JANGAN MEMANDANG RENDAH ORANG LAIN
16 September 2021
Kamis, 16 September 2021
St. Cornelius dan Siprianus
1 Timotius 4:12-16
Mazmur 111:7-10
Lukas 7:36-50
“Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” Lukas 7:39
“TETAP SEMANGAT, meski kadang orang lain memandang kita sebelah mata”. Kalimat motivasi ini sering diucapkan kepada orang yang sedang menghadapi persoalan dikucilkan atau dipinggirkan oleh para relasinya. Entah apa masalahnya, bisa jadi disebkan oleh faktor usia yang terbilang masih muda atau karena faktor kurangnya pengalaman hidup.
Seorang anak muda bisa saja berhasil dalam dunia usaha ataupun dalam pelayanan. Hal itu tergantung dari perilaku dirinya yang baik, melalui sikap, tutur kata, tingkah laku maupun juga teladannya bagi orang lain. Ini cocok seperti apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus kepada Timotius, muridnya yang masih muda.” Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Tim 4:12).
Bagaimana dengan mereka yang pernah ‘cacat’ di mata orang lain karena masa lalunya kurang baik? Apakah mereka dapat menjadi teladan bagi orang lain?
Dalam Injil dikisahkan, seorang perempuan berdosa datang kepada Yesus dengan penuh penyesalan dan dengan iman yang teguh (Luk 7:37- 38). Yesus sama sekali tidak memandang rendah perempuan tersebut, malah Ia mengampuni dosanya. Berbeda dengan sudut pandang orang Farisi (Luk 7:39) dan kita sendiri. Kita sering merasa diri sebagai orang yang paling benar sehingga mudah menghakimi orang lain, tanpa tahu duduk perkaranya. Kita sombong. Kita menganggap diri kita jauh lebih suci.
Tetapi kenyataannya, setiap kita adalah orang berdosa, dengan dosa yang berbeda. Maka pada awal Ekaristi, agar kita pantas merayakannya, kita menyatakan ‘Tobat’ kita bersama, dengan Doa ‘Saya Mengaku…’ dan diteruskan dengan ‘Tuhan Kasihanilah kami…’
Jadi, mengapa kita harus memandang rendah orang lain? Kita sendiri juga banyak kesalahan.
Marilah sebagai orang yang percaya dan takut akan Tuhan, mengikuti jejak ‘wanita yang berdosa itu’ yang menyesal dan bertobat, dengan menyuci dan menciumi kaki-Yesus’, sebagai tanda rasa tobat yang mendalam. Kita akan mendengar sabda Yesus, ‘dosamu telah diampuni’. PengampunanNya membawa kita ke kerendahan hati sampai kita tidak lagi akan ‘memandang rendah orang lain’. (LP)
DOA: “Ya Tuhan, ampunilah aku bila pernah memandang rendah orang lain. Bimbinglah aku agar dapat berperilaku baik dan benar seturut kehendak-Mu.”
JANJI: “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selama-lamanya.” Mazmur 111:10
PUJIAN: Hari ini kita peringati Santo Kornelius dan Siprianus dari Kartago (253). Ada kisah yang melatar belangkainya. Kaisar Decius menganiaya orang-orang Kristen sehingga menyebabkan beberapa orang murtad. Orang Kristen, di bawah Novatnus yang setia memandang rendah mereka dan bersikap keras terhadap yang murtad. Paus Kornelius menyelenggarakan sebuah Konsili. Di situ para uskup membuat peraturan untuk penerimaan kembali orang-orang murtad tersebut. Novatianus tetap menolak memberi pengampunan dan tidak menerima orang-orang murtad tersebut. Santo Siprianus dari Kartago berupaya menyatukan mereka melalui kuasa para uskup. Ia sangat mendambakan persatuan dalam Gereja Kristus.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ