KERENDAHAN HATI

01 October 2018

Senin, 1 Oktober 2018

St. Teresia dr Kanak-kanak Yesus, PrwPujG

Ayub 1:6-22

Mazmur 17:2-3,6-7

Lukas 9:46-50

atau :

Yesaya 66:10-14b

atau :

1 Korintus 12:31—13:13

Matius 18:1-5

 

“… karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” --- Yohanes 9:48

 

ADA PEPATAH, berbunyi “Mengalah untuk menang!” Bagaimana setelah mengalah tetapi akhirnya tetap menang? Awalnya sulit orang memahami pepatah itu. Tetapi kalau kita mau  membaca ayat bacaan Injil hari ini “Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar" (Yoh 9:48), ada pencerahan. Tetapi untuk mengalah atau menjadi kecil, itu butuh pengorbanan baik perasaan, ego dan harga diri.

Bagaimana bagi orang zaman ‘now’? Hal ini merupakan sesuatu yang sulit untuk dilakukan sekarang karena saat ini kebanyakan orang berlomba memunculkan kemampuan yang dimilikinya, baik titel, jabatan, harta, penampilan, dll., dengan tujuan agar ia diperhitungkan. Tanpa itu ia tidak mungkin dapat bersaing dan dihargai orang lain. Namun dampak sampingnya adalah kita -- manusia jaman sekarang -- terjebak pada rasa takut tidak dihargai, dan muncul egoisme, sifat mementingkan diri sendiri. Hal inilah yang ditentang keras oleh Yesus saat para murid yang meributkan siapa yang “terbesar” di antara mereka.

Yesus memberi contoh kongkrit dengan menempatkan di samping-Nya seorang anak kecil di hadapan para murid dan berkata “Barangsiapa menyambut anak kecil ini dalam namaKu, ia menyambut Aku (Yesus); dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia (Allah Bapa) yang mengutus Aku.”

Anak kecil adalah sosok pribadi yang lemah, dan satu-satunya yang dipercaya dan diandalkan seorang anak kecil adalah perlindungan orangtuanya. Hal inilah yang diinginkan Yesus untuk dilakukan bagi kita yang percaya kepada-Nya. Memang kita bukan lagi anak kecil secara fisik, namun kita dapat mencontoh sikap anak kecil, yang tidak mengandalkan apa pun yang dimilikinya, tetapi mengandalkan dan percaya penuh akan pemeliharaan tangan Tuhan yang menopang hidup kita.

Ayub dalam bacaan pertama mengajarkan kepada kita meskipun kehilangan harta benda dan anak-anaknya dalam sekejap mata namun dia tetap bisa berkata “Terpujilah nama TUHAN!” Hanya dengan sikap kerendahan hati-lah kita bisa mengalah untuk menang, kuat di saat lemah dan mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi.

Dengan kerendahan hati kita baru dapat melayani Tuhan dan sesama dengan tulus iklas, sehingga kita layak disebut sebagai murid-murid Tuhan. Beranikah kita untuk rendah hati? (Stev)

Doa: Bapa, ajar kami untuk selalu mengandalkan Engkau, satu satunya pengharapan dan kasih, agar kami dapat melayani Dikau serta sesama dengan tulus hati dan menjadi tanda kasih kami kepada-Mu.

Janji: "Tuhan yang memberi, Tuhanlah yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"  --- Ayub 1:21

Pujian: Ayub tetap percaya sepenuhnya pada karya Allah, walaupun ia mengalami keterpurukan dalam waktu yang singkat.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.