MANUSIA DAN ATURAN

17 January 2023

Selasa, 17 Januari 2023

St. Antonius, Abas.

Ibrani 6: 10-20      

Mazmur 111 : 1-2,4-5, 9,10c  

Markus 2 :23-28


“Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari  Sabat.  Jadi, Anak Manusia adalah Tuhan, juga atas hari Sabat.“ --- Markus 2:27-28


SEORANG ANAK dihukum oleh gurunya karena terlambat datang ke sekolah.  Sekali, dua kali, tiga kali, dan di hari-hari berikutnya hampir setiap hari anak itu terlambat dan guru semakin emosi. Setiap hari ia menghukum si anak dengan memberikan pukulan di telapak tangan anak itu dengan tongkat pemukul yang semakin hari semakin keras agar anak itu bertobat dan tidak datang terlambat lagi. Sang anak hanya terdiam, meringis menahan sakit.  Ditambah lagi, teman-teman sekelas menikmati tontonan tersebut sambil merundunginya.  Ini penggalan konten video singkat yang merupakan sebuah kisah nyata.

Bicara tentang aturan/tata tertib, sebagai orang Kristiani kita pertama kali mengenalnya dalam Sepuluh Perintah Allah, yaitu sepuluh ketentuan  yang diturunkan langsung oleh Allah melalui nabi Musa di atas gunung Sinai untuk dilakukan oleh umat-Nya (pada waktu itu, bangsa Israel). Tujuan Allah memberikan hukum/aturan tersebut adalah untuk membantu manusia mengenal Dia dengan lebih baik dan benar, mengalami cinta kasih-Nya,  mengatur hidup pribadinya dengan baik serta menjalin relasi yang saling hormat menghormati, kasih mengasihi dengan sesama. Semua itu secara keseluruhan adalah untuk kebaikan dan keselamatan manusia sebagai pribadi maupun bersama-sama.    Dekalog/Dasatitah kemudian dijabarkan lebih detil oleh Musa supaya dapat dimengerti dan diterapkan dalam hidup sehari-hari umat Israel.  Salah satunya adalah tentang hari Sabat. 

Namun dalam pelaksanaannya, dari Alkitab kita temukan beberapa cerita tentang bagaimana orang-orang Farisi secara dangkal menafsirkan dan menerapkan aturan hari Sabat.  Bagi mereka hukum adalah diatas segalanya,  hukum di atas kepentingan manusia, kaku, tanpa cintakasih didalam pelaksanaannya.   Dalam Injil hari ini, dihadapan kaum Farisi, Yesus mengatakan bahwa hari Sabat dibuat untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat. Hukum dibuat untuk kebaikan, kebahagiaan, keselamatan bagi manusia, bukan untuk merugikan, menyakiti/ mengorbankan apalagi berkuasa atas manusia. Yesuslah  yang berkuasa atas manusia. Yesus telah meluruskan kembali bagaimana hubungan yang seharusnya antara manusia dan peraturan/hukum yang dibuat.  Dan itu berlaku sampai saat ini dan selamanya.

Kembali kepada ke video tentang kisah tentang penghukuman anak,  adalah  sebuah contoh  yang mengingatkan bahwa kita bisa saja menjadi kaum Farisi jaman ini yang menempatkan aturan-aturan diatas martabat manusia.  Kita mudah membuat aturan-aturan, kita mau aturan kita ditaati oleh orang lain, tapi kita sendiri sering tidak konsekuen melakukannya, aturan orang lain pun kita langgar.   Lebih parah lagi, terhadap orang lain apalagi kaum yang lebih lemah kita menerapkan aturan dengan keras dan kaku, tanpa mempedulikan mengapa ia melanggar, ada masalah apa, apakah ia memerlukan bantuan tapi tidak berani mengatakannya sebab merasa sungkan/takut.  Sebagai pengikut Kristus,  kita haruslah seia sekata dengan Dia, terutama dalam hal cinta kasih yang tetap harus diutamakan dalam menerapkan aturan.   Jangan hanya bisa menghukum, tapi cobalah untuk mencari tahu akar masalah dari pelanggaran tersebut dan bila dibutuhkan bantulah mencari solusinya.  Hukuman mungkin diperlukan untuk menimbulkan efek jera.   Di akhir video tersebut, sang guru sangat menyesal dan memohon maaf kepada anak didiknya tersebut ketika mengetahui bahwa sang anak selalu terlambat karena harus merawat orangtuanya yang sedang sakit parah terlebih dulu sebelum ia berangkat sekolah, tidak ada orang lain yang dapat membantunya. (VLB).

 

DOA: “Allah Bapa, jadikanlah kami anak-anak-Mu yang disiplin, namun tetap terbuka dan peduli terhadap sesama, tumbuhkan dengan subur cinta kasih dalam hati kami supaya kami dapat hidup menurut teladan Putera-Mu.”

JANJI: “Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; Tuhan itu pengasih dan penyayang. Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya.”  - Mazmur 111:4-5

PUJIAN: Hari ini Gereja merayakan peringatan Santo Antonius Abas dari Mesir. Ia lahir dari keluarga kaya di Mesir sekitar tahun 250. Ia mewarisi harta orangtuanya ketika berusia 20 tahun, namun ia membagikan seluruh harta warisannya kepada kaum miskin. Ia menjadi panutan dalam gaya hidup penyangkalan diri. Ia makan satu kali sehari dengan menu roti dan air. Ia meninggalkan keduniawian dan tinggal di kuburan dan pernah selama 20 tahun hidup dalam sebuah benteng kosong, tanpa bertemu seorang pun. Ia sering diganggu oleh setan-setan, namun ia selalu menang. Ketika umat Kristiani mengalami aniaya pada jaman kaisar Maximianus, kaisar kafir terakhir, Santo Antonius Abas keluar dari benteng dengan niat untuk mati karena iman. Namun Tuhan menuntunnya bekerja melayani orang-orang Kristiani yang dipeker-jakan di tambang-tambang milik kaisar sebagai orang hukuman. Pengalaman tersebut meyakinkannya bahwa hidup secara Kristen pun sama salehnya dengan mati untuk kekristenan.  Setelah itu, ia pun meninggalkan kediamannya untuk membela ortodoksi melawan ajaran sesat Arius.  Banyak orang, termasuk Kaisar  Konstantinus meminta nasihat spiritual dari sang pertapa ini. Ia wafat pada usia 105 tahun; sampai pada akhir hayatnya ia berada dalam keadaan sehat pikiran dan jasmani.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.