KABAR SUKACITA
24 March 2018
Sabtu, 24 Maret 2018
HR Kabar Sukacita
Yesaya 7:10-14; 8:10
Mazmur 40:7-11
Ibrani 10:4-10
Lukas 1:26-38
“Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau. Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu." --- Lukas 1:28-29
SETIAP TANGGAL 25 Maret, kita peringati Bunda Maria menerima Kabar Sukacita dari Malikat Gabriel, sembilan bulan sebelum Natal, Hari Lahir Yesus. Pesta Kabar Sukacita ini selalu kita peringati di Masa Pra Paska. Malahan bulan ini, berhubung tanggal 25 jatuh hari Minggu, malahan Minggu Palma, awal Pekan Suci, diajukan satu hari sebelumnya, di hari Sabtu ini.
Peristiwa Sukacita atau Gembira ini diabadikan dalam Doa Rosario, dalam Peristiwa Misteri Pertama. Ini mencakup : Pertama, Bunda Maria menerima Kabar Gembira dari Malaikat; Kedua, Maria mengunjungi Elisabet; Ketiga, Yesus dilahirkan di Bethlehem; Keempat, Kanak-kanak Yesus dipersembahkan; dan Kelima, terakhir, Yesus ditemukan dalam Bait Suci.
Santo Yohanes Paulus II mengomentari ‘Peristiwa Gembira’ ini dengan menyatakan bahwa ini memancar dari Peristiwa Penjelmaan. Salam Gabriel kepada ‘gadis Nasaret’, “Bersukacitalah Maria” mengandung ‘undangan mesianis’. Seluruh sejarah keselamatan -- dan juga sejarah dunia -- dituntun ke “Salam” ini.
Dalam ‘Salam’ itu, Allah Bapa menyatukan segala sesuatu dalam Kristus (Ef 1:6). Karena ‘perkenan ilahi’ Bapa menaruh kasih kepada Maria dan mengangkatnya menjadi Bunda Putera Bapa. Dengan ‘Fiat’ (‘Terjadilah’) dari kata sambutan Maria, kita dan seluruh umat manusia dirangkulnya, untuk bersama dengan tulus ikhlas menyetujui kehendak Bapa.
Sukacita merupakan kata kunci perjumpaan Maria dengan Elisabet, di mana suara Maria dan kehadiran Yesus yang masih dalam rahim Maria membuat Yohanes, yang ada dalam rahim Elisabet, ‘melonjak kegirangan’ (Luk 1:44). Sukacita juga memenuhi kawasan Bethlehem, ketika kelahiran ‘Bayi Ilahi’ -- Juruselamat dunia -- diwartakan oleh nyanyian para malaikat dan dimaklumkan kepada para gembala sebagai suatu ‘kesukaan besar’ (Luk 2:10).
Dan dua peristiwa terakhir -- masih dalam konteks suasana gembira -- sudah menunjukkan peristiwa drama yang akan terjadi. Penyerahan Bayi Yesus oleh orangtua-Nya, tidak hanya mengungkapkan sukacita atas ‘persembahan Sang Bayi dan sukacita Simeon, yang sudah lanjut usia dan yang lama menanti peristiwa itu, tetapi peristiwa itu mengingatkan kita akan nubuat bahwa Si Bayi akan menjadi “Tanda Perbantahan’ bagi Israel, dan sebuah pedang akan menembus jantung ibu-Nya (Luk 2:34-35).
Sukacita bercampur kekecewaan menandai peristiwa kelima : sewaktu Yesus berusia 12 tahun ditemukan di Bait Suci. Dan di sinilah Yesus tampil dalam kebijaksanaan ilahi, ketika Ia mendengarkan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Meski masih berusia 12 tahun, tetapi di sini sudah mulai nampak sosok sebagai seorang ‘Guru’ (Rosarium Virginis Mariae’ no. 20).
Doa: Bapa, jadikan daku putera-puteri Maria, Puteri-Mu terkasih
Janji: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia” --- Lukas 1:38
Pujian: Sejak Darmaji dan istrinya mengikuti Kurus Evangelisasi Pribadi (KEP) di parokinya tahun lalu, keduanya bertekad memulai doa Rosario tiap hari.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ