KEWASPADAAN, CCTV DAN HP
19 October 2021
Selasa, 19 Oktober 2021
Roma 5:12.15b-19.20b-21
Mazmur 40:7-10.17
Lukas 12:35-38
“Malapetaka itu mengepung aku sampai tidak terbilang banyaknya. Aku telah terkejar oleh kesalahanku, sehingga aku tidak sanggup melihat; lebih besar jumlahnya dari rambut di kepalaku, sehingga hatiku menyerah“. Mazmur 40:13
ANDAIKAN ZAMAN YESUS MENGAJAR (th. 30-an), sudah ada CCTV (closed circuit television), maka warna pengajaran-Nya mengenai 'kewaspadaan' pada Luk 12: 35-38, pasti berbeda.
Lalu, apakah di zaman CCTV dan HP yang mampu ‘melihat’ rumah dan segala milik kita ini, bicara mengenai kewaspadaan masih relevan? Bukankah teknologi telah membuat "dunia berada dalam genggaman tangan kita", sehingga kita bisa "beristirahat, makan, minum dan bersenang-senang?" (lih. Luk 12:19).
Sekali lagi, Yesus memperingatkan: "Jangan jadi orang bodoh. Saat malam ini Tuhan memanggilmu. Semua 'CCTV dan HP-mu', yang bisa mengantisipasi semuanya, tidak akan berguna!" (bdk. Luk 12:20).
Melalui perumpamaan 'hamba dan tuannya', Yesus mengajarkan, semua bentuk keamanan, social maupun financial, tidak berada di tangan kita, tetapi di tangan Allah. "Hati manusia (boleh) memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya” (Ams 16:9; lih. juga 19:21).
Semua kepastian ada di tangan Allah, itulah yang diajarkan Yesus mengenai Bapa-Nya. Maka, yang diperlukan hanya dua sikap:
Pertama, sikap ‘menanti' (ay. 36), artinya 'siap dan mau untuk memberi dan menerima'; dan Kedua, sikap ‘tetap bangun’ (ay. 37).
Kedua sikap itu bukan sesuatu yang pasif, tetapi sangat aktif, dan memiliki tiga bentuk: (1) “pinggang tetap terikat” (ay. 35a), artinya, siap bertugas dengan ‘pakaian’ dan mentalitas kerja yang benar; (2) “pelita tetap menyala” (ay. 35b), artinya, selalu memelihara dan menjaga kesiapan jiwa dan raga; dan (3) “seperti orang yang menanti-nantikan tuannya” (ay. 36), artinya, full alert, ‘penuh kewaspadaan’.
Ketiga keaktifan tersebut tidak bisa digantikan oleh CCTV atau HP tercanggih, karena dalam ketiganya diperlukan dinamika serta kesetiaan kreatif, yang sumbernya adalah Allah sendiri. Allah telah menunjukkan dinamika kesetiaan kreatif-Nya melalui Penciptaan, Sejarah Keselamatan Manusia, Anugerah Yesus Kristus, dan Penyertaan Roh Kudus. Itulah harta Ilahi yang telah disediakan bagi kita. Hanya dengan selalu meng-amin-i, dan menyertakan Karya Ilahi itu di dalam hidup--di mana kemuliaan-Nya menjadi kriteria utama—, kita akan tetap “kaya di hadapan Allah” (Luk.12:21).
DOA: “Ya Allah yang Mahakuasa, sadarkanlah kami agar tetap setia dan siap sedia menghadap kepada-Mu, secara khusus di masa-masa maut bisa datang secara tiba-tiba. Kuatkanlah iman kami ya Tuhan, dan jangan biarkan kami lepas dari mata-Mu”.
JANJI: “Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran, semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran, semua orang beroleh pembenaran untuk hidup”. Roma 5:17-18
PUJIAN: Pandemi Covid-19 telah mendewasakan praktik iman kita. Kewaspadaan menjadi sesuatu yang utama. Artinya, hidup beriman kita tidak lagi tergantung pada jadwal liturgi atau doa Gerejani, tetapi lebih pada kedekatan pribadi dan hati nurani dengan Yesus Kristus, yang telah hadir di tengah-tengah kita.
Oleh : H. Witdarmono
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ