KEGEMBIRAAN TERBESAR DI SORGA
15 August 2023
Selasa, 15 Agustus 2023
Ulangan 31:1-8
Ulangan 32:3-4a,7,8,9,12
Matius 18:1-5,10,12-14
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat.” --- Matius 18:13
SESUAI TRADISI orang Tionghoa, bahwa setiap perayaan tahun baru Imlek, orang tua saya, selalu mengajak seluruh keluarga di Bogor untuk mengunjungi rumah oma di Jakarta, sedangkan Opa sudah meninggal sebelum kami dilahirkan. Oma mempunyai delapan anak, sehingga ketika keluarga oma berkumpul penuh dengan anak dan cucu-cucunya. Karena ruangan keluarga penuh, yang sudah mengucapkan selamat tahun baru imlek kepada Oma, segera keluar dari ruang keluarga dan kumpul di halaman rumah. Oma walaupun sudah tua, ia ingat anak-anak dan cucu-cucunya, sehingga jika salah satu anak yang belum datang, maka Oma meminta anak yang lain untuk menelepon yang belum datang, Oma merasa sangat gembira jika semua keluarga sudah lengkap berkumpul. Begitu juga dengan bacaan hari ini, Tuhan menceritakan perumpamaan seorang Gembala yang mempunyai 100 ekor domba, dan jika ada 1 ekor domba yang tersesat, maka Gembala tersebut akan meninggalkan 99 ekor domba di tempat yang aman dan mulai mencari 1 ekor domba hingga ditemukan.
Arti perumpamaan ini bahwa setiap manusia sangat berharga di mata Allah. Jika ada 1 anak manusia tersesat jalan, maka Allah menggunakan berbagai cara-Nya, bisa melalui orang tuanya, teman-temannya, gurunya, para imam atau orang lain atau melalui peristiwa-peristiwa dsb, agar 1 anak manusia sesat ini dapat disadarkan dari jalan yang sesat, atau menyadari kekeliruannya, sehingga ia mau kembali lagi dalam komunitasnya atau gerejanya dan menjalankan kehidupan sebagai anak Allah. Dan luar biasanya, jika 1 anak manusia ini telah ditemukan dan kembali ke jalan yang benar, maka ada kegembiraan besar di surga melebihi dari kegembiraan dari 99 anak manusia yang tidak sesat, seperti tertulis di Lukas 15:7 “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan”.
Bukan artinya Allah tidak peduli lagi dengan sembilan puluh sembilan orang benar, tetapi Allah tidak rela kehilangan satu orangpun ciptaan-Nya. Sehingga kita dapat melihat bahwa kasih Allah sangat luar biasa kepada kita. Walau kita berdosa dan tidak setia, Allah tetap mengasihi dan tetap setia. Jadi bila kita dalam kehidupan ini, merasa sangat berat dalam menghadapinya, banyak masalah yang membebaninya, jangan pernah meninggalkan-Nya. Karena Allah selalu ada untukmu 24 jam sehari. Bercakap-cakaplah dengan Allah, sampaikan segala macam permasalahanmu. Percayalah, hanya di dalam Allah, kita menemukan kelegaan dan jalan keluar, walaupun tidak secepat kilat permasalahanmu selesai, tetapi Allah sanggup melakukannya, karena Ia adalah Allah Gunung Batuku, Allah pencipta langit dan bumi. (SIW).
DOA: ”Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah menguatkan iman dan harapan kami, bahwa di dalam-Mu ada keselamatan kekal, dan kami sangat berharga di mata-Mu, sehingga Engkau memberikan tawaran keselamatan secara gratis kepada kami. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami, Amin.”
JANJI: ”Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan.” Mazmur 32:1-2
PUJIAN: Santo Tarsisius lahir di Roma tahun 263 M. St. Tarsisius seorang martir awal kekristenan di Roma. Ia menjadi martir pada usia 12 tahun. Data tertulis yang menceritakan tentang martir muda ini ditemukan dalam sebuah puisi yang ditulis oleh Paus Damasus. Tarsisius (seorang putra altar) dirajam oleh teman-temannya ketika membawa Sakramen Mahakudus untuk diberikan kepada para tahanan di penjara karena iman kepada Kristus. Tarsisius tidak rela memberikan hosti kepada orang yang menganiayanya. Dalam ketidakberdayaannya, Tarsisius ditolong oleh seorang prajurit Roma yang sudah menerima Kristus, dan dalam perjalanan pulang menuju Katakombe, Tarsisius meninggal. Jasadnya dimakamkan di Katakombe Santo Kalisitus, Roma.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ