MAKNA KISAH DAUD VS GOLIAT

19 January 2022

Rabu, 19 Januari 2022 

1 Samuel 17:32-33.37.40-51

Mazmur 144:1-2.9-10

Markus 3:1-6

 

“Engkau yang memberikan kemenangan kepada raja-raja, dan yang membebaskan Daud, hamba-Mu!”

Mazmur 144: 10

 

KITA SEMUA tahu cerita duel Daud vs Goliat,yang  dikisahkan pada bacaan pertama hari ini: 1 Samuel 17. Mungkin, yang kurang banyak diketahui adalah situasi aktual duel tersebut, beserta makna iman di dalamnya. 

Medan duel Daud vs Goliat adalah Lembah Tarbantin, 49 km arah Barat Daya Yerusalem (1 Sam 17:2). Lembah itu memang sering menjadi jalur militer tentara asing untuk menyerang Bethlehem, Hebron, atau Yerusalem.

Sekitar tahun 1010 SM, saat Saul menjadi raja Israel, pasukan Filistin masuk ke ‘jantung’ lembah itu. Selama 40 hari, mereka menantang duel satu lawan satu untuk menentukan kemenangan. Jagoan mereka adalah Goliat dari Kota Gat, yang terletak di pantai Barat Palestina. Ia keturunan suku Enak, yang terkenal dengan postur tubuh mereka yang “tinggi besar” (Ul 2:11. 21; 9:2), rata-rata tinggi mereka sekitar 1,8 m. Mereka pun menjadi andalan pasukan infanteri Filistin.

Bila dalam Kitab Samuel, gambaran mengenai tinggi Goliat “enam hasta sejengkal”, sekitar 2,97 m, serta berat total perlengkapan tempurnya: ketopong tembaga, baju zirah, tombak, pedang dan perisai, sekitar 95 kg, itu semua agak dibesar-besarkan (1 Sam 17:4-7). Tujuannya, agar ada kontras dengan sosok Daud, yang mungkin tingginya sekitar 1,50 - 1,60 m, seperti rata-rata orang Israel zaman itu, dan persenjataannya pun sangat ringan, hanya “lima batu licin dan umban (tali untuk melontarkan batu)” (1 Sam 17:40).

Zaman itu, biasanya setiap pasukan memiliki tiga divisi: divisi berkuda (kavaleri), divisi darat (infanteri), dan divisi pemanah dan pengumban/pelontar batu (semacam artileri). Goliat berasal dari infanteri, yang kalau duel satu lawan satu, pasti menang. Sedangkan Daud, mungkin masuk divisi pengumban, yang punya keahlian melontarkan batu dengan tali (Hak 20:16; 1 Taw 12:1-2). Dalam perang, karena mampu menyerang dari jarak jauh, terkadang divisi ‘artileri’ ini menjadi penentu kemenangan (2 Raj. 3:24-25). 

Duel Daud vs Goliat adalah duel antara infanteri dan artileri, antara kekokohan vs kelincahan, antara sosok besar vs sosok kecil, antara pertempuran jarak dekat vs jarak jauh. Bukan hanya itu saja. Duel tersebut merupakan cerminan duel antar perspektif iman. Goliat mengandalkan apa yang tampak, yaitu kekuatan fisik. Sedangkan Daud mengandalkan apa yang tidak tampak, yaitu iman akan pertolongan Yahwe. Tepatlah Yahwe menugaskan Samuel memilih dan mengurapi Daud. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1 Sam 16: 7). Melalui mata iman inilah, Daud melihat sisi lain dari situasi kritis di Lembah Tarbantin, lokasi duel tersebut, serta juga lawannya.

Hidup kita sering seperti berada dalam ‘Lembah Tarbantin’. Ada situasi gawat, di mana ancaman musuh (Iblis, ‘Goliat’, dan dosa), menjadi sangat dekat di depan mata. Dalam keadaan semacam itu, kemenangan hanya dapat diperoleh bila kita melihat, bersikap, dan bertindak dari perspektif Allah (iman).

Seperti Daud, kita harus melihat diri kita sebagai anggota “barisan Allah yang hidup” (1 Sam 17:26), ada kesatuan dengan Yang Ilahi, di mana Dia-lah yang bekerja dan menentukan. Dan Allah sering memakai ‘yang kecil dan sederhana’ untuk mengalahkan ‘yang besar dan canggih’. Daud juga menjadi gambaran dari ‘Mesias Baru’, yang akan mengalahkan penguasa dan musuh-musuh-Nya, serta membela yang lemah (Mzm 2; 72; 110). Dan, kuasa ‘Mesias Baru’ ini tidak akan berakhir (Mzm. 21; 45).

Kisah Daud vs Goliat mengingatkan apa yang tertulis dalam Kitab Zakharia  “Bukan dengan keperkasaan, dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam” (Za 4:6). Di sini, kekuatan “pedang dan lembing’ (1 Sam. 17:47), kuasa politik atau kekuatan manusia, tidak menjadi penentu karya Ilahi. Seperti Yesus, kita hanya dapat melaksanakan pekerjaan Allah, bila kuasa Roh Kudus dianugerahkan kepada kita (Luk. 4:1.18). Gereja juga hanya bisa bekerja, karena pada hari Pentakosta, Roh Kudus telah dicurahkan kepada Gereja (Kis 1:8; 2:4). Duel Daud vs Goliat adalah duel yang selalu ada dalam perjalanan iman kita. (WITDARMONO)

 

DOA  :  “Ya Bapa yang Mahakuasa, berikanlah kepada kami keberanian dan iman agar mampu mengalahkan kesombongan diri atas keistimewaan kami. Jadikanlah kami pribadi yang mampu melihat Allah dalam segala sesuatu”.  

JANJI :  “Lalu keluarlah orang-orang Farisi, dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia”. Markus 3:6

PUJIAN: S. Ignatius dari Loyola, mantan perwira tentara Spanyol, sangat peka terhadap ‘perang abadi antara yang baik vs yang jahat’ dalam kehidupan manusia. Dalam perang semacam itu, strategi paling utama adalah selalu bersatu melihat ’banderas’ yang sama. Banderas bukanlah sekedar bendera, tetapi sebuah standar atau patokan sikap, mis. merah: berani; putih: suci. Atas dasar itu, maka dalam setiap perang melawan kejahatan, harus diawali dengan meditasi mengenai Banderas Kristus (‘Yang Diurapi’) dan Banderas Lucifer (‘pembawa terang’). Langkah pertama selalu mohon rahmat Tuhan, karena nama Lucifer banyak mengecoh orang. Kemudian, mohon rahmat “pengertian atas tipu muslihat pemimpin jahat itu, dan pertolongan untuk menjaga diri menghadapinya, dan juga mohon pengertian tentang hidup sejati yang diajarkan Panglima tertinggi yang sejati, serta rahmat untuk meneladani-Nya” (LR 139). Genderang perang pun harus disertai dengan seruan: “serviam”, ‘aku akan mengabdi-Mu, Kristus!’ Dan, sementara bertempur, “non serviam!”, ‘aku tidak akan (pernah) mengabdimu, hai Setan!’ 

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.