LOVE, TO BE TRUE, HAS TO HURT
22 November 2021
Senin, 22 November 2021
St. Sesilia, Perawan dan Martir
Daniel 1:1-6.8-20
MT Daniel 3: 52-56
Lukas 21:1-4
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu” -- Lukas 21:3
MARI KITA BERIMAJINASI model Latihan Rohani Ignatius.
Bila orang datang dari sisi Timur kenisah, ia akan menjumpai Gerbang Indah (lih. Kis. 3:2.10) yang menghantar pada Pelataran Kaum Perempuan, batas terakhir akses kelompok ini di kompleks suci tersebut. Di pelataran ini ada 13 kotak derma dari tembaga berbentuk terompet: kecil di atas, besar di bawah. Di situlah orang memasukkan derma sesuai kepentingan dan kewajibannya.
Zaman itu, belum ada uang kertas. Jadi wajar, ketika derma yang dimasukkan banyak, bunyinya nyaring dan lama, seperti kerasnya dering ‘koin’ (uang logam) kemenangan saat memenangi mesin jackpot di kasino.
Menarik sekali bahwa pada perikop ini, Lukas menggambarkan bagaimana Yesus “mengangkat muka dan memperhatikan (Yun. anablepó)” (Luk. 21: 1) mereka yang sedang memberi derma. Ungkapan anablepó mengandung nuansa ada analisa. Dan itu memang terjadi. Melalui perbandingan antara sosok ‘orang kaya’ dan ‘janda miskin’, Lukas ingin menunjukkan sebuah kontras.
Dalam Injilnya, Lukas sering menggambarkan, ‘orang kaya’ (Yun. ploúsios: berkelimpahan) sebagai sosok negatif; contohnya, perumpamaan ‘orang kaya dan Lazarus’ (Luk. 16: 19-31). Mereka sering dikelompokkan dengan para pemimpin agama yang suka “menelan rumah janda-janda” (lih. Luk. 20:47). Sebaliknya, para ‘janda miskin’ adalah mereka yang mudah membuat hati Yesus berbelas kasih, seperti pada kisah ‘Yesus membangkitkan dari mati anak janda dari Naim’ (Luk. 7:11-17).
Dengan imajinasi seperti itu, sangat mudah menilai—itulah makna ‘Yesus mengangkat muka dan memperhatikan’--, karakter si kaya maupun si janda.
Derma si kaya berdering keras, terdengar ke mana-mana dan menarik perhatian. Sebaliknya derma dua peser (lepton) sang janda—sekitar Rp. 4.416,20--, tidaklah bersuara (voiceless), dan tidak ada yang tahu. Hanya Yesus saja yang tahu dan melihat!
Derma si kaya, sesuai dengan namanya kaum ploúsios, atau berkelimpahan, berasal dari sisa-sisa kelebihan kekayaan hidupnya. Mungkin itu juga sisa hasil merampas rumah para janda (lih. Luk. 20: 47). Derma besar itupun samasekali juga tidak mempengaruhi neraca keuangannya. Concern si kaya, dengan derma besar, ia akan mampu memancing berkat pahala yang lebih besar dari Yahwe.
Sebaliknya, dengan mendermakan kurang dari 5.000 rupiah itu, janda tersebut telah “memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya” (Luk. 21: 4). Mungkin, setelah mendermakan seluruh miliknya siang hari itu, janda itu tidak tahu apa yang akan dipakai untuk makan malam hari.
Namun, Yesus mengatakan: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu” (Luk. 21:3). Atas dasar ini, maka dalam sambutan penerimaan Hadiah Nobel Perdamaian di Oslo, Norwegia, 11 Desember 1979, Bunda Teresa dari Kalkuta, mengatakan: “And so this is very important for us to realise that love, to be true, has to hurt”.
Ignatius menganjurkan, melalui imajinasi ini, hendaknya kita makin mengenali Tuhan secara lebih dalam, terutama menyukuri rahmat dan karunia kasih-Nya. (Witdarmono).
DOA: “Ya Tuhan, jadikanlah kami selalu jujur di hadapan-Mu. Kemulian-Mu lebih besar dari segala yang kumiliki”.
JANJI: “Terpujilah Engkau Tuhan, Allah nenek moyng kami, yang patut dihormati dan ditinggikan selama-lamamnya”. Daniel 3:52
PUJIAN: Tradisi Gereja mengisahkan kegigihan St. Sesilia (hidup Abad III), untuk mempertahankan iman dan kemurniannya, telah membuat lebih dari 400 orang, yang dipenjara bersama dengannya di Roma, zaman Walikota Turcius Almachius, bertobat. St. Sesilia kemudian menjadi martir di tangan para algojo Romawi. Pada tahun 1599, makamnya digali dan tubuhnya samasekali tidak rusak, persis seperti saat ia dimakamkan oleh orang-orang Kristen zaman itu. Kini, tubuh santa itu ada di bawah altar gereja di Trastevere, dekat Sungai Tiber di Roma. St. Sesilia menjadi pelindung musik, karena saat ia menikah, ia mendengar musik surgawi di dalam hatinya.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ