JANGAN MEREMEHKAN ORANG LAIN

13 March 2023

Senin, 13 Maret 2023

2Raja-Raja 5:1-15a

Mazmur 42:2,3; 43:3,4

Lukas 4:24-30


“Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” --- Lukas 4:24


SUATU KETIKA seorang menteri bercerita bahwa Sang Presiden berkata kepadanya : “Pak menteri, jangan mengajari saya soal kemiskinan, saya mengalami sendiri hingga tiga kali digusur dari bantaran kali Anyar Solo”. Itulah petikan singkat percakapan seorang Presiden dengan menterinya yang diceritakan kembali oleh salah seorang menterinya. Kisah nyata sang Presiden yang kehidupan masa kecilnya sangat miskin itu telah dibuatkan film-nya dan diputar di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia, dan kini orang yang kehidupannya sangat miskin dimasa yang lalu itu tidak lain adalah Presiden kita yaitu Bapak Joko Widodo. Sang menteri yang sedang diundang dalam sebuah acara tersebut lalu melanjutkan ceritanya: “anda tahu apa pekerjaan ayah saya, beliau adalah supir bus, ibu saya tidak lulus SD, anaknya 5, tapi adik-adik saya Phd (doktor/S3). Sang menteri lalu melanjutkan, jadi pesan saya adalah: “jangan meremehkan orang lain”. Yesus telah membuat banyak mujizat di seluruh Israel, menyembuhkan orang sakit bahkan membangkitkan orang mati, hal itu dilakukan-Nya karena iman mereka kepada Yesus. Namun ada satu kota dimana Yesus tidak mau membuat mujizat, kota itu adalah kota kelahiran-Nya sendiri yaitu Nazaret. Mengapa Yesus tidak membuat mujizat di Nazaret? Mereka meminta Yesus membuat mujizat bukan karena iman namun karena ingin menguji Yesus sebab mereka tidak percaya kepada Yesus dan meremehkan-Nya, hal itu terjadi karena mereka telah mengenal Yesus sejak masih kanak-kanak. Kita sering melihat seseorang dari penampilan fisik, dari asal usul dan menganggap orang yang kita kenal sejak lama akan sama dengan saat ini, kita lupa bahwa setiap manusia bisa mengalami perubahan setiap harinya karena bertumbuh dan berkembang setiap detiknya. Yesus ditolak ditempat asalnya menjadi bukti bahwa Yesus yang dulu masih kanak-kanak dan belum bisa berbuat apa-apa adalah Yesus yang mereka pandang sebagai Yesus yang sama yang mereka lihat saat ini, karena itu sulit bagi mereka untuk menerima Yesus. Kita diajak oleh Yesus untuk mau menerima sesama tanpa memandang rendah orang lain. Sapalah mereka yang sering kita jumpai setiap hari, tukang sampah, pemulung, tukang kayu dan lain-lain, dengan demikian kita telah menerima mereka didalam hati kita sebagai ciptaan Allah yang derajatnya sama dengan kita. Kita tidak akan pernah menyangka bila di kemudian hari kelak anak mereka mungkin akan menjadi presiden kita, dan itu sudah terbukti saat ini, bahwa presiden kita adalah bapak Jokowi yang dahulu kala adalah salah satu dari antara mereka yang miskin dan terpinggirkan. (SIS).

DOA: “Tuhan Yesus, tumbuhkanlah cintaku kepada sesama agar aku tidak memandang remeh orang lain, menerima mereka sebagaimana aku selalu menerima-Mu ya Tuhan didalam hatiku. Amin.”

JANJI: “Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!” Mazmur 43:3

PUJIAN: Seorang anak dibesarkan di sebuah rumah yatim piatu. Yayasan yatim piatu tersebut memberikan pendidikan kepadanya hingga ia lulus SMA. Setelah lulus SMA, ia bekerja sehingga dapat membiayai kuliahnya hingga lulus sarjana. Kini ia telah menjadi seorang direktur utama sebuah bank swasta. Ia yang dahulu miskin kini menjadi donatur utama bagi yayasan yatim piatu tersebut.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.