MAMPU MEMBERI DARI KEKURANGAN

06 June 2020

Sabtu, 06 Juni 2020

St. Norbertus, Uskup

2 Timotius 4:1-8

Mazmur 71:8-9, 14-15a, 16-17, 22

Markus 12:38-44

 

          “…. Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang  yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” ----  Markus 12:43-44

 

"PANIC BUYING” – Beli-beli -- menjadi berita yang viral, ketika bulan akhir Maret lalu, terjadi peristiwa Pandemi Covid-19. Kurangnya informasi, sikap kurang peduli, dan kurangnya pemahaman tentang penyebaran dan penanggulangan virus ini, menyebabkan kecemasan dan ketakutan di masyarakat, terlebih saat mulai jatuh korban jiwa. Berita yang tersebar di media sosial yang belum tentu benar, atau bahkan sekedar hoax, membuat situasi semakin kacau. Adanya himbauan pemerintah untuk melakukan ‘social distancing, physical distancing’ (Jaga Jarak), dan gerakan  ‘Tinggal di rumah’ saja, disikapi secara berlebihan oleh sebagian masyarakat. Banyak yang khawatir tentang bagaimana bertahan hidup jika harus di rumah saja. Sehingga terjadi situasi panic buying, di mana banyak orang membeli dan menimbun bahan pokok untuk dirinya sendiri. Muncul perilaku egois, mementingkan diri sendiri tanpa mau berbagi dengan yang lain. Yang ada hanya ego untuk selamat dari kelaparan saat harus tinggal di rumah saja sambil berharap badai virus Covid-19 berlalu.

Bagi orang kaya, membeli barang dalam jumlah banyak dan menimbunnya di rumah tentulah bukan masalah. Mereka tidak memperhitungkan bagaimana dengan orang yang hidupnya pas-pasan, atau orang yang miskin, mereka yang buruh harian. Perilaku panic buying mengakibatkan barang-barang kebutuhan hidup menjadi langka di pasaran, dan harga barang menjadi naik. Orang-orang miskin menjadi semakin sulit hidupnya, karena banyak dari mereka yang mungkin hanya mampu membeli untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama satu hari saja.

Sikap ini sungguh berbeda 180 derajat, jika dibandingkan dengan apa yang disaksikan Yesus, yakni adanya  seorang janda miskin yang memberi ke dalam peti persembahan. Meskipun ia hanya memasukkan dua keping uang tembaga, yaitu uang receh terkecil,  tetapi bagi Yesus, janda miskin tersebut memberi lebih banyak daripada semua orang. Mengapa? Karena uang tersebut merupakan satu-satunya harta yang dia miliki, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya (Mrk 12:42-44).

Kadang kala orang berbagi hanya dari menyisihkan sebagian kecil dari hartanya, atau bahkan hanya berbagi saat sudah merasa berkecukupan. Tetapi di sini, Sikap janda miskin itu menjadi contoh bagaimana ia tidak mementingkan dirinya sendiri meski hidupnya berkekurangan. Hal itu tidak menghalanginya untuk berbagi dengan sesamanya melalui peti persembahan. Ia dengan sungguh hati mempersembahkan seluruh hidupnya hanya untuk Tuhan.

 

DOA:  Yesus, berikanlah kami hati yang peka, sehingga mampu berbagi dengan orang-orang di sekitar kami yang memerlukan pertolongan.

JANJI:  “Tetapi aku senantiasa mau berharap dan menambah puji-pujian kepadaMu, mulutku akan menceritakan keadilanMu  dan keselamatan yang dari padaMu sepanjang hari”--Mazmur 71:14-15a,

PUJIAN :Bapak Frans  selalu setia melatih putra altar yang akan bertugas melayani  Ibadat Misa. Meskipun penghasilannya kecil, tetapi ia selalu membawakan kue untuk memotivasi putra-putri altar yang dilatihnya.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.