HUKUM TAURAT DIGENAPI OLEH HUKUM KASIH

23 March 2022

Rabu, 23 Maret 2022

Ulangan 4: 1, 5-9

Mazmur 147: 12-13, 15-16, 19-20

Matius 5: 17-19  

 

“Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat   atau kita para nabi, … melainkan untuk menggenapinya” !

Matius 5: 17

   

       HUKUM TAURAT – yang berupa ketetapan dan peraturan – telah disampaikan oleh Musa kepada umat Israel untuk dilakukan dengan setia. Juga diingat agar jangan sampai Hukum Taurat itu hilang dari ingatan dan dilupakan, Musa menegaskan agar “Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu-cicitmu semuanya itu!” (Ul 5:9). Dan pesan itu ditaati dan dilakukannya sampai zaman Yesus. Banyak orang yang melaksanakannya secara harafiah, seperti kelompok kaum Farisi. Ditambah lagi dengan tafsir-tafsir dari para ahli Taurat yang menjadi berbelit-belit serta menjadi beban umat.

                Jangan kaget kalau Yesus sebagai Guru yang mengajar dengan perbuatan dan teladan selalu diamat-amati, apakah Dia melanggar ketetapan dan peraturan agama selaras penafsiran mereka. Benar, Yesus hidup di bawah hukum Taurat yang kaku itu. Maka jangan kaget kalau kita sering menemukan peristiwa Yesus ‘berantem argumen’ dengan kaum Farisi dan ahli Taurat.

       Tetapi wafat dan kebangkitan Yesus menggenapi Hukum lama itu dan memulai  Hukum Baru yakni Hukum Kasih, yang jauh lebih sederhana. Sewaktu ada ahli Hukum Musa bertanya kepada Yesus, ‘hukum apa yang terbesar, Yesus menjawabnya, “Hukum Kasih” (Mat 22: 37-39). Dalam kesempatan lain Yesus bersabda, “Aku memberi perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu kalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13: 34-35).

       Sebenarnya mengikuti Yesus itu sederhana. Kita memenuhi perintah kasih dari Yesus, kalau kita mau :

  • melakukan apa yang baik hati atas nama Yesus;
  • memberi kata-kata yang membesarkan hati ;
  • kita mengampuni yang bersalah kepada kita baik sengaja ataupun tak sengaja, dan meminta maaf kalau kita yang salah;
  • bila masih muda, kita membantu orang yang lebih tua yang membutuhkan pertolongan;
  • bila sudah tua patutlah mendoakan tiap hari anak-anak kita;
  • kita sama-sama karyawan, kita mau mendengarkan keluh kesahnya, mau menyapa dan memberi perhatian kepada sesama.

     Tiap perbuatan kecil yang kita lakukan dengan  cinta  kepada Tuhan dan sesama kita, ini jauh lebih dasyat maknanya daripada ‘perbuatan besar’ yang kita lakukan tapi tanpa kasih.

     Yesus mengajar para rasul dan murid-Nya dengan teladan. Dengan teladan hidup, kita bisa membimbing orang kepada Yesus. Kita berusaha agar diri kita menjadi bait-bait Allah yang hidup menggenapi hukum kasih Yesus. Kita menunjukkan rasa hormat kepada orang-orang di sekeliling kita. (S.Widjojo).

 

DOA : “Ya Yesus. Saya junjung Perintah Baru-Mu,  Berilah budi dan hatiku sikap dan pikiran positif atas segala peristiwa dan terhadap semua orang yang kujumpai”.

JANJI: “Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya kepada Israel, Ia tidak  berbuat demikian kepada segala bangsa dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal” – Mazmur 147: 19-20

PUJIAN: Seorang Uztad mengatakan bahwa dirinya menangkap makna Salib yang menyilang ke atas dan ke samping. Katanya, yang ke atas saya artikan ‘kita berbakti dan cinta kepada Allah yang Esa dan yang ke samping itu saya artikan peduli dan cinta kepada sesama’.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.