INTI EKSORSISME: IMAN DAN DOA
21 February 2022
Senin, 21 Februari 2022
Yakobus 3:13-18
Mazmur 19: 8.9.10.15
Markus 9:14-29.
“Jenis roh (penyebab bisu dan tuli) ini tidak dapat diusir,
kecuali dengan berdoa”.
Markus 9: 29
SERING SEKALI, dalam upaya menyelesaikan masalah berat, kita berkonsultasi seperti “orang banyak yang mengerumuni para murid Yesus, dan para ahli Taurat” (Mrk 9: 14). “Ternyata hal itu sering gagal”, begitu yang tersirat dari kritik Yesus. “Mengapa? Karena kita abai memakai jalan iman untuk mengatasi masalah”.
Masalah yang dihadapi oleh ayah anak, yang kerasukan roh jahat bisu-tuli itu (ay. 17. 24), memang istimewa. Manifestasi roh itu sangat dahsyat. Sejak kecil, ia membuat anak itu bisu dan tuli, mulut berbusa, gigi gemeretak, tubuh kejang dan bergoyang-goyang; roh itu bahkan sering menyeret anak itu ke api dan air, untuk dibinasakan. Ketika berhadapan dengan Yesus, secara tuntas roh jahat itu diusir-Nya: “Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari anak ini, dan jangan memasukinya lagi!” (ay.25).
Yesus menyebut roh jahat bisu-tuli itu sebagai ‘jenis khusus’, yang tidak dapat diusir, kecuali dengan iman dan berdoa (ay. 29, cf. ay. 19 dan 24). Mengapa?
“Dalam tradisi eksorsisme, setan adalah “pendusta dan bapa segala dusta” (lih. Yoh 8:44; juga Kis 5:3). Maka, ketika ia dipaksa untuk bicara dan menyebutkan namanya—dan itu sering dihindarinya--, setan pun merasa mulai ditaklukkan. Baginya, kekalahan terjadi, ketika Allah memerintahkannya untuk mengungkapkan identitasnya,” kata Romo Gabriele Amorth, SSP (1925-2016), imam eksorsis Keuskupan Roma. “Karena itu, dalam ritus resmi eksorsisme Katolik, perintah pengusiran selalu didahului dengan identifikasi roh jahat: “dicas mihi nomen tuum, diem, et horam éxitus tui, cum áliquo signo!” (Katakan padaku dengan tanda tertentu, namamu, hari, dan jam keluarmu!). Dalam perikop Markus 9:14-29 itu, roh bisu-tuli itu menjadi ‘istimewa’, karena ia tidak dapat diidentifikasi secara biasa. Jenis roh jahat semacam itu, hanya bisa diusir dengan iman dan doa”, ungkapnya.
Iman sejati yang disertai doa (lih. Mrk 11:22-24) merupakan inti eksorsisme. Iman itu bukan alat mekanis pengusiran setan. Iman adalah sikap menyerahkan dan mengandalkan diri sepenuhnya pada kehendak, rencana, tangan, dan karya Allah. Maka, iman itu harus selalu disertai dan dipelihara dengan doa. Tanpa doa, iman tidak akan efektif. Inilah pula yang ditekankan oleh Paus Fransiskus dalam beberapa khotbah terkait dengan pergolakan dunia dan Gereja, September dan Oktober 2018 lalu.
“Jangan memakai logika ‘si Pendusta Besar’, tetapi pakailah kekuatan doa, penyerahan kepada Yesus, kerendahan hati, serta kedekatan yang tanpa putus dengan umat. Logika si Pendusta Besar adalah selalu menuduh dan mendakwa ‘yang lain’ (lih. Why. 12:10),” ungkap Paus Fransiskus. Pesan Paus itu menggemakan kembali seruan warta pertama Yesus pada Mrk 1:15: “Bertobatlah dan percayalah pada Injil”. Artinya, dalam menghadapi berbagai masalah yang mustahil kita selesaikan sendiri—apalagi yang terkait dengan kuasa roh jahat—, mulailah selalu dengan pertobatan! (Witdarmono)
DOA : “Tuhan yang Mahakuasa, anugerahilah kami dengan iman yang kokoh, dan pertobatan yang tulus. Itu saja yang kami mohon”.
JANJI: “Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya;
hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya”.
Mazmur 19:10
PUJIAN: Tantangan katekese saat ini adalah berhadapan dengan generasi ‘zaman now’. Menurut survei, generasi itu memiliki ciri, antara lain (1) tidak suka produk massal, sukanya yang produk artisan, (2) gampang terdistraksi, (3) kecanduan e-dagang, (4) fokus kalau sudah ada mau, (5) selalu mempertanyakan, (6) kecanduan medsos, (7) pemalas, (8) tapi kreatif, (9) cari yang instan, dan (10) gampang menularkan pengaruhnya ke orangtua. Lalu, bagaimana katekese kepada mereka, secara khusus bagaimana mengkomunikasikan dan meyakinkan bahwa “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan”, seperti ditulis pada Amsal 1:7 ? Tak cukup halaman ini untuk membahasnya di sini. Mari kita jadikan PR.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ