KESATUAN GEREJA

22 February 2022

Selasa, 22 Februari 2022    

Pesta Takhta St. Petrus, Rasul 

 

1 Petrus 5:1-4

Mazmur 23:1-3a.3b-4.5.6

Matius 16:13-19

 

“Aku menasihatkan para penatua (Yun. presbuteros)  di antara kamu, … Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri”.

1 Petrus 5: 1-2

 

SAAT MATIUS menyusun Injil-nya, banyak komunitas Kristen memiliki ikatan yang kuat dengan para pemimpin yang menjadikan mereka Kristen. Komunitas Antiokhia di Suriah, misalnya, yang menjadi audiences penginjil Matius, mempunyai ikatan kuat dengan Petrus. Sedangkan beberapa komunitas di Yunani (mis. Korintus) dan Makedonia (mis. Filipi) sangat dekat dengan Paulus. Di wilayah Asia (mis. Efesus), beberapa kelompok jemaat dibangun oleh Yohanes Penginjil. Ikatan-ikatan seperti itu memang membantu mereka untuk membangun identitas dan spiritualitas mereka. Namun, terkadang kefanatikan tersebut juga menjadi sumber pertikaian seperti yang terjadi di Korintus (1 Kor 1:11-12).

Pada Matius 16:13-16, saat Yesus minta pandangan masyarakat mengenai Dirinya, jawabannya sangat beragam. Ada yang menyebut Dia sebagai “Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau seorang dari para nabi” (ay. 14).

Namun, ketika Yesus bertanya kepada para murid-Nya, Petrus, sebagai juru bicara, mengatakan, “Engkaulah Kristus, Putra dari Allah yang hidup” (ay. 16).

         Jawaban ini tidak baru. Sebelumnya, hal ini sudah dikatakan oleh para murid (lih. Mat 14:33). (Pada Injil Yohanes (Yoh 11:27), pernyataan iman, “Engkaulah Mesias, Putra Allah”, juga dikatakan oleh Marta). Yang baru adalah, setelah pernyataan itu, julukan ‘Petros’ (batu yang bisa digeser) dari Simon bin Yunus, diberi makna baru. “Aku berkata kepadamu: Engkau adalah ‘Petros’ (Yun), ‘batu’, dan di atas ‘petra’ (Yun.), ‘batu karang gunung’ ini, Aku akan mendirikan ‘ekkl?sía’(Yun.), ‘jemaat’-Ku; dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18).

Beberapa tafsiran mengatakan, Simon bin Yunus mendapat nama ‘Petros’, karena pengakuan imannya mengenai Yesus sebagai Mesias Putra Allah yang hidup. Pengakuan iman tersebut kemudian menjadi sebuah ‘petra’, atau batu karang gunung yang kokoh tak-tergeser oleh kuasa apapun (termasuk kuasa maut). Di atas iman berkarakter ‘petra’ ini, jemaat atau ‘ekklesia’, akan didirikan oleh Kristus. Iman ‘petra’itulah, yang menjadi dasar kokoh, saat jemaat dilanda oleh ‘air bah penganiayaan’ (lih. penggunaan ‘petra’ dalam pengajaran ‘dua macam dasar’ pada Mat 7:24-25).

Melalui pergantian kata ‘petros’ dan ‘petra’ ini ditunjukkan, dasar hidup Gereja bukan terutama pada sosok-sosok pribadi, tetapi pada iman akan Yesus Kristus. Sebagai sosok pribadi, meski itu disebut ‘petros’, tetaplah itu ‘batu yang bisa tergeser dan berubah posisi’. Itulah yang terjadi dengan Petrus, saat ia menolak sabda Yesus mengenai sengsara dan wafat-Nya, tidak lama setelah pengakuan hebatnya tersebut. Karena perubahan sikap itu, Yesus menghardik Petrus dengan sangat keras: “Enyahlah engkau Satan. Kamu, Petros, si batu goyah itu, telah menjadi skandalon, ‘batu sandungan’ (lih. Mat 16: 22-23).

Penginjil Matius menulis perikop ini sebagai pesan bagi Gereja di Suriah dan Palestina yang menderita, agar mereka tidak goyah. Pesan itu sejalan dengan nasehat Paulus pada 1 Kor 1: 10-17, janganlah melihat siapa tokoh jemaatnya, tetapi hendaklah tetap erat bersatu dan sehati sepikir dalam iman yang sama kepada Tuhan Yesus Kristus, “supaya salib-Nya jangan menjadi sia-sia”. Pada Yesaya  51:1-2, Abraham juga disebut sebagai ‘batu karang’, karena ia menjadi “Bapa dari semua orang yang memiliki iman” (lih. Rom 4:11).

Seperti Abraham, yang memulai sebuah umat yang baru, Petrus pun dipanggil dan diangkat menjadi awal ‘lembaga kekristenan’, yang mengutamakan rekonsiliasi dan saling menerima. Kepada Petrus, Yesus mengatakan agar orang mengampuni saudaranya “sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (lih. Mat 18:22). Pengampunan semacam itu bisa mengakibatkan penderitaan. Tetapi, itulah ‘Jalan Yesus’. Maka, ketika Petrus menolak ‘Jalan Mesianis’ tersebut (lih. Mat 16:22-23), segera saja Yesus mengenyahkan dan menyebut murid utama-Nya itu sebagai Satan, sosok yang secara langsung menentang Allah; Petrus bukan sekedar Iblis (Yun. diabolos) yang hanya membelokkan orientasi manusia.

Kata-kata Yesus ini juga menjadi peringatan bagi para pemimpin jemaat, seperti dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II (1920-2005): “Tahta Suci itu bisa menjadi ‘batu karang’, tetapi juga bisa menjadi ‘batu sandungan iman’”. (Witdarmono)

  

DOA :  “Allah yang Mahapengampun, jangan biarkan kami menjadi batu sandungan   Agung, Yesus Kristus”. 

JANJI: “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku … kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku”. Mazmur 23: 1.8. 

PUJIAN: Dalam Doa Umat, selalu ada doa untuk Gereja. Bukan pertama-tama sebagai Lembaga, melainkan kita bersama-sama para gembala Gereja. Semoga rahmat Allah selalu menuntun mereka dalam tugas pelayanan Umat Allah. 

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ 

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.