IKATAN BATIN
20 October 2021
Rabu, 20 Oktober 2021
Roma 6:12-18
Mazmur 124:1-8
Lukas 12:39-48
“Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi … serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah, untuk menjadi senjata-senjata kebenaran”. Roma 6:13
“PUTERA MANUSIA DATANG pada saat yang tidak kamu sangkakan” (Luk 12:40). Itulah ciri yang diajarkan Yesus kepada para murid-Nya melalui perumpamaan ‘tuan dan hambanya’ itu.
Saat sang tuan mendadak datang, ternyata ada dua tipe sikap hamba yang dijumpainya:
Yang pertama, adalah hamba yang menyambutnya sebagai ‘tuan yang dinantikan sejak lama’.
Yang kedua, adalah hamba yang tidak siap, dan akhirnya sadar, tuannya datang sebagai ‘pencuri yang mengejutkan’.
Dua sikap berbeda tersebut mencerminkan dua bentuk relasi, yang oleh Lukas dipertajam melalui situasi penundaan kedatangan sang tuan.
Hamba yang pertama memiliki relasi kasih. Ia mengenal secara dalam pribadi tuannya, dan tahu seluruh concern-nya. Sebaliknya, hamba yang kedua samasekali tidak memiliki ikatan batin dengan tuannya. Maka ia tidak peduli, dan akhirnya, melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh tuannya (ay.45).
Masalah relasi dengan ‘sang tuan’ inilah yang paling penting: Kita harus tetap setia memelihara relasi kasih dengan Allah, sehingga setiap saat kita sudah siap menerima kedatanganNya.
Ingat, Dismas, yang menerima anugerah pertobatan saat disalib bersama Yesus, adalah kasus istimewa kerahiman Ilahi (Luk 23: 40-43). Kita tidak seistimewa St. Dismas. Lebih baik, sejak sekarang setia memelihara relasi kasih dengan Allah. Tidak perlu menunggu hingga datangnya ajal yang sering mendadak.
DOA: “Ya Allah yang Mahakasih, dengan kerendahan hati, kami menyerahkan diri kepada-Mu. Bantulah kami, agar selalu mampu memandang wajah-Mu dalam hidup kami sehari-hari”.
JANJI: “Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit, dan bumi”. Mazmur 124:8
PUJIAN: Dalam hidup St. Yohanes Paulus II (1920-2005), sekurang-kurangnya lima kali, ia nyaris mati. Yang terakhir adalah percobaan pembunuhan, yang dilakukan oleh Mehmet Ali A?ca saat ia menembakkan empat peluru pistol pada 13 Mei 1981 di Lapangan St. Petrus, Vatikan. Dalam setiap peristiwa itu, YP II selalu menyerahkan diri pada kerahiman Allah, terutama melalui pemerantaraan perlindungan Bunda Maria. YP II memang meneladani bangsanya sendiri, Polandia, yang dalam sejarahnya selalu menderita. Namun, mereka yakin, dengan tetap memelihara ikatan batin dengan Salib Yesus, penderitaan tersebut menjadi jalan keselamatan bagi mereka dan bangsa-bangsa lain. “Penderitaan adalah anugerah Ilahi bagi Gereja dan dunia. Hanya dengan memahami makna rohani penderitaan, seperti diungkapkan melalui penderitaan Yesus Kristus itulah, kita memperoleh harapan dan sukacita”, ungkap YP II.
Oleh: H. Witdarmono
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ