LUKAS, DOKTER TERKASIH
18 October 2021
Senin, 18 Oktober 2021
Pesta St. Lukas, Pengarang Injil
2 Timotius 4:10-17b
Mazmur 145:10--13b.17-18
Lukas 10:1-9
“Hanya Lukas yang tinggal dengan aku”, 2 Timotius 4:10
DALAM SURATNYA kepada umat di Kolose, Paulus menyebut Lukas sebagai dokter yang terkasih (lih. Kol 4:14). Memang, Lukas adalah asisten merangkap dokter pribadi Paulus. Ia ikut mewartakan Injil di wilayah Yunani dan sekitar Laut Tengah, dan mencatat perjalanan missioner itu dalam Kisah Para Rasul (lih. Kis 16:10-17; 20: 5-15; 21:1-8; 27:1–28:16). Lukas juga menyertai Paulus saat berada dalam tahanan rumah di Roma, sebelum diadili dan dihukum penggal oleh pengadilan Romawi sekitar th. 68.
Lukas tidak termasuk dalam kelompok murid Yesus, karena ia seorang Yunani. Ia baru menjadi Kristen, mungkin setelah peristiwa Pentakosta.
Namun, Lukas adalah orang seorang terpelajar dan punya niat teguh memberitakan Kabar Baik (Injil) mengenai Yesus Kristus. Secara teliti dan seksama, ia menyelidiki segala peristiwa mengenai Yesus dari asal muasalnya. Ia menggali informasi dari para saksi mata dan pelayan firman, dan kemudian membukukannya dengan teratur (lih. Luk. 1:1-4).
Tradisi menyebutkan, kemungkinan besar, setelah dibaptis, Lukas sering mewawancarai Bunda Maria. Hasilnya adalah kisah-kisah mengenai kelahiran Yohanes Pembaptis, Kabar Malaikat Gabriel, Kunjungan ke Elizabet, Kelahiran Yesus di Betlehem, Peristiwa Yesus dipersembahkan dan diketemukan di Kenisah. Itu semuanya hanya ada pada Injil Lukas.
Sebagai dokter dan sejarahwan, Lukas melihat manusia secara keseluruhan, terutama dalam penderitaan fisik dan mentalnya. Maka, Injil-nya banyak bicara mengenai mereka yang tersingkir dan dijauhi: para orang kusta, pendosa, orang asing, pemungut cukai, kaum perempuan, anak-anak, dan pengemis. Atas dasar itu, Lukas menulis mengenai Yesus yang berbelas kasih, penuh pengampunan dan kerahiman, serta memperjuangkan keadilan. Yesus Kristus adalah Tuhan yang menjadi “penopang bagi semua orang yang jatuh, dan penegak bagi semua orang yang tertunduk, serta yang dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya”, seperti dimadahkan oleh Mzm 145:14.18.
Bagi Gereja Katolik, Injil Lukas menjadi salah satu pembentuk tradisi dan devosi. Dari Injil Lukas, muncul ‘Doa Salam Maria’ (gabungan salam Elizabeth dan salam Malaikat), ‘Kidung Magnificat’, ‘Kisah Natal dengan kandang Bethlehem (yang dipopulerkan oleh St. Fransiskus Asisi)’, ‘Kidung Gloria in Excelsis Deo (dan inspirasi lagu Malam Kudus dan Adeste Fideles)’, ‘Devosi Tujuh Duka Maria’, dan ‘Kidung Nunc Dimitis ( “Sekarang, perkenankan hambamu berpulang”)’.
Semua Misteri Gembira dari Rosario, juga bersumber dari Injil Lukas. Demikian pula, kisah tentang tiga sosialita, Maria Magdalena, Yohana, dan Susana, pendukung finansial kelompok Yesus, serta beberapa perumpamaan seperti ‘Orang Samaria yang Baik’, ‘Kembalinya Anak Hilang’, dan ‘Lazarus dan Orang Kaya’, ‘Orang Farisi dan Pemungut Cukai’, semuanya hanya pada Injil Lukas.
Lalu, hanya Lukas-lah pula yang mengisahkan ‘Perempuan pendosa yang mengurapi kaki Yesus’, ‘Pertobatan Zakheus’, ‘Pertobatan Penjahat di Salib’, ‘Murid Emaus’, dan ‘Kenaikan Yesus’. Bahkan, dua perhentian dalam Jalan Salib, yaitu ‘Yesus Dibantu Simon dari Kirine’ (no. 5), dan ‘Yesus Menghibur Para Perempuan Yerusalem, yang menangisi-Nya’ (no. 8), bersumber pada Injil Lukas.
“Terima kasih St. Lukas, yang telah membuat kita merasakan ‘kerahiman, keadilan, kesetiaan, kasih kemanusiaan ilahi, pengampunan, serta kemuliaan Yesus Kristus’, dalam proses beriman kami”.
DOA: “Terimalah kami ya Tuhan, dalam tangan kasih dan kerahiman-Mu. Itu sudah cukup bagi kami”.
JANJI: "TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan”. Mazmur 145:18.
PUJIAN: Penginjil Lukas menulis Injilnya berdasarkan karakter dan iman pribadinya. Melalui Lukas, kita memiliki gambaran khusus mengenai Yesus, yang berbeda dengan yang kita peroleh melalui Injil Markus, Matius, maupun Yohanes. Ini sesuatu yang istimewa. Pribadi Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh sumber iman dan hidup, yang tidak berbatas. Ini juga menegaskan bagi kita, yaitu bahwa kekhususan pribadi kita masing-masing, juga bisa menjadi ‘jalan bagi orang lain’ untuk mengenal Yesus Kristus, Tuhan kita.
Oleh: H. Witdarmono
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ