"INSYA ALLAH"
23 February 2022
Rabu, 23 Februari 2022
- Polikarpus
Yakobus 4: 13-17
Mazmur 49: 2-3, 6 – 11
Markus 9: 38-40
“Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup
dan berbuat ini dan itu”
Yakobus 4: 15
JANGAN KAGET, kalau umat kristiani Gereja Perdana biasa mengucapkan seperti apa yang ditulis oleh Santo Yakobus: “Jika Tuhan menghendakinya”. Dan Umat Kristiani Arab dalam bahasanya, mengatakan “Insya Allah”.
Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus Paulus-pun mengucapkan ungkapan yang sama. “ Aku akan segera datang, “kalau Tuhan menghendaki” (1 Kor 4:19). Makna ‘menghendaki ‘ sama dengan ‘mau’ ! Peristiwa orang yang sakit kusta menghadap Yesus karena ia percaya Yesus bisa menyembuhkannya. Ia berkata, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku”. Dan “Yesus menjamah orang itu dan berkata, ‘Aku mau, jadilah engkau tahir’. Seketika itu juga tahirlah ia’ “ (Mat 8: 2-3; Mrk 1: 41-42).
Kita tak perlu heran kalau saudara kita muslimin sering mengucapkan juga istilah yang sama, ‘Insya Allah!’
Ungkapan itu mengingatkan kita bahwa apa yang akan terjadi dan masa depan kita itu ada di tangan Tuhan. Bisa saja kita membuat perencanaan yang bagus sekali asal saja Allah-lah memang menghendakinya atau memberi kepastian terlaksananya, akan terjadi. Iman dan harapan terjalin menjadi satu, berwujud sikap pasrah kepada Tuhan ‘Berkenanlah ya Tuhan … Semoga Tuhan berkenan…’, ‘kalau Tuhan berkenan’. Maka tak salah kalau kita mengucapkan sikap percaya dan pasrah kita kepada Tuhan, yang penuh kuasa dan memelihara kita .
Tetapi ini tidak berarti pasrah yang pasif, melainkan pasrah yang aktif. Tuhan menghendaki kita mewartakan Kabar Gembira, Tuhan menghendaki kita mendirikan Kerajaan-Nya, selain berdoa ‘datanglah Kerajaan-Mu!’, Kita berusaha ! Umumnya orang-orang beriman yang bijak mengartikan bahwa kita tak perlu kawatir , cemas dan was-was: Tuhan yang memberi jaminan ‘apa yang akan terjadi’. Lihat saja bunga-bunga di kebun dan burung-burung di udara ciptaanNya, begitu Allah memeliharanya, apalagi kepada kita-kita mahkota ciptaan-Nya !
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita bekerja dan menunaikan tugas kita sebaik-baiknya, aktif terlibat dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, dan tetap menjaga kesehatan fisik dan mental kita. Tuhan sama sekali tidak menghendaki kalau semua tanggungjawab kita dalam melaksanakan ini semua lalu itu menjadi beban dan menghantui kegembiraan, kepercayaan kita akan “Inayat atau pemeliharaan ilahi-Nya.”
Rasa cemas dan was-was sama sekali tidak menolong kita dan juga sama sekali tidak perlu. Sebab rasa cemas seperti itu hanya merampas iman dan harapan dari diri kita dan menyedot energi dari diri kita. Yang Tuhan inginkan dari kita ialah agar kita menaruh penuh iman dan harapan kita pada-Nya dan mempercayakan apa yang terjadi di kemudian hari di tangan-Nya. Ia kehendaki juga agar kita dengan bebas dan sukacita dalam mengabdi-Nya dan jangan sampai kekawatiran duniawi membuat kita takut bertindak.
“Insya Allah” menjadikan kita untuk selalu berpaling kepada Tuhan dan percaya penuh akan ‘reksa-pemeliharaan-Nya’ ! (S.Widjojo).
DOA : “Bebaskanlah kami ya Tuhan dari segala rasa cemas dan was-was yang tak ada gunanya. Kami serahkan diriku seutuhnya pada rencana-Mu”
JANJI : “Jika seorang tahu bagaimana ia berbuat baik tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa!” – Yakobus 4: 17
PUJIAN: Salah satu topik dalam Bina Lanjut Kursus Evangelisasi Pribadi (Bina Lanjut KEP) ialah ‘discernment’. Peserta diminta dalam doa pribadi kepada Tuhan memohon kecerdasan persepsi akan kehendak Allah akan dirinya, dengan menyadari dan memahami pilihan-pilihannya serta bertindak menentukan pilihannya; atau juga meminta bantuan pembimbing agar tidak salah pilih akan kehendak-Nya.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ