KEHADIRAN ROH PENGHIBUR

16 May 2023

Selasa, 16 Mei 2023

Hari Pekan Paskah VI

Kisah Para Rasul 16:22-34

Mazmur 138:1-2a,2bc-3,7c-8

Yohanes 16:5-11


"Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” --- Yohanes 16:7


DALAM DUNIA ini,  kita menyadari bahwa tiada suatu yang abadi, orang yang sangat dekat dengan kita, yang selalu bersama-sama kita, pada suatu saat akan berpisah. Perpisahan ini, karena sekolah, pekerjaan, pindah tempat tinggal, hingga kematian.

Hal inipun yang kami alami sebagai orang tua, ketika kedua anak perempuan kami mulai kuliah di Jakarta, selama ini mereka dekat di sekitar kami, bicara dan makan serta bercanda bersama. Rasanya sepi di rumah, karena mereka tidak ada di rumah, sehingga ada rasa rindu ingin bertemu mereka. Untungnya jarak antara Bogor dan Jakarta dekat, mereka bisa pulang ke rumah sebulan 2 kali atau kami datang berkunjung ke mereka jika mereka sibuk.

Kondisi ini tidak berlangsung lama, setelah lulus kuliah anak perempuan  pertama kami pindah ke Bandung, karena mendapat pekerjaan di sana. Karena banyak pekerjaan dan jaraknya cukup jauh, anak kami jarang pulang. Ada satu hiburan bagi kami, yaitu dengan teknologi hp saat ini, dimana dengan adanya WA video call, sehingga di setiap ada waktu selesai bekerja, kami dapat berkomunikasi anak pertama kami.

Seperti pada bacaan injil, dimana terjadi perpisahan antara para Rasul dengan Tuhan Yesus. Perpisahan ini terjadi karena setelah Yesus bangkit dari kematian dan kembali ke surga, karena tugasnya sebagai juru selamat yang diutus oleh Allah Bapa di dunia telah selesai dijalani-Nya.

Mereka sangat kehilangan guru dan Tuhan mereka. Sehingga hilang semangat mereka akan tugas yang diberikan Tuhan. Melihat keadaan mereka, Tuhan Yesus memberikan mereka semangat, bahwa dengan kembalinya Yesus ke surga, maka kehidupan mereka di dunia, selanjutnya akan tetap didampingi dan dihibur oleh Roh Kudus yang diutus Yesus. Roh Kudus ini yang akan memberikan kekuatan kepada mereka untuk lebih berani dalam mewartakan kabar baik setelah kematian Yesus.

Peristiwa Pentakosta,  menjadi tanda pertama kehadiran Roh Kudus dan memenuhi kehidupan para Rasul. “dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain…” (Kisah Para Rasul 2:3-4). Sehingga orang-orang di sekitarnya memahami perkataan para Rasul dalam bahasa daerah masing-masing. Sungguh suatu karya yang luar biasa, bagaimana Roh Kudus menolong mereka untuk menyampaikan kabar keselamatan kekal, bagi mereka yang percaya kepada Yesus.

Bercermin dari peristiwa ini, kita yang telah terpilih sebagai pengikut Kristus, dikarenakan karya Roh Kudus yang membuat kita percaya bahwa Tuhan Yesus telah menebus dosa-dosa kita, sehingga kita diselamatkan dari kematian kekal, untuk memperoleh keselamatan kekal. “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12).

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan rumah tangga, baik dalam pekerjaan, baik dalam pelayanan, marilah kita senantiasa berdoa dan meminta bimbingan Roh Kudus, agar dapat menjalani kehidupan ini dengan baik dan hidup sesuai kehendak Allah Bapa. (SIW).

 

DOA: “Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah mengutus Roh Kudus kepada kami, agar kami mampu menjalani kehidupan sesuai kehendak Allah Bapa, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam pelayanan. Amin.”

JANJI: “TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!” Mazmur 138:8

PUJIAN: Aloysius Orione lahir pada 23 Juni 1872 di Pontecurone, Allesandria, Italia. Tanggal 16 Oktober 1889 ia masuk seminari di Tortona dan pada 3 Juli 1892 ia membuka oratori pertama yang melayani pelatihan kepada anak-anak pria kristen. Aloysius menerima tahbisan imam pada 13 April 1895. Pada tahun 1899 ia mendirikan Pertapaan Penyelenggaraan Ilahi, dan diakui oleh Mgr. Igino Bandi, Uskup Tortona sebagai, sebuah kongregasi untuk imam, bruder dan petapa dalam Karya Kecil Penyelenggara Ilahi. Pada 29 Juni 1915 Aloysius mendirikan lagi Misionaris Kecil Suster-suster Kasih, Suster-suster Buta dari Adorasi Sakramen Mahakudus, dan Suster-suster Kontemplatif dari Yesus Aloysius meninggal dunia pada 12 Maret 1940 di St. Remo. Pada tahun 1965 tubuhnya ditemukan utuh saat dilakukan penggalian. Pada 16 Mei 2004 ia dikanonisasi sebagai santo oleh Paus Yohanes Paulus II.*****

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.