KEBENCIAN

08 April 2022

Jumat, 8 April 2022

St. Julie Billiart.

Yeremia 20:10-13;

Mazmur 18:2-3a,3b-4,5-6,7;

Yohanes 10:31-42


"Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu  mau melempari Aku?" --- Yohanes 10:32


SEORANG IBU setengah baya bercerita kepada saya, sejak perkawinannya lebih dari 20 tahun yang lalu, sang mertua (juga Katolik) selalu membenci dia, apapun perbuatan baiknya selalu salah di mata mertuanya. Dari dua menantunya, ia adalah menantu yang sangat dibenci oleh mertuanya. Jika sang mertua berulang tahun, sang menantu memberi hadiah, sang mertua nampak senang dan bersikap baik. Namun sikap baiknya itu hanya berlangsung beberapa saat, setelah itu si mertua kembali kepada karakter awalnya: membenci sang menantu. Bahkan pernah sang menantu tersebut memberikan hadiah tiket liburan keluar negeri, dan sang mertua sangat senang dengan raut wajah gembira, namun lagi-lagi sang menantu bercerita bahwa satu bulan setelah selesai liburan dari luar negeri, si mertua kembali lagi membenci dia. Mungkin ada orang yang belum pernah mengalami baik ‘membenci’ maupun ‘dibenci’. Kita ingin tahu, ‘apa itu kebencian?’

“Kebencian merupakan emosi yang sangat kuat (sama kuatnya dengan cinta) dan melambangkan ketidaksukaan, permusuhan, atau antipati terhadap seseorang. Kadang kala kebencian dideskripsikan sebagai lawan daripada cinta atau persahabatan” (sumber: wikipedia.org). Kita juga bisa membaca dari buku-buku Psikologi tentang Emosi, termasuk yang membahas “rasa benci” !

Dalam Injil, kita temukan hal yang mirip. Pekerjaan baik yang telah dilakukan Yesus  itu  sangat banyak. Yesus telah memberi makan kepada 5000 orang melalui mujizat penggandaan roti dan ikan, Yesus menyembuhkan orang buta, orang kusta, orang lumpuh, orang kerasukan setan, bahkan menghidupkan orang mati. Yesus juga mengajarkan untuk berbagi kepada sesama (sedekah), dan mengajarkan hukum kasih yaitu mencintai sesama dan mengampuni tujuh puluh kali tujuh yang artinya tak terhingga. 

Dengan latar belakang biografi, Yesus saat itu menjadi teramat sangat terkenal di seluruh Israel, kepopuleran Yesus tak terbendung lagi. Di sisi lain Ia hanyalah anak seorang tukang kayu di mata kaum Farisi. Kepopuleran Yesus ini menjadi latar belakang dari sikap ‘tidak-senang’ sampai kebencian para ahli taurat dan orang-orang Farisi. Karenanya mereka  menghasut orang-orang Yahudi agar memusuhi Yesus, bahkan kebencian itu semakin mendalam karena Ia mengatakan, ‘dosa orang sakit lumpuh sudah diampuni’ . Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa  selain dari pada Allah sendiri?” Mengampuni dosa adalah hak Allah (Mrk 2: 5-7). Ditambah lagi, Yesus berkata bahwa Diri-Nya  adalah anak Allah (Yoh 10:36).

Pertanyaannya adalah : Mengapa orang bisa jatuh ke dalam sikap benci kepada sesama ? Apakah ‘rasa benci’ itu dosa atau penyakit kejiwaan ? Dapatkah disembuhkan ? BISA !

Menurut para psikolog, kebencian (iri) adalah reaksi yang timbul bila seseorang terobsesi ingin memiliki sesuatu yang bisa diperoleh orang lain tapi orang itu tidak mampu mendapatkannya sendiri. Prasangka juga bisa menjadi sumber iri dan dengki serta benci seperti orang-orang Farisi, yang merasa berpendidikan,  terhadap Yesus si anak tukang kayu yang mereka anggap tak-berpendidikan. Selain itu salah dan bahklan dosa, tetapi juga bisa benar apa yang dikatakan patra psikolog. Beberapa psikolog menganggap sifat benci, iri dan dengki yang akut sebagai kondisi bahwa seseorang telah mengalami 'kelainan jiwa'. Mereka butuh empati kita. Mereka butuh bantuan penyembuhan !

Dari segi iman, untuk melangkah ke arah itu maka pertama-tama kita harus mengenal Yesus dan mau menerima Yesus Kristus dengan sepenuh hati, artinya menerima pribadi Yesus dengan seluruh ajaran-Nya, utamanya adalah Hukum Kasih, yaitu : "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat 22:37-39). Dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat  maka berarti kita harus menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar saja (Yak 1:22), sebab jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1Yoh 4:20). 

Karena “benci”, seperti dikatakan di atas, tidak lagi dalam tataran nalar, tetapi dalam tataran emosi maka  mereka yang menaruh rasa benci dan dendam akut ,  cukup sukar kita berbincang dan berargumentasi tentang pentingnya mengasihi dan menghargai sesama - termasuk orang yang dibenci. Tetapi orang itu bisa dibantu oleh seorang psikolog professional, dengan berkonsultasi. Syaratnya, pasien yang bersangkutan menyadari keadaan dirinya dan ingin bebas dari rasa benci yang mengontrol hidupnya.

Semua orang, baik itu muda maupun tua diundang oleh Yesus untuk mengasihi sesama, seperti Dia lakukan. Jadi tidak ada kata terlambat, meskipun usia sudah renta, asalkan kita mau bertobat dari kebencian yang kita sadari dan  Yesus pasti menerima pertobatan kita. Yesus itu Sang Penyembuh. Ia menyembuhkan sakit penyakit fisik, maupun kelainkan kejiwaan, seperi rasa benci. Ia bisa menyembuhkan langsung si pasien, Yesus juga bisa menggunakan kita dan orang-orang yang yang diberi karunia untuk penyembuhan batin dan kelainan jiwa.Tidak ada kata terlambat dalam mengasihi sesama. Tidak ada kata terlambat untuk menyadari diri adanya gangguan batin, untuk menyadari butuhnya bantuan penyembuhan. Itulah obat agar lepas dari ikatan rasa benci . Selamat mencintai dan selamat mengasihi, selamat hidup sehat jasmani dan rohani. (SIS)


DOA: Ya Yesus, ajarilah aku menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar saja, sehingga aku bisa melaksanakan hukum kasih yang Kau ajarkan:  mengasi Allah dan sesama.

JANJI: “Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku! Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!” - Mazmur 18:2-3

PUJIAN: Bagi para suster SPM (Suster-suster Santa Perawan Maria), Julie Billiart lahir pada 12 Juli 1751, di Cuvilly, Perancis, adalah Ibu Rohani mereka. Pada usia 7 tahun, dia telah hafal katekismus, dan biasa mengumpulkan teman-temannya untuk mendengarkan dia membacakan isi Katekismus dan menjelaskannya kepada mereka. Julie Billiart mengucapkan kaul kemurnian di usia 14 tahun. Ketika berusia 22 tahun, ia terkena tembakan yang diarahkan ke ayahnya oleh musuh yang tak dikenal, sehingga menyebabkan kelumpuhan anggota tubuh bagian bawah selama 30 tahun. Biliart menerima Komuni Kudus setiap hari, menghabiskan empat atau lima jam sehari untuk kontemplasi, membuat linen, tali untuk hiasan altar dan memberikan perhatian khusus kepada mereka yang sedang mempersiapkan Komuni Pertama

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.