KEBAJIKAN ILAHI DAN KERENDAHAN HATI
16 September 2020
Rabu, 16 September 2020
St. Kornelius, Paus, dan Siprianus
1 Korintus 12:31 - 13:13
Mazmur 33:2-3a.3b-4.5.12-22
Lukas 7:31-35
“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” ---1 Korintus 13:13
DALAM BACAAN pertama, Paulus mendorong Umat Korintus untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama, yakni ‘Iman, Pengharapan dan Kasih’. Ketiganya disebut sebagai “Kebajikan Ilahi” (KGK – Katekismus Gereja Katolik -, no 1813).
Iman memberikan penerangan kepada akal budi kita, dengan kebenaran ilahi (KGK 1815-1816); Pengharapan mengarahkan keinginan kita untuk mencapai tujuan akhir hidup kita di dunia ini (KGK 1817-1821); dan, Kasih mempersatukan keinginan kita dengan Tuhan, yang menjadi tujuan akhir dan sasaran hidup (KGK 1822-1829). St. Paulus menegaskan , di antara ketiga kebajikan Ilahi itu, yang paling besar adalah kasih (1 Kor 13:13).
Melalui ketiga Kebajikan Ilahi dan tujuh karunia Roh Kudus (Yes 11:1-2), manusia dimungkinkan untuk mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Ptr 1:4), yang menjadi asal, sebab, dan tujuan dari semuanya (KGK, 1812). Semua kebajikan Ilahi itu—dinamakan meterai Allah--, tidak mungkin diperoleh manusia dengan usaha sendiri, baik melalui upaya membiasakan diri, maupun melalui praktik yang terus menerus. Kebajikan Ilahi itu hanya bisa diperoleh berkat anugerah dan panggilan-Nya , melalui ‘penuangan dan pencurahan rahmat’. Maka, berhadapan dengan kebajikan Ilahi ini, manusia itu hanya bisa menerimanya belaka!
Tidak semua orang mau dan bersedia dengan rendah hati, memberikan dirinya untuk menerima panggilan dan anugerah Ilahi itu. Lukas memberi contoh:‘Orang-orang biasa’, termasuk para pemungut cukai, mau mendengar warta Allah dan kebenaran-Nya, serta memberikan dirinya untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Luk 7: 29). Sebaliknya, “para orang Farisi dan ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap mereka” (ay.30).
Memang, tidak mudah menerima panggilan dan anugerah Ilahi, khususnya bagi mereka yang selalu meninggikan dan menyombongkan diri. Membuang kesombongan ini, sangat penting. Sebab, hanya mereka yang rendah hati seperti “anak-anak itulah, yang empunya Kerajaan Allah” (Mrk. 10:14). Kerendahan hati:syarat utama agar kebajikan Ilahi, sebagai panggilan dan anugerah Allah, bisa ‘masuk dan meresapi kita manusia’. St. Bernardus dari Clairvaux (1090-1153) mengatakan, “kerendahan hati adalah dasar dari semua kebajikan yang lain. Tanpa kerendahan hati, kita tidak akan mampu secara sungguh-sungguh memiliki kebajikan-kebajikan yang lain”. Rendah hatikah kita? Mari kita membuka hati untuk kerendahan hati ?(WIT)
DOA: “Ya Bapa, berilah kami kerendahan hati, agar mampu menerima karunia rahmat-Mu. Jadikanlah kami seperti Ibu Maria, yang selalu siap menerima kehadiran-Mu.”
JANJI: “Kasih setia-Mu ya Tuhan, kiranya menyertai kami seperti kami berharap kepada-Mu” -- Mazmur 33: 22.
PUJIAN: Bunda Maria adalah contoh sempurna dalam kerendahan hati. Dengan mengatakan “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku, menurut perkataan-mu” (Luk. 1:38), Bunda Maria menerima rahmat istimewa untuk menjadi Bunda Allah. Melalui kidung Magnificat (Luk 1:46-55), Bunda Maria menunjukkan, segala yang baik pada dirinya, adalah karunia belas kasih Tuhan.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ