JANGAN MUDAH MENGHAKIMI
11 September 2020
Jumat, 11 September 2020
1 Korintus 9:16-19, 22b-27
Mazmur 84:3, 4, 5-6, 12
Lukas 6:39-42
“Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” ---- Lukas 6:41
DALAM MENILAI BERSIKAP OBJEKTIF suatu kejadian, dibutuhkan wawasan luas dan obyektif. Hal ini memang tidaklah mudah. Rasa suka-tidak suka menyebabkan seseorang bersikap kuang atau malahan tidak objektif. Apalagi kalau ada usnsur untung-rugi. Hal itulah yang bisa berpotensi menyebabkan perubahan cara-pikir dan sikap objektif menjadi subjektif. Kita menilai berdasarkan dugaan, asumsi yang salah, dan perasaan pribadi.
Menilai orang lain lebih mudah daripada menilai diri sendiri. Ketika diminta menilai orang lain, ada kecenderungan untuk lebih banyak menemukan kekurangan daripada kelebihan. Akan tetapi, ketika diminta menilai diri sendiri, kerap terjadi sebaliknya, yakni kesulitan menemukan kekurangan dalam diri sendiri. Ada peribahasa “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak.” Sama juga seperti perumpamaan Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi: “Mengapa engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” (Luk 6:41).
Teguran dalam Injil hari ini ditujukan kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang sedang mencari alasan untuk mencela Yesus. Selumbar (tampuk, serpihan jerami yang kecil) yang diibaratkan sebagai kesalahan kecil, dijadikan alasan menyalahkan Yesus karena menyembuhkan orang pada hari Sabat (Luk 6:7). Mereka merasa diri mereka sebagai orang yang paling benar di hadapan Allah karena selalu memegang adat istiadat dan hukum Taurat.
Bagi mereka, Yesus yang dianggap orang-orang sebagai Guru berwibawa lebih dari orang Farisi dan ahli Taurat merupakan ancaman bagi wibawa dan kedudukan mereka sebagai guru umat Israel. Rasa tersaingi dan iri hati membuat mereka tidak mau melihat kebenaran yang disampaikan Yesus. Ini membuat mereka buta akan kebenaran. Tepat kalau dikatakan ahli Taurat dan Farisi, sebagai guru umat, seperti orang buta yang menuntun orang buta, sehingga semakin terperosok ke dalam kesesatan.
Sebagai anak-anak Allah, hidup Bersama dalam pelayanan dan dalam berkomunitas, jangan sampai kita mudah menghakimi orang lain. Kita harus menjunjung tinggi prinsip ‘praduga tak-bersalah’, nilai keobyektifan, mohon rahmat hikmat dalam berdiskresi, menjauhkan diri dari ‘asumsi pendek dan dangkal’. (TON)
DOA: Yesus, jadikanlah aku pribadi yang selalu rendah hati, mudah mawas diri, dan tidak mudah menyalahkan orang lain.
JANJI: “Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai, kasih dan kemuliaan Ia berikan, Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.” ---- Mazmur 84:12
PUJIAN: Fritz selalu meminta maaf secara langsung jika merasa bersalah kepada orang lain. Dan setelah itu, ia akan menyambut Sakramen Tobat. Ia lalu merasa lega dan percaya terbebas dari dosa.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ