“MAGNIFICAT”: DOA PALING RADIKAL

22 December 2022

Kamis, 22 Desember 2022

HARI BIASA KHUSUS ADVEN

1 Samuel 1:24-28

1 Samuel 2:1.4-5. 6-7. 8 a.b.c.d.

Lukas 1: 46-56


“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya”. --- Lukas 1:46-48a


KIDUNG “MAGNIFICAT ANIMA MEA DOMINUM”, ‘Jiwaku memuliakan Tuhan’, merupakan salah satu madah tertua dalam liturgi Gereja.

Sudah sejak berabad-abad, setiap hari ‘Nyanyian Maria” itu didaraskan dalam doa bersama di biara-biara. Dalam Perjanjian Baru, madah Magnificat merupakan rangkaian kata-kata terpanjang, yang diucapkan oleh seorang perempuan. Kumandang kidung ini mengingatkan akan madah dari Hana, istri Elkana, yang memuji Yahwe karena anugerah seorang anak laki-laki, Samuel, yang diterima dari Allah (lih. 1 Sam. 2:1-10). Kidung dari Maria ini juga mengingatkan akan jeritan kegelisahan para nabi saat bangsa Isarel didera penderitaan.

Bagi Maria sendiri, Magnificat merupakan jawaban syukur atas pernyataan Elisabet, saudarinya yang sedang mengandung Yohanes: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan, dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhan-ku datang mengunjungi aku?” (Luk. 1:42-43).

Namun, di sisi lain, Magnificat juga menjadi sebuah jeritan seorang beriman, yang menghadapi kegelapan. Sebagai gadis berusia 13 tahun, Maria telah hamil sebelum menikah. Menurut hukum Yahudi, ia bisa dipermalukan secara publik, dan bahkan terancam dengan hukuman rajam.

Seorang sastrawan mengatakan: “Jangan membayangkan Maria mendaraskan Magnificat itu dengan senyum ketenangan. Maria mungkin berteriak kepada Allah-nya dengan air mata dan tangan terkepal, karena harus menghadapi sebuah masa depan yang tidak bisa ditebak. Di sinilah, Magnificat harus dipahami sebagai sebuah nyanyian keberanian untuk tetap mencari sumber kekuatan Ilahi di tengah penderitaan dan konflik hidup sehari-hari. Nada madah ini keras, kuat, penuh keyakinan dan kepastian akan kuasa Allah. Secara bersamaan, Magnificat juga merupakan pengakuan atas ketidakberdayaan manusia.”

***

INTI MADAH Magnificat adalah pengakuan terhadap pemihakan Allah kepada mereka yang rendah dan tersingkir. “Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya, dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa”. (Luk. 1: 51-53).

Secara sederhana, Magnificat adalah gambaran dari apa yang akan dilakukan oleh Yesus dalam karya dan kehadiran-Nya di dunia. Dia akan mengampuni dosa dan mendamaikan orang dengan Tuhan. Dia akan mencerai-beraikan orang yang sombong, dan mereka, yang merasa paling benar sendiri, dengan menunjukkan jati diri mereka yang sesungguhnya. Dia akan menantang para penguasa kejam seperti Herodes dan Kaisar, dengan menunjukkan kekuatan cinta. Dia akan mewartakan keadilan, belas kasih, dan perdamaian. Dia akan duduk bersama mereka yang miskin, yang lapar, yang berdosa, dan yang terbuang, serta memenuhi mereka dengan harapan. Dia akan mencela orang kaya yang menindas orang miskin. Dia akan minta para pengikut-Nya untuk menyangkal diri, memikul salib mereka, serta mengikuti tapak-tapak perjalanan hidup-Nya, dari sengsara, wafat, hingga kebangkitan-Nya.

Singkat kata, Magnificat adalah madah keyakinan atas kuasa karya Allah dalam kehidupan manusia. Melalui madah ini, Gereja mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah “pola Gereja, yakni dalam hal iman, cinta kasih, dan persatuan sempurna dengan Kristus” (Lumen Gentium, 63). Artinya, kalau kita ingin hidup sebagai anggota Gereja yang sejati, ikutilah pola atau model dari Bunda Maria.

Jangan terkejut bahwa bahkan Yohanes Calvin (1509–1564), tokoh reformasi asal Prancis, yang ‘sejajar’ dengan Martin Luther O.S.A. (1483-1546), menulis: “Sampai hari ini, kita tidak dapat menikmati berkat yang dibawa kepada kita di dalam Kristus, tanpa pada saat yang sama mengakui bahwa Allah telah menganugerahi kemuliaan dan kehormatan kepada Maria, yang dengan rela telah menjadi ibu dari Putra Tunggal-Nya" (lih. Konrad Algermissen, “John Calvin”, dalam Marienlexikon, Regensburg, 1988). Maka dari itu, marilah kita memadahkan kembali Luk. 1:46-55. (WIT)

 

DOA: “Ya Allah yang Maharahim, kepada-Mu hanya satu yang kami ucapkan, ‘dimuliakanlah Nama-Mu yang Mahabesar”.

JANJI: “Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya, dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa”. – Lukas 1: 51-53

PUJIAN: Tiga negara pernah melarang madah Magnificat untuk dinyanyikan secara publik. Di India, saat tahta Kerajaan Inggris menjajah negeri itu (1858-1947), umat dilarang menyanyikan Magnificat di gereja-gereja. Alasannya, ada bait mengenai ‘karya Tuhan menurunkan orang berkuasa dari tahtanya’. Yang sama juga dilakukan oleh rezim penguasa Guatemala pada tahun 1980-an. Ucapan Maria mengenai ‘pemihakan kasih Allah kepada mereka yang miskin’, dinilai berbahaya dan revolusioner. Magnificat dinilai menginspirasi rakyat miskin untuk meyakini bahwa perubahan radikal struktur sosial-ekonomi-politik masyarakat itu mungkin. Di Argentinia, larangan terhadap madah itu lebih keras. Pada tahun 1977, di zaman The Dirty War (1976-1983), di mana banyak orang muda diculik dan dibunuh oleh rezim militer, para ibu yang kehilangan anak-anak mereka, berdemonstrasi di Plaza de Mayo, Buenos Aires, sambil terus mengumandangkan Magnificat. Akibatnya, pemerintah melarang madah tersebut untuk dinyanyikan atau didaraskan di mana saja, termasuk di biara-biara.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.