JAMU PAHIT DARI YESUS
20 November 2020
Jumat, 20 November 2020
Wahyu 10:8-11
Mazmur 119:14.24.72.103.111.131
Lukas 19:45-48
“Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku, ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya.”---Wahyu 10:10
SABDA TUHAN itu selalu menyelamatkan. Ia manis, sehat, dan berfaedah seperti madu, demikian tafsiran Wahyu 10:10. Namun, ketika harus disampaikan kepada jemaat, ia bisa menjadi sesuatu yang pahit, seperti jamu asli.
Rasa pahit itulah, yang ditunjukkan oleh Yesus saat “menyucikan Bait Allah” (Luk 19:45-48). Inilah satu-satunya perikop di mana Yesus memakai kekuatan fisik. Kenisah dibersihkan karena dipakai untuk memeras orang miskin. Mereka diperas oleh para penukar uang guna menyumbang Bait Allah di atas kewajaran. Jenis perampokan ini sangat menghina Allah, dan harkat sesama, yang ingin bersyukur pada Yang Ilahi.
Yesus membersihkan Bait Allah dengan mengutip pernyataan nabi Yesaya dan Yeremia. “Rumahku adalah rumah doa (Yes 56:7). Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun (Yer 7:11).”
Dengan ini, Yesus ingin memurnikan ibadah umat. Disiplin kepada Allah harus ditegakkan, karena di situlah letak kesucian. Ibadah adalah panggilan Allah bukan ritus buatan manusia.
Di sinilah sering terjadi perbedaan persepsi. Surat Ibrani mengatakan: “Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” (Ibr 12:10).
Kekudusan Allah inilah yang menjadi kriteria ibadah kita, bukan kekudusan atau kesombongan diri maupun kelompok, dalam memenuhi berbagai ritus. Penentu ibadah adalah keterbukaan hati kepada Allah. Itu saja. (WIT)
DOA : “Ya Tuhan yang Mahabaik, saat pandemi Covid-19 ini, kami tidak lagi bisa mengunjungi-Mu di gereja, tempat Sakramen Mahakudus ditahtakan. Tolonglah kami agar selalu mampu melihat kehadiran-Mu di dalam keluarga kami. Jadikanlah kami jujur terhadap diri kami sendiri”.
JANJI: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah, dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” -– 1 Korintus 3:16
PUJIAN:Dalam homili, 17 April ‘20 lalu, Paus Fransiskus mengatakan, misa, doa, dan kegiatan iman secara online itu, baik. Namun, itu bukan Gereja. Relasi kita dengan Yesus itu bercorak intim, pribadi, dan dilaksanakan dalam perkumpulan jemaat (Yun. ekkl?sía) yang riil. Kedekatan kita dengan Yesus tanpa komunitas, tanpa Ekaristi, tanpa umat Allah yang berkumpul, itu bisa berbahaya. Orang kemudian akan hidup dalam relasi dengan Allah, hanya untuk dirinya sendiri, tanpa menyatukan diri dengan Umat Allah. Dalam sejarah Gereja, hampir semua ibadah muncul karena fokus pada diri sendiri, dan mengabaikan kepercayaan akan “Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik”, dari Syahadat Panjang (Nicea-Konstantinopel).
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ