KESALEHAN NARSISTIK
16 June 2021
Rabu, 16 Juni 2021
2 Korintus 9:6-11
Mazmur 112: 1-2.3-4.9
Matius 6:1-6.16-18
“Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita”.”-- 2 Korintus 9:7b
DALAM TRADISI YAHUDI, ada tiga perbuatan yang menjadi penentu dan dasar kesalehan religius, yaitu berdoa, berpuasa, dan berderma (lih. Tobit 12:8).
Yesus menunjukkan, dalam kehidupan beragama, manusia mudah terjerumus dalam kesalehan yang narsistik. Salah satu sifat narsis yang ditunjukkan oleh Yesus adalah ‘ingin dilihat oleh orang di tempat umum’ (Mat 6:1.5.16). Bagi orang yang narsis, ‘wajah indah’ itu harus dipertahakan. Salah satu caranya adalah ‘mengganti wajah’ sesuai dengan keadaan. Itulah yang dilakukan oleh para hupokrités atau pemain sandiwara Yunani kuno.
Hipokrit atau munafik adalah watak yang dikecam oleh Yesus. Sebab, dasar watak itu adalah tidak mau menerima keadaan dirinya apa adanya, seperti yang telah dianugerahkan oleh Allah.
Dasar karakter seorang hipokrit ada dua.
Pertama, ia selalu mengandalkan dan menempatkan pribadi dirinya, sebagai pusat. Inilah yang membuat tidak ada sukacita. Sebuah contoh misalnya. Ada seorang tokoh ‘sosial’, yang menjadi sangat sedih dan terpukul, ketika pada upacara penghargaan kepada para pendana, tanpa sengaja, nama dan jumlah sumbangannya lupa disebutkan. Dasar kesedihan tokoh itu adalah karena dirinya merasa diabaikan.
Kedua, seorang hipokrit selalu menempatkan orang lain sebagai obyek, sebagai alat, untuk kepentingan dirinya. Melalui penampilan wajah indahnya, ia memaksa orang lain untuk memberi penilaian, yang sesungguhnya tidak sesuai dengan kenyataan. Akibatnya, seorang hipokrit akan sangat mudah menjadikan orang lain sebagai kawan yang dirangkul, atau sebaliknya, lawan yang harus dihabisi, tergantung pada corak penilaian yang diberikan oleh sesamanya itu. Pemaksaaan semacam inilah, yang memunculkan gejolak perasaan yang saling berlawanan.
Dalam pelayananannya, Paulus juga mengalami situasi, di mana karyanya dikecam dan bahkan tidak dihargai. Namun, seperti yang diajarkan oleh Yesus, ia yakin bahwa “Allah Bapa itu melihat yang tersembunyi; Dia-lah yang akan membalas kepadanya” (lih. Mat. 6: 418). Bagi Paulus, balasan itulah yang memberi sukacita sejati, karena janji dan karya Allah selalu penuh dengan kasih dan kerahiman.
Layaklah bila Paulus kemudian menulis kepada umat Korintus, bahwa “pelayanan kasih yang berisi pemberian dengan sukacita, bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah” (2 Kor. 9: 12).
“Ad maiorem Dei Gloriam”, ‘demi kemuliaan yang lebih besar bagi Allah’, adalah ukuran kesalehan dan kerasulan Kristiani. (WIT).
DOA: “Ya Bapa yang Maharahim, pusatkan hatiku pada-Mu saja, dalam segala pikiran maupun dalam pelayananku.”
JANJI: “Di dalam gelap, terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil”-- Mazmur 112:4.
PUJIAN: Awalnya St. Teresa dari Kalkuta (1910-1997) adalah kepala sekolah elit di Entali, Kalkuta Timur, India. Meski ia senang dengan pekerjaannya, namun hatinya selalu gelisah melihat kemiskinan di sekitarnya. Bencana kelaparan tahun 1943, dan pertikaian berdarah antara kelompok Muslim dan Hindu,1946, telah membuat banyak rakyat di Kalkuta menderita dan mati menggenaskan. Kegelisahan itu membuat Teresa tidak memiliki sukacita dalam pelayanannya sebagai kepala sekolah. Namun, sebuah terang muncul bagi orang benar. Teresa pun berubah haluan. Ia melepaskan semuanya, untuk mengabdi kelompok miskin dan majinal. Sukacita dalam pemberian diri itulah, yang membuat Allah dimuliakan melalui berbagai karya para biarawati Misionaris Cinta Kasih.