LAYAKKAH SAYA MASUK SURGA?

05 March 2022

Sabtu, 5 Maret 2022

Yesaya 58:9b-14

Mazmur 86:1-2.3-4.5-6

Lukas 5:27-32


“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat”  --- Lukas 5:32


DALAM INJIL LUKAS kita menemukan dua  orang yang berprofesi sebagai “pemungut cukai” berjumpa dengan Yesus. Pertama dalam bacaan Injil hari ini seorang pemungut cukai bernama Lewi dilihat oleh Yesus dan dipanggil-Nya untuk menjadi murid-Nya. Dan kelak kita kenal dengan nama Matius. Peristiwa ini juga juga direkam oleh penginjil Markus (Mrk 2: 13-17) dan Matius sendiri (Mat 9:9-13). Yang kedua ialah pemungut cukai yang bernama  Zakheus yang nampak penasaran ingin sekali melihat wajah Yesus seorang guru yang kondang. Hanya Lukaslah yang mengkisahkan perjumpaan dan pertobatan Zakheus ini (Luk 19: 1-9).

Kita tahu tanggapan orang Farisi dan ahli Taurat akan perjumpaan Yesus dengan orang-orang “pemungut cukai” tersebut. Mereka bersungut-sungut  kepada murid-murid Yesus , katanya, “Mengapa kamu makan minum bersama pemungut cukai dan orang berdosa?” (Luk 5:30). Sedang sewaktu Zakheus dipanggil Yesus supaya turun dari pohon, dan setelah berjumpa Yesus mengatakan bahwa Dirinya akan menumpang di rumahnya, apa reaksi orang-orang itu ? Sama. Mereka “bersungut-sungut , katanya “Ia menumpang di rumah orang berdosa!” (Luk 19: 7).

Mengapa para “pemungut cukai” dicap sebagai orang ‘berdosa’, sebagai sumber ‘kenajisan’ yang perlu dijauhi  ? Para pemungut cukai di Israel waktu adalah orang Yahudi sendiri yang mau berkolabarasi dengan penjajah Roma. Mereka adalah petugas yang diserahi memungut bea dan cukai dari rakyat Yahudi untuk pemerintah penjajah yang dianggap kafir. Para pemungut cukai sering memeras rakyatnya sendiri dengan menarik bea cukai jauh di atas kewajaran guna menguntungkan diri sendiri . Mereka pemeras, dan digolongkan sebagai ‘orang-orang berdosa’ yang perlu dijauhi dalam pergaulan.

Tak jauh berbeda dengan kisah orang Lewi dalam Injil , ia mau menerima panggilan Yesus. Ia mau mengikuti-Nya dengan meninggalkan segala-sesuatu (Luk 5: 28). ‘Meninggalkan segala sesuatu’ bagi Lewi berarti laku tobat dari cara dan gaya hidupnya sebagai pemungut cukai. Dalam hal ini tentu tidak serta merta Yesus melihat orang Lewi dan memanggilnya, melainkan ada suatu proses di balik peristiwa dalam bacaan hari ini, yaitu bahwa dia pasti sudah menanti-nantikan Yesus karena mendengar kuasa-Nya yang mampu menyembuhkan banyak orang dan membawa sukacita. Bahkan dalam Injil ini ditemukan Zakheus seorang pemungut cukai juga yang bertobat, yang ingin sekali melihat Yesus (Luk 19:1-10).

Menantikan kedatangan-Nya, berarti mau menyambut-Nya meski kita sertai dengan pengakuan  ketidak pantasan diri karena  banyaknya kesalahan kita . Dan jelas bahwa inisiatif datang dari pada Yesus yang selalu menghampiri, memanggil kita. Dan kita menanggapi panggilan-Nya meski kita tak merasa pantas.

Meskipun kita berdosa dan sama sekali tidak pantas, tetapi kita tetap mempunyai harapan kuat pada Yesus. Pada peristiwa Yesus dijamu oleh Lewi dan hal itu tidak disukai oleh kaum Farisi, Dia bersabda : “Bukan orng sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat.” Keyakinan akan harapan kita untuk boleh berjumpa dengannya, diperkuat oleh peristiwa Zakheus yang sangat penasaran mau melihat Yesus yang didengarnya banyak membuat mukjizat dan mengajar dengan penuh wibawa.  Yesus juga bersabda, “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk 19:9).

Kita-lah orang “yang sakit itu” yang membutuhkan tabit itu. Kita orang “hilang” yang perlu dicari dan diselamatkan itu ! Setelah kita “ditemukan kembali” dan disembuhkan oleh Yesus, dan salanjutnya dalam ‘hidup baru’ kita tidak berbuat ‘neko-neko’ , karena kerahiman-Nya, tentu kita kita tetap layak untuk masuk surga !. (Fransikus Setiawan)

                                                                             

DOA: “Allah Bapa di Surga, ampunilah kesalahan kami agar kami layak dan pantas berada di hadirat-Mu.  Kami selalu siap mengikuti kehendak-Mu selama kami hidup. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami".

JANJI: “Sebab Engkau ya Tuhan, baik dan suka mengampuni  dan berlimpah kasih setia bagi orang  yang berseru kepada-Nya” Mazmur 86:5

PUJIAN: Dalam pesan yang dirilis di Vatikan, Paus mendesak kaum muda untuk berbagi kehidupan dengan orang lain melalui hubungan yang tidak “dangkal, salah dan munafik”. Penggunaan perangkat elektronik yang tidak terkontrol dapat membuat kita terus terpaku pada layar, katanya. Dengan pesan ini, Paus Fransiskus ingin bergabung dengan kaum muda, dalam menyerukan perubahan budaya, sesuai dengan perintah Yesus untuk bangkit.

 Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.