KRITERIA BARU
20 May 2022
Jumat, 20 Mei 2022
Kisah Para Rasul 15:22-31;
Mazmur 57:8-9.10-12;
Yohanes 15:12-17.
“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu”. Yohanes 15:12.
KASIH, SEBAGAI ANUGERAH kesatuan dengan Allah, merupakan tema utama perikop ini. Berbeda dengan ajaran kasih pada PL: “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18), Yesus memberi kriteria baru.
Sumber dan dasar semua perbuatan kasih, bukan berasal dari kesadaran atau pemahaman mengenai hak dan kewajiban diri, tetapi sepenuhnya dari anugerah kasih Ilahi yang tanpa henti, kepada manusia.
Sebelumnya, orang selalu beranggapan, kita harus mengasihi orang lain, sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri. Namun, bagaimana kita bisa memakai kriteria diri kodrati yang masih hanya bersifat manusiawi belaka? Dalam kemuridan Yesus Kristus, perikemanusiaan tidaklah cukup, karena di situ tidak ada unsur ilahi yang kekal. Tidak ada warna “menjadi sempurna, sama seperti Bapamu yang di Surga, sempurna” (Mat 5:48).
Unsur ilahi inilah, yang diberikan oleh Yesus melalui sabda-Nya: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12). Yesus yang telah mengasihi kita (lebih dahulu), itulah makna Inkarnasi. Melalui Putra Allah yang menjadi manusia, menderita sengsara, dan bangkit, eksistensi dan makna sesama telah diubah ‘menjadi ilahi’. Karakter inilah yang membuat kita semua pantas disebut sebagai “sahabat Kristus” (ay. 14).
Dalam Injil Yohanes, makna sahabat (Yun. phílos), sangat terkait dengan ‘tindakan kasih yang memberi nilai’ (Yun. agapá?). Kita semua disebut sahabat Allah, karena Dia telah memberi nilai baru kepada manusia melalui kesatuan dengan Putra-Nya yang telah dibangkitkan-Nya. Melalui kebangkitan Yesus Kristus, diri kita dan juga sesama kita bukan hanya dikembalikan ke fitrah sebagai ‘gambar dan rupa Allah’ (Kej 1:26.27), tetapi telah dijadikan ‘kudus dalam kebenaran’ (Yoh 17:19). Inilah anugerah karya kasih Allah, yang adalah Kasih itu sendiri (1 Yoh 4:8.16).
Anugerah ‘persahabatan Ilahi’ tersebut sangat disadari oleh Gereja Perdana, sehingga mereka, sebagai “kumpulan orang yang telah percaya, sehati dan sejiwa,” mampu untuk tidak berkata “bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama” (Kis. 4:32). Memberi kepada sesama menjadi identik dengan memberi dan memuliakan Allah!
Pertanyaannya: apakah praktik hidup Gereja Perdana itu, sebagai buah-buah kesatuan dengan Kristus ini, dapat diwujudkan dalam komunitas kita masing-masing, sekurang-kurangnya pada unit yang paling kecil: keluarga? Siapakah yang selalu kita lihat saat kita memberikan kasih, diri kita atau Allah yang tinggal dalam segala? Hanya kitalah--dalam kebersamaan—yang bisa menjawabnya. (Witdarmono).
DOA : “Ya Allah yang Mahakasih, arahkanlah kami selalu untuk melihat Engkau dalam segala hal”.
JANJI : “Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa; sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan”. Mazmur 57: 10-11.
PUJIAN : Pada 20 Mei 1521, 500 tahun lalu Ignatius dari Loyola (1491-1556) terluka parah terkena peluru meriam (cannonball), yang menghantam kakinya. Momen cannonball ini menandai awal perziarahan rohani Ignatius menuju pertobatan dan perjalanan mengikuti Yesus Kristus. Cannonball itu membuka sebuah mimpi baru, yang membuat perwira Basque itu melihat dunia dan segalanya dengan mata yang baru, yaitu mata Kristus. Dalam kehidupan ini, setiap orang pasti memiliki ‘cannonball’s moment’, yang tidak kita kehendaki ataupun yang tidak bisa kita hindari. Bentuknya mungkin hilangnya pekerjaan, tragedi kematian orang yang sangat dicintai, atau bahkan dampak penderitaan akibat pandemi Covid-19. Namun, seperti Ignatius, kita bisa memakai momen ‘cannonball’ itu sebagai kesempatan untuk mulai mengandalkan rahmat Ilahi atau menggapai panggilan dan tuntunan Ilahi. “Aku mau bersyukur Tuhan, sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan” (Mzm 57: 10-11).
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ