KORBAN PALING AGUNG: BERBUAT BAIK
16 July 2018
Senin, 16 Juli 2018
St. Maria dr Gunung karmel
Yesaya 1:11-17
Mazmur 50:8-9,16-17,21,23
Matius 10:34--11:1
“Berhentilah berbuat jahat – belajarlah berbuat baik!” --- Yesaya 1:16
HIDUP MENGAGAMA orang Yahudi, yakni Doa, mempersembahkan Korban dan Sedekah. Lewat nabi Yesaya Tuhan bersabda, dengan kata-kata keras, kepada orang-orang Yahudi yang kecapaian berdoa dan mempersembahkan korban: “Aku sudah jemu akan kurban-kurban bakaran, ... jangan lagi membawa korban yang tidak sungguh, sebab baunya menjadi jijik bagi-Ku” (Yes 1:11,13).
Apa yang sebenarnya terjadi? Tidakkah Tuhan sendiri yang memerintahkan agar umat berdoa dan mempersembahkan korban? Ya, benar! Tetapi dalam melakukan hal-hal lahiriah itu, mereka lupa yang paling mendasar, karena hal-hal lahiriah itu adalah simbol dari persembahan korban batin yakni dari hati mereka. Hati umat jauh dari Allah!
Mana yang lebih mudah: mendaras doa-doa tertentu atau menjadi pribadi orang yang berintegritas? Membakar dupa atau melakukan perbuatan yang tanpa-pamrih? Ritual keagamaan memang ada tempatnya! Tetapi yang Allah harapkan adalah apa yang kita lakukan dalam upacara-upacara keagamaan itu merupakan ungkapan persembahan hati kita kepada-Nya!
Kita memberi hati kita sewaktu kita berbagi barang apa saja dengan sesama yang membutuhkan, bertindak dan berlaku sabar, menyuarakan orang-orang yang tak mampu bersuara, sebarluaskan damai dan kerukunan, di manapun kita berada dan kita bekerja, demi masyarakat kita menjadi lebih adil.
Doa: Ya Allah Bapa yang mahakasih, semoga pengorbanan dan persembahan yang kulakukan hari ini, dan doa-doa yang kucapkan, menjadikan diriku pribadi yang semakin mengasihi.
Janji: “Barangsiapa menyambut kalian, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku!” --- Matius 10:40
Pujian: Sudarto, ketua Lingkungan Baliton 1, menyadari bahwa ibadat mingguannya hanyalah sekedar ritualisme belaka, dan belum keluar dari lubuk hatinya.
Penanggung jawab RH: Rm Subroto Widjojo, SJ