JANJI HATI
15 June 2024
Sabtu, 15 Juni 2024
1Raja-Raja 19:19-21
Mazmur 16:1-2a.5.7-8.9-10
Matius 5:33-37
“Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.” --- Matius 5:33
PASTOR PAUL adalah seorang warga negara China yang sedang bertugas di salah satu paroki di kota New York, Amerika Serikat. Pada hari minggu di bulan februari 2022, beberapa umat paroki mengadakan pesta kecil di aula gereja dalam rangka pesta imamat pastor Paul. Dalam sambutannya beliau menceritakan tentang sumpah setianya kepada Allah untuk selanjutnya beliau lebih menyukai istilah tersebut disebut sebagai “Janji Hati”.
Sebelum masuk seminari, Paul muda berpacaran dengan wanita senegaranya, namun ditengah perjalanan, pacarnya meninggalkannya tanpa berita. Dalam kesendiriannya itu, Paul selalu berdoa untuk panggilan hidupnya dan ternyata Tuhan menggerakkan hatinya untuk masuk seminari. Setelah bertahun-tahun mengenyam pendidikan seminari, tujuh bulan menjelang pentahbisannya, pacar lamanya muncul, mengunjungi Paul. Alangkah kagetnya Paul bertemu dengan mantan pacarnya ini, perasaannya bercampur aduk. Dalam obrolannya, sang mantan pacar meminta maaf karena telah meninggalkan Paul ketika mereka berpacaran, Paul memaafkannya dan mengatakan bahwa mungkin itu sudah jalan Tuhan sehingga ia masuk seminari. Sang mantan pacar bercerita bahwa ia meninggalkan Paul karena mendapatkan pacar baru, kini pacar barunya itu telah meninggalkannya dan menikah dengan wanita lain. Paul bertanya mengapa kamu sekarang datang menemuiku? Sang mantan pacar mengajak Paul untuk menikah dengannya. Kalimatnya itu serta merta membuat bumi seolah berputar lebih kencang dan sedikit ada rasa pusing di kepalanya. Kemudian ia pamit masuk sebentar dengan izin membuatkan minum. Paul menyempatkan masuk kamar dan berdoa. Setelah selesai berdoa, kini Paul merasa lebih mantap dan tegar dalam menghadapi mantan pacarnya ini. Kemudian Paul mengatakan kepada mantan pacarnya bahwa ia tidak akan mundur dan tetap setia kepada panggilannya menjadi Imam. Setelah mendengarkan penjelasan Paul yang cukup panjang, sang mantan pacarpun pamit pulang dengan kepala tertunduk dan air mata yang membasahi pipinya.
Dihadapan umatnya, kemudian pastor Paul melanjutkan ceritanya. Ia menjelaskan kepada mantan pacarnya itu bahwa ia mengalami pendidikan gratis di sekolah seminari, Tuhan yang membayari saya. Jadi tidak konsisten bila saya saat ini mengundurkan diri begitu saja, lalu menikah denganmu. Saya sudah mempunyai “Janji Hati” kepada Tuhan, bersumpah untuk setia kepada Yesus, menjadi pastor seumur hidup saya.
Kemudian pastor Paul melanjutkan ceritanya lagi: “Jika saya tidak setia kepada panggilan saya untuk menjadi seorang Imam, dan kemudian saya menikah dengannya karena air matanya itu, jangan-jangan kelak saya tidak bahagia dalam panggilan hidup perkawinan kami, jangan-jangan saya tidak mempunyai anak, atau kalau punya anak maka anak saya adalah anak-anak yang nakal karena bapaknya tidak konsisten, batal menjadi pastor, dan mungkin perasaan bersalah akan selalu membayangi hidup saya di sepanjang hidup saya sehingga saya tidak mendapatkan ketentraman hidup, bahkan ketika detik-detik saat kematian saya kelak, maka peristiwa meninggalkan Yesus dengan batal menjadi pastor akan menyulitkan saya menghadapi proses kematian saat sakratul maut. Untuk umatku yang hadir disini, saya mengucapkan terimakasih untuk pesta kecil ini. Mari kita pegang teguh janji masing-masing dari kita kepada Allah, apakah itu janji perkawinan, janji sebagai awam untuk selibat, atau sumpah jabatan dalam pekerjaan.
Kisah nyata Romo Paul diatas, menjadi sumber inspirasi yang meneguhkan iman kita. Dalam sabda-Nya hari ini Tuhan Yesus berpesan agar “Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan” (Mat 5:33), ini artinya sama dengan jangan bermain-main dengan sumpah atau janji, sekali kita sudah berjanji maka tepatilah. Jika hidup kita ber-integritas, sudah terbiasa menepati janji-janji kecil, maka kita akan menepati janji besar kita kepada Allah. Tuhan memberkati. (Siswoyo Nugroho)
DOA: ”Ya Yesus, ajarilah aku untuk setia akan janji-janjiku kepada-Mu, sebagaimana Engkau tetap setia memanggul salib-Mu sampai ke Golgota, Amin.”
JANJI: ”Aku berkata kepada TUHAN: "Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!" - Mazmur 16:2
PUJIAN: Pibrac adalah sebuah dusun kecil di Perancis di mana Germana dilahirkan sekitar tahun 1579. Ia menghabiskan seluruh hidupnya di sana. Germana seorang gadis yang sakit-sakitan. Ia tidak cantik. Tangan kanannya cacat dan tidak dapat digunakan. Ayahnya kurang memperhatikannya. Ibu tirinya tidak suka ia berada didekat anak-anaknya yang sehat. Jadi, Germana tidur di kandang bersama domba-dombanya, bahkan pada musim dingin. Bajunya compang-camping dan ia menjadi bahan olok-olok anak-anak lain. Sepanjang hari Germana menjaga kawanan dombanya di padang. Apabila ia pulang ke rumah pada malam hari, ibu tirinya acap kali berteriak padanya dan memukulinya. Namun demikian, gadis malang ini berbicara kepada Tuhan dan ia ingat bahwa Tuhan senantiasa bersamanya sepanjang waktu. Setiap hari ia selalu ambil bagian dalam Perayaan Misa. Ia meninggalkan kawanan dombanya dalam penjagaan malaikat pelindungnya. Tidak pernah sekali pun domba-domba itu keluar melewati batas tongkat gembalaannya yang ia tancapkan ke tanah. Germana seringkali mengumpulkan anak-anak kecil dan mengajarkan iman kepada mereka. Ia ingin agar hati anak-anak itu dipenuhi cinta Tuhan. Ia juga membantu mereka yang miskin. Ia membagi sedikit makanan yang diberikan kepadanya dengan para pengemis. Pada suatu hari di musim dingin, ibu tirinya menuduh Germana mencuri roti. Wanita itu mengejarnya dengan tongkat. Tetapi, yang jatuh dari celemek baju Germana bukanlah roti, melainkan bunga-bunga musim semi. Sekarang, orang-orang tidak lagi memperoloknya. Malahan, mereka mengasihi dan mengaguminya. Ia boleh tinggal dalam rumah ayahnya, tetapi Germana memilih untuk tetap tidur di kandang. Hingga, suatu hari pada tahun 1601, ketika usianya dua puluh dua tahun, ia ditemukan wafat di atas tempat tidur jeraminya. Hidupnya yang sarat dengan penderitaan sudah berakhir. Tuhan mengadakan mukjizat-mukjizat untuk menunjukkan bahwa ia seorang kudus. Perayaan Santa Germana diperingati setiap tanggal 15 Juni.
Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)