JALAN YANG BENAR
21 June 2022
Selasa, 21 Juni 2022
St. Aloisius Gonzaga
2 Raja-raja 19:9b-11, 14-21, 31-35a-36
Mazmur 48:2-3a, 3b-4, 10-11
Matius 7:6, 12-14
“Masuklah melalui pintu yang sempit ... karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”
Matius 7:13-14
TEPATLAH Bila perjalanan hidup St. Aloisius Gonzaga (1568-1591) ditafsirkan dengan teks Mat. 7:13-14. Aloisius adalah orang muda yang setia pada satu tuan (bdk. Mat. 6:24). Sebagai sulung dari keluarga Gonzaga yang kaya, ia diharapkan meneruskan kebesaran nama keluarga, yaitu menjadi perwira militer. Untuk itu, ia dikirim ke Florentia untuk belajar Bahasa Latin sebagai 88 SATU PERJAMUAN persiapan menjadi orang ‘besar’. Zaman itu kota tersebut telah menjadi pusat perdagangan, keuangan, pendidikan, dan khususnya pusat kesenian. Keluarga Gonzaga telah membuka lebarlebar pintu masa depan yang sangat cerah bagi Aloisius muda.
Namun, penyakit ginjal yang dideritanya membuat Aloisius tidak bisa menjadi public figure. Sambil beristirahat—mirip Ignatius dari Loyola--, ia membaca karya-karya para imam Yesuit di India. Mungkin, masih dalam angan-angan warna kemiliteran, Aloisius melihat sebuah pintu sempit dalam gerak kemiliteran rohani para misionaris tersebut. Pintu sempit itu membawanya kepada kehidupan baru; ia ingin bergabung dengan mereka.
Aloisius kemudian mempersiapkan diri dengan mengajar katekismus untuk kaum miskin dan anak-anak terlantar. Ia juga banyak berpuasa dan bermatiraga, karena sadar, dirinya akan memasuki pintu yang sempit, yang penuh pengorbanan melepas semua kelekatan.
Namun, niat Aloisius bergabung dengan para imam Yesuit itu, ditentang oleh seluruh keluarganya. Mereka baru setuju, setelah Aloisius menyerahkan seluruh hak istimewa dan kewajiban kebangsawanannya kepada adiknya, Ridolpho. JUNI 2022 89 Demikianlah, setelah melepaskan kelekatan duniawinya, dan tanpa andalan materi satupun, pada 1585, Aloisius memasuki biara Yesuit, ‘pintu sempit’ dan ‘lubang jarum’ Kerajaan Sorga.
Pengabdiannya pada Yesus, Tuan-nya yang baru, dilakukan dengan tuntas. Saat Kota Roma dilanda wabah penyakit, Aloisius bekerja membantu mereka yang sakit. Ia pun terkena wabah itu; ia meninggal dunia pada tahun 21 Juni 1591 dalam usia 23 tahun. Ia belum ditahbiskan sebagai imam. Namun, Aloisius telah memilih yang benar, yaitu ‘barang yang kudus’ dan ‘mutiara’ kebenaran Kabar Gembira Yesus Kristus beserta misteri keselamatan Kerajaan Allah (lih. Mat.7:6).
Oleh Paus Benediktus XIII (1650-1730) dan Paus Pius XI (1857-1939), St. Aloisius Gonzaga dijadikan pelindung para orang muda. Ia menjadi teladan keberanian seorang muda untuk meninggalkan segala kelekatan hidup, yang secara normal ada pada setiap orang muda, karena itulah topangan hidupnya saat bertumbuh dan berkembang.
Namun, St. Aloisius juga menjadi teladan bagi kita semua, sebab dia adalah orang mengutamakan ‘kebenaran Ilahi’ (lih. Mat. 6:33). Kitab Kebijaksanaan Salomo menulis: “Orang benar akan mendapat istirahatnya, meskipun mati sebelum waktunya. 90 SATU PERJAMUAN Usia lanjut adalah terhormat bukan karena waktunya panjang dan bukan karena tahunnya berjumlah banyak; tetapi, pengertian orang adalah uban, dan hidup yang tak bercela merupakan usia lanjut” (Keb. Sal.4:7-9). (WIT).
DOA “Di hadapan-Mu, Tuhan yang Mahapengasih, kami menyerahkan hidup kami. Tuntunlah kami dalam jalan yang benar seturut kehendak-Mu.”
JANJI “Kami mengingat, ya Allah, kasih setia-Mu di dalam bait-Mu” Mazmur 48:10
PUJIAN Saat ini, di Indonesia belum ada penelitian mengenai dampak pandemi Covid-19 terhadap panggilan imamat, khususnya di tingkat seminari. Namun, di Filipina sudah mulai ada penelitian mengenai dampak Covid-19 bagi panggilan imam. Beberapa ordo dan tarekat melaporkan adanya penurunan. Dalam situasi pandemi ini, banyak yang harus menunda pembinaan, karena adanya prasyarat interaksi tatap muka dan ‘penyaringan’, yang membutuhkan kehadiran fisik. JUNI 2022 91 Dalam pembinaan para seminaris, pertemuan atau kelas online tidak bisa diberlakukan sepanjang waktu, begitu pesan para Uskup. Dalam pendidikan dan ‘pembentukan’ imamat, masih diperlukan ‘pilar’ pendampingan pribadi dalam konteks komunitas. Situasi ini menjadi tantangan untuk masa depan Gereja.