JADILAH RENDAH HATI

16 October 2024

Rabu, 16 Oktober 2024

Galatia 5: 18-25

Mazmur 1:1-2.3.4.6

Lukas 11 :42-46


"Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar." --- Lukas 11:43


FATHUL WAHID adalah rektor Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta yang ramai menjadi perbincangan seantero negeri karena keutamaan sikap "kerendahan hatinya" hingga ditulis di harian kompas 20 Juli 2024. Ia meminta kepada civitas akademi, sahabat dan seluruh masyarakat agar tidak memanggilanya lagi dengan sebutan "Prof" dalam setiap perjumpaannya, kecuali untuk penulisan ijazah. Untuk keperluan tersebut ia telah membuat surat edaran agar pemanggilan Professor pada dirinya dihentikan, tujuannya adalah menguatkan atmosfer kolegial dan agar banyak pihak tidak mengejar gelar tersebut dengan menghalalkan segala cara. Panggil saja: Fathul, dik Fathul, Mas Fathul, pak Fathul. Maturnuwun, demikian tulisnya.

Cerita berbeda datang dari seorang sahabat di Jawa Timur, ia bercerita bagaimana di lingkungan rohaninya, sahabat yang dahulu dipanggil pak "X" kini namanya berubah menjadi Prof, hal itu karena bapak tersebut memperoleh gelar Professor dari perguruan tingginya, kini di lingkungan gerejanya, ia tidak lagi dipanggil pak "X" tetapi dipanggil "Prof". Para ahli kitab suci telah menggarisbawahi dua sabda Yesus yang tak terpisahkan, yaitu "sabda bahagia" dan "sabda celaka" yang sangat terkenal itu, dan hari ini Yesus mengeluarkan sabda celaka untuk kita renungkan bersama.

Yesus bersabda : "Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar" (bdk Luk 11 :43). Ucapan Yesus ini sangat keras, Ia menentang orang-orang Farisi yang "gila hormat", dan ternyata apa yang disabdakan oleh Yesus 2000 tahun yang lalu, sampai saat ini masih terjadi dan menjadi sabda yang sangat relevan di zaman ini.

Sabda celaka ini seolah menjadi panah yang menusuk nurani kita, manakala kita dengan pongahnya menuliskan gelar Doktor, Master, dan lain­ lain di pintu masuk rumah kita, bahkan di media sosial. Sabda celaka ini juga menjadi pukulan telak terhadap nurani kita yang mengejar kekayaan dengan menghalalkan segala cara untuk menaikkan status sosial dan mengejar kehormatan di mata masyarakat.

Hari ini Yesus mengajak kita untuk bersikap rendah hati, tidak gila hormat. Sebab ketika kita ingin dihormati, sesungguhnya kita lupa bahwa pencapaian yang telah kita peroleh adalah berkat campur tangan Tuhan dan anugrah dari-Nya. Bukankah ketika kita mengikuti ujian kesarjanaan, master, doktor, pada saat itu kita dapat mengikutinya karena kita mendapatkan anugrah kesehatan dari Allah yang telah menciptakan kita? Bukankah ketika kita menjadi kecukupan dan berkelimpahan sandang, pangan dan papan adalah anugrah dari-Nya? Lalu apakah kita menyadari semuanya itu? Kalau kita menyadari semuanya itu bersumber dari Allah maka tidak ada lagi alasan bagi kita untuk gila hormat, sebab semua yang kita miliki di dunia ini adalah sementara dan fana sifatnya, artinya bahwa kita semua akan mati dan tidak membawa apapun saat Tuhan memanggil kita.

Dengan sabda celaka ini, kita disadarkan untuk bersikap rendah hati, melihat diri kita dan semua orang adalah setara dimata Tuhan. Kita disadarkan bahwa gelar yang mentereng, kekayaan yang membuat kita dihormati sejatinya semuanya bukan semata-mata hasil kerja keras kita tetapi terdapat campur tangan Allah didalamnya dan seharusnya kita percaya bahwa semua itu adalah berkat dan anugrah dari-Nya yang bersifat sementara.

Yesus menghendaki agar kita tidak menjadi manusia-manusia yang celaka, yang gila hormat. Yesus menghendaki agar kita selalu dan senantiasa bersikap rendah hati, maka niscaya panggilan kita sebagai murid-Nya dapat terpenuhi. (Siswoyo Nugroho)

 

DOA: "Ya Yesus, terimakasih karena Engkau telah mengajarkan kepada-ku sikap rendah hati. Semoga dengan bimbingan Roh Kudus-Mu, sikap itu dapat terus kupertahankan di sepanjang hidup-ku, Amin."

JANJI: "Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." - Mazmur 1:3

PUJIAN: Margareta Maria Alacoque (bahasa Prancis: Marguerite-Marie Alacoque) (22 Juli 1647 - 17 Oktober 1690) adalah seorang biarawati asal Prancis. Setelah menerima komuni pertama pada usia 9 tahun, ia sering melakukan matiraga secara diam-diam. Sejak remaja, ia mempraktekkan devosi kepada Sakramen Mahakudus di altar. Ia menolak untuk pernikahan. Tahun 1671 ia bergabung menjadi biarawati Ordo Suster-suster Visitasi. Ia ikrarkan kaul pertama tahun 1672. Sejak berumur 20 tahun, ia mengalami visiun (penglihatan) akan Kristus. Pada 27 Desember 1673 ia menerima rentetan 'wahyu-wahyu' dari Kristus dalam tenggang waktu satu setengah tahun. Kristus menyampaikan kepada Sr. Margareta bahwa ia dipilih oleh Kristus untuk menyebarkan devosi kepada Hati Kudus Yesus. Kristus meminta kepada Sr. Margareta supaya cinta-Nya kepada umat manusia dimaklumkan secara nyata. Pada Maret 1824, ia diangkat sebagai Venerabilis oleh Paus Leo XII. Pada 18 September 1864, ia dibeatifikasi oleh Paus Pius IX. Pada tahun 1920, ia dikanonisasi oleh Paus Benediktus XV.

Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.