IRI HATI
19 September 2021
Minggu, 19 September 2021
Minggu Biasa XXV
Kebijaksanaan 2:12, 17-20
Mazmur 54:3-4, 5, 6, 8
Yakobus 3:16-4:3
Markus 9:30-37
“Di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Yakobus 3:16
MAZMUR 54 dari Daud, merupakan ungkapan ketakutannya terhadap Saul, yang karena dikuasai oleh iri hati, terus mengejar Daud untuk membunuhnya. Ketakutan Daud makin besar, karena orang-orang Zif secara detil telah melaporkan kepada Saul, keberadaan Daud di wilayah mereka. Mereka bahkan bersedia menangkapnya (1 Sam 23:19-20; Mzm 54:2). Karena itulah Daud menjerit minta pertolongan Yahwe: “Ya Allah, selamatkanlah aku, … berilah keadilan kepadaku … dengarkanlah doaku, … Sebab orangorang yang angkuh bangkit menyerang aku, orangorang yang sombong ingin mencabut nyawaku; mereka tidak mempedulikan Allah” (Mzm 54:3-5).
Iri hati memang selalu membuat kekacauan sosial (Yak 3:16). Dari iri hati, muncul hawa nafsu yang saling bertentangan, pertengkaran dan perkelahian yang terus menerus, dan akhirnya saling bunuh (Yak 4:1-3).
Bibit-bibit iri hati itu pulalah, yang menjalar di kalangan para murid Yesus, saat mereka, di tengah jalan menuju Kapernaum, bertengkar mengenai “siapa yang terbesar di antara mereka” (Mrk 9:33- 34). Dan, Yesus, tanpa membuang waktu agar tidak terjadi perkelahian di antara para murid-Nya, segera memanggil mereka. Ia mendudukkan “seorang anak kecil (Yun. Paidíon), dan menempatkan di tengah-tengah mereka” (Mrk 9:36).
Paidíon adalah istilah Bahasa Yunani untuk anak kecil di bawah usia 7 tahun. Dalam budaya Yahudi, status mereka paling rendah dan tidak penting. Mereka sering diperlakukan seperti budak; tak punya kuasa atau status sosial, tak pernah duduk di atas, dan harus selalu di bawah. Namun, Yesus justru menempatkan paidion itu di ‘tengah’, di ‘pusat’ penyambutan. Anak itu bahkan dipeluk-Nya. Yesus menyamakan anak itu dengan Diri-Nya sendiri.” Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku” (Mrk 9:37).
Corak pertengkaran anta rmurid Yesus, terkait adanya saling iri hati dalam berjuang menjadi yang terbesar, juga bisa terjadi dalam kehidupan Gereja masa kini. Misalnya, ada beberapa komunitas gerejani yang sangat berambisi menjadi yang terbesar dan paling sempurna. Biasanya ambisi tersebut berakhir dengan sebuah situasi, di mana umat Allah menjadi obyek manipulasi, demi kebesaran nama komunitas atau paroki.
Jelas ini bukan yang dikehendaki oleh Kristus.” Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya, dan pelayan dari semuanya” (Mrk 9:35). Itu saja. (WIT)
DOA: “Ya Allah yang Mahakasih, hantarkanlah kami untuk selalu percaya dan mengandalkan kekuatan pertolonganMu. Peringatkanlah kami, ketika menjadi sombong karena mengandalkan kemampuan sendiri, sebab dari kesombongan itu muncul iri hati. Berilah kami rahmat untuk selalu mengasihi sesama.”
JANJI: “Sesungguhnya, Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku.” Mazmur 54:6
PUJIAN: Ini kisah mengenai sebuah gedung gereja, yang memiliki arsitektur unik penuh makna, dan diyakini membuat orang yang berdoa di dalamnya, merasa damai. Banyak yang datang melihat dan masuk ke gereja itu. Semua kagum. Tetapi, itu terjadi beberapa tahun lalu. Kini, gereja itu ‘sepi’. Makna khususnya redup, karena tetap tersimpan dalam bangunan fisik. Tidak ada ‘roh’, yang keluar dari maknanya yang khusus. Orang pun bilang, gereja itu kurang menjadi sebuah ‘rumah doa’.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ