin menyertai kita. Karena cinta-Nya Ia menjadi manusia guna menebus kita. Yesus Kristus “tetap sama , baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Ia peduli kepada kita, menjaga dan memelihara diri kita. Totalitas hidup-Nya adalah bagi kita umat manusia. Jati-diri Yesus adalah ‘Kasih’ - menghayati kasih-Nya kepada kita-, Ia tidak bisa berhenti mengasihi kita, bagaimanapun kedosaan kita, sebab “Allah itu kasih” (1 Yoh 4:8). Ia juga mahasetia, sebab Tuhan Allah itu setia (1 Kor 1:9; 2 Tes 3:3). Karena cinta-diri kita, kebebalan kita, kita dapat menjadi tidak setia, tetapi Yesus “tetap setia, sebab Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya” (2 Tim 2:13).
Kalau doa-doa permohonan kita kepada-Nya kita rasa tak ditanggapi dan tak dijawab, janganlah kita marah kepada-Nya. Dia tahu apa yang kita butuhkan. Bisa saja Ia menunda pengabulan doa kita , atau menguji kesetiaan kita.
Yesus menghadirkan cinta Allah kepada kita semua. Artinya, apapun dan bagaimanapun keadaan kita, kita diterima oleh Allah, malah kita diangkat menjadi putera-putri-Nya dalam Yesus. Maka kitapun hendaknya menerima diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada. Kita perlu peduli, memelihara diri kita seutuhnya, baik roh, jiwa dan badan kita, tanpa jatuh ke ‘cinta-diri’. Dengan demikian kita pun lalu dapat meneruskan cinta kasih Yesus yang menyatu dengan Allah kepada sesama kita lewat sikap, kata dan kepedulian kita - menjadi ‘orang Samaria’ bagi sesama khususnya yang menderita dan tersingkirkan. (RK)
DOA: Bunda Maria, Mei adalah Bulan Bunda. Pujian, syukur dan permohonan kami kepadamu ,ya Bunda, hantarkan kepada Yesus Putera-mu, dan biarkan Yesus juga mengahangtar doa-doa itu kepada Bapa. Satukan semua bangsa kami - pilihan Putera-mu dalam kasih persaudaraan, agar kami dapat saling mengasihi satu sama lain.
JANJI : “Ya Tuhan, Kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan.” - Mazmur 36:6
PUJIAN: Bulan Mei - Bulan Bunda Maria. Banyak umat Katolik pergi berziarah ke gua-gua Maria, lebih-lebih di akhir pekan. Kebersamaan berziarah, mempersatukan dan menghangatkan relasi anggota keluarga, antar keluarga-keluarga di dalam Lingkungan. Ini mencerminkan kasih dan kesatuan “Bapa-Putera dan Roh Kudus”
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ