JAUHKAN DARI RASA IRI DAN CEMBURU

27 April 2022

Rabu, 27 April 2022

 

Kisah Para Rasul 5: 17-26

Mazmur: 34: 2 – 9

Yohanes 3: 16-21

  

“Orang-orang dari  mazhab Saduki bertindak sebab mereka iri hati. Mereka menangkap rasul-rasul itu lalu memasukkannya

ke dalam penjara kota”

 Kisah Para Rasul 5: 17-18

 

        IRI HATI ? Siapa yang belum pernah mengalami rasa iri hati ? Meski mungkin berbeda dalam kadar tinggi rendahnya,  besar kecilnya rasa iri itu, tentu kita pernah merasakannya. Kata lain dari ‘iri hati’ adalah ‘cemburu’ dan kalau begitu irinya, kita misa sampai ke rasa ‘dengki’ yang bisa mendorong berbuat sesuatu untuk merugikan orang lain !

        Menurut Kitab Suci, “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang” (Ams 14:30). Rasa iri hati  digambarkan sebagai ‘benih’ penyakit yang menyiksa tubuh orang sampai ke tulang - artinya sangat tidak  mengenakkan - sangat berhaya bagi kesehatan rohani orang.

        Tidak hanya para rasul yang menjadi korban rasa iri hati seperti peristiwa dalam Kisah, tetapi juga Yesus sendiri menjadi sasaran rasa dan sikap iri . Sewaktu Yesus dielu-elukan masuk kota Yerusalem dicatat oleh keempat Injil (Mat 21:1-10; Mrk 11:1-10; Luk 19: 28-38 dan Yoh 12:12-15), sikap iri hati orang Farisi yang menyaksikannya itu hanya ditulis oleh Lukas, yang mencatat, reaksi orang-orang Farisi, “Guru, tegorlah murid-murid-Mu itu“ (19:39) dan Yohanes mengungkapkannya dengan cara berbeda, tetapi maksudnya sama “Lihatlah, seluruh dunia mengikuti Dia” ( Yoh 12:19). Rasa iri hati dan dengki orang-orang Farisi dan para ahli Taurat terhadap Yesus ini juga dibaca oleh Pilatus sendiri sewaktu Yesus yang ditangkap itu diseret ke hadapan  Pilatus agar Yesus dihukum mati (Mrk 15:10).

        Iri hati muncul selalu dalam relasi kita dengan orang lain. Karena kita menekankan ‘ke-aku-isme’ kita,  kita tak senang kalau orang lain lebih berhasil, lebih pandai atau lebih kaya. Kita sama sekali tak senang memperoleh sesuatu yang kita inginkan dan kita tidak memperolehnya, justru malah orang lain yang memperolehnya.

        Para rasul membuat banyak mukjizat dan mendapatkan pujian serta rasa kagum dari orang-orang. Budi dan hati orang-orang hanya tertuju kepada Allah, sewaktu Allah melakukan penyembuhan-penyembuhan lewat para rasul, orang-orang  kagum, bersyukur  serta sukacita, sedang orang-orang Farisi dan Saduki berdiri di luar saja. Mereka ini hanya melihat saja para rasul membuat mukjizat sampai hati mereka penuh dengan rasa iri dan dengki yang menyalakan kemarahan diri terhadap para rasul.

        Kita tidak akan menjadi iri kalau kita menfokuskan hati dan budi kita kepada Yesus yang penuh belas kasih dan cinta yang menyembuhkan orang-orang (lewat siapa saja), kalau kita mau dengan rendah hati memberi tempat kepada Tuhan kebebasan untuk memberikan karunia, talenta atau anugerah apa saja kepada orang lain.

        Kita akan jauh dari rasa iri, kalau kita mau bersedia ‘menyangkal diri kita’ dengan tidak mendewa-dewakan ‘ego’ kita, kalau kita mau mengenakan kerendahan hati dan  membuang jauh segala prasangka serta kesombongan diri. (S.Widjojo)

 

DOA  : Ya Yesus, Engkau bebas dari segala pra-sangka, berilah daku kerendahan hati.

JANJI : “Karena Tuhan, jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita” Mazmur 34: 3

PUJIAN: Kata orang bijak, ‘rasa iri hati’ ada kaitannya dengan ‘prasangka’. Seorang Psikolog mengatakan bahwa rasa-perasaan berprasangka itu terbentuk di masa kanak-kanak, sedang keyakinan yang biasanya untuk membenarkan prasangka itu datang kemudian. Dan bila nanti kita ingin merubah ber-prasangka kita, baiknya kita merubah lebih dulu keyakinan yang berdasar nalar itu daripada rasa-rasa perasaan yang telah mengakar itu !

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.