KEBESARAN YANG MERENDAHKAN DIRI

21 May 2024

Selasa, 21 Mei 2024

Yakobus 4:1-10

Mazmur 55:7-8.9-10a.10b-11a.23

Markus 9:30-37



“Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari   sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” --- Markus 9:30-31


BANYAK ORANG sangat mendambakan posisi utama dari orang lain. Tanpa disadari, seringkali hal ini dianggap sebagai kesempatan untuk memegahkan diri. Dengan posisi itu, kita dapat memerintah dan mengatur orang lain.

Yesus terus berjalan menghindari daerah Galilea karena sedang mempersiapkan murid-murid-Nya memasuki masa penderitaan-Nya. Ketika membicarakan penderitaan-Nya, mereka tidak mengerti namun segan untuk bertanya kepada- Nya. Sikap seperti ini menunjukkan ketidakpekaan, keegoisan, dan tidak memikirkan apa yang akan terjadi terhadap Yesus. Yang terjadi adalah mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka.

Tiba di Kapernaum, Yesus secara pribadi menanyakan apa yang sedang  mereka perdebatkan. Mereka hanya diam saja. Perilaku ini memperlihatkan ciri seseorang melakukan kesalahan tetapi enggan mengakuinya. Sikap diam juga bisa menunjukkan kekerasan hati mereka. Yesus menuntut kejujuran mereka. Setelah itu, Yesus menjelaskan arti menjadi terbesar dengan cara merendahkan diri dan melayani semua orang. Lalu Yesus memberi contoh dengan mengambil seorang anak kecil dan memeluknya sebagai suatu cara menyambut Tuhan Yesus dan Allah Bapa.

Tuhan Yesus sedang mempersiapkan diri menghadapi penderitaan hingga kematian yang mengerikan. Seharusnya orang-orang di sekitarnya, yaitu murid-murid menguatkan-Nya, setidaknya mengerti situasi-Nya. Tetapi orang-orang di sekitar Yesus justru sibuk mencari kebesaran pribadi. Konsep kebesaran dan kepemimpinan yang Tuhan inginkan bukan bersifat otoriter. Orang percaya seharusnya meneladani kepemimpinan Yesus, bukan dunia.

Jangan malu mengakui kesalahan. Kejujuran merupakan ciri seorang pemimpin yang dapat dipercaya. Selain itu, seorang pemimpin harus merendahkan diri dan melayani siapa saja, bahkan anak kecil yang kelihatan tidak berdaya. Hal ini sangat dibutuhkan dalam persekutuan orang percaya. (Wisnu W.)

 

DOA: “Tuhan dampingilah hidupku, gengamlah selalu tanganku dan tuntunlah aku agar selalu berada di jalan-Mu. Tuhan, pantaskan aku menjadi anak-Mu dan sekaligus jadikan aku alat-Mu, kuatkan imanku saat melalui rintangan-rintangan dalam hidup dan ingatkan aku selalu bahwa Engkau tidak pernah meninggalkanku, karena aku adalah anak-Mu dan sekaligus karena aku adalah adalah alat-Mu, dan juga karena aku percaya akan kasih karunia-MU yang besar, Amin.”

JANJI: “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” - Yakobus 4:10

PUJIAN: Sebagai pengikut Kristus, kita harus meyakini bahwa kehendak Allah-lah yang menjadikan kita umat pilihan dan keteguhan hati kita untuk menganal Injil Yesus Kristus melalui karunia Roh Kudus yang bekerja di dalam diri kita untuk meyakinkan kita bahwa kita adalah anak Allah dan sekaligus alat Allah yang selalu memperteguh iman kita kepada Allah. Sekalipun kita lemah dan kadang kala merasa tidak mampu oleh karena banyaknya tekanan hidup, namun kita tidak menjadi goyah. Roh Kudus yang bekerja di hati dan pikiran setiap orang yang percaya kemudian memampukan kita untuk terus berjalan maju dengan penuh kepastian. Kita yakin dan percaya bahwa Yesus Kristus Bersama dengan Roh Kudus akan memberi kelegaan atas beban berat kehidupan kita. Beban kehidupan itu menjadi ringan. Bahkan beban yang kita miliki itu, bisa menjadi kesempatan bagi kita untuk selalu berusaha menjadi alat Allah dan bertumbuh dalam iman.

Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.