IKUT YESUS-JANGAN AJUKAN SYARAT
27 June 2022
Senin, 27 Juni 2022
Amos 2:6-10, 13-16
Mazmur 50:16-23
Matius 8:18-22
“Ikutlah Aku, dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”
Matius 8:22
Saat Yesus bersama murid-murid-Nya, mau menyebrang, datanglah dua orang mau melamar menjadi murid-Nya. Jawaban Yesus terdengar ‘judes’, tidak enak didengar, seakanakan Yesus menolak mereka berdua. Kepada yang pertama Yesus menanggapi, “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”. Dan kepada pelamar kedua-yang masih ingin jadi murid-Nya, tetapi dengan persyaratan yang sangat manusiawi: yakni, ‘minta pamit mau mengubur dulu orangtuanya yang baru saja meninggal’. Apa jawaban Yesus? “Biarlah orang-orang mati mengubur orang-orang mati mereka”.
Memang terdengar kata-kata Yesus ‘keras’, tetapi sebenarnya Yesus berbicara dengan penuh bela rasa dan bijak. Yang dimaksudkan tiada lain agar kedua calon murid ini ada dalam jalur motivasi yang benar. Terasa Yesus tidak berkenan kalau para calon murid-Nya menentukan syarat-syarat sebelumnya. Persyaratan itu dipandang sebagai hal yang menghambat guna menyerahkan diri mereka seutuhnya kepada Yesus. Tentu Yesus akan membantu para calon murid-Nya mampu mengatasi keterbatasan mereka yang sering mereka sendiri yang membatas-batasi. Ini sering terjadi dalam diri kita yang mau mengabdi-Nya, Yesus tetap memanggil dan mengundang kita untuk lebih dekat dan dekat dengan diri-Nya. Bisa saja dalam hal ini kita lalu ragu-ragu, takuttakut untuk melangkah maju; bisa saja -bukan ragu bukan takut- tetapi salah pengertian akan maksud panggilan Yesus. Yesus menghendaki bahwa sebenarnya tak ada batas sejauh mana kita bisa berjalan bersama- 114 SATU PERJAMUAN Nya. Bisa saja kita sendiri, yang memberi batasbatas dalam mengikuti panggilan-Nya. Tetapi kuasa kasih-Nya mampu menerobos pagar-pagar yang kita buat. Kasih-Nya tetap mampu menarik para murid dan calon murid-Nya semakin dekat dengan diri-Nya dan semakin rela para murid dan calonmurid melepas batas-batas dan syarat-syarat dalam mengikuti panggilan-Nya. Dan kita-kita -murid dan calon murid-Nya- akan mengalami sukacita semakin besar dan semakin merasa mantap dalam menanggapi pangggilan Yesus. (SW).
DOA “Ya Yesus, sinarkanlah terangmu ke dalam hati kami, dan tunjukkan kami jalan agar kami semakin dekat pada-Mu dan semakin mengenal kehendak-Mu sepenuhnya.”
JANJI “Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Allah; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.” Mazmur 50:23
PUJIAN Pendidikan untuk para calon imam lewat studi di Seminari. Awalnya Seminari Menengah menerima murid-murid tamatan SD, kemudian hanya menerima tamatan SMP dan sederajat yang diterima. Tetapi mulai awal abad ke-21 ini, karena semakin berkurangnya panggilan imamat di negeri-negeri Katolik di luar negeri, di Indonesia telah muncul tim-tim panggilan baik di kalangan Ordo dan Kongregsi maupun Diosesan. Yang dijaring para siswa tamatan SLTA dan tamatan Perguruan Tinggi, malah mereka-mereka yang sudah bekerja dan masih membujang. Dan dari mereka banyak yang kemudian dikirim ke luar negeri menjadi misionaris di daerah yang dulu katolik.