MARI DATANG DAN LIHAT

16 May 2021

Minggu, 16 Mei 2021

Minggu PASKAH VII

Hari Komunikasi Sedunia

Kisah Para Rasul 1:15-17, 20-26

Mazmur 103:1-2, 11-12, 19-20ab 1

Yohanes 4:11-16 Yohanes 17:11b-19


“Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka, yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes, sampai hari Yesus terangkat ke Surga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.” Kisah Para Rasul 1:21-22


KETIKA YESUS bertemu dengan dua murid Yohanes Pembaptis, yang ingin mengenal Diri-Nya, Ia hanya berkata: “Mari datang, dan kamu akan melihat!” (Yoh 1:39). Dengan mengenal Yesus secara konkret, keduanya kemudian mengikuti Yesus sebagai Rasul.

“Mari datang, dan lihat!”, juga dikatakan oleh Filipus kepada Natanael, yang dikenal dengan nama Bartolomeus (Yoh 1:47). Berkat ‘datang dan melihat Yesus secara pribadi’, Bartolomeus menjadi satusatunya Rasul, yang mewartakan Injil Yesus Kristus, sampai ke India.

Dua kata, “datang dan lihat’ itu, menjadi awal dan bagaimana iman Kristiani dikomunikasikan. Melalui dua kata itu, ada pengetahuan dan pemahaman langsung, yang tercipta dari pengalaman, dan bukan muncul dari ‘katanya’. Inilah, yang dikatakan kepada perempuan dari Samaria oleh penduduk, setelah Ia tinggal dua hari bersama mereka. “Sekarang, kami percaya, bukan lagi karena apa yang kaukatakan, tetapi karena kami sendiri telah mendengar Dia, dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juru Selamat dunia” ( Yoh. 4:39-42).

Dalam Gereja Perdana, kerangka ‘datang dan melihat’ kehidupan Yesus—mulai dari baptisan Yohanes hingga kenaikan-Nya ke Surga--, menjadi syarat utama dari jabatan pelayanan. Kerangka ini berlaku pula untuk zaman ini, seperti ungkap Paus Fransiskus dalam Pesan Hari Komunikasi Sedunia 2021 saat ini.

Menurutnya, zaman ini, yang paling diperlukan, adalah berita yang jelas dan jujur, yang diperoleh melalui ‘datang dan melihat sendiri’. Inilah metode jurnalistik dan komunikasi paling utama. Paus kemudian mengutip kata-kata Beatus Manuel Lozano Garrido (1920-1971), wartawan Spanyol, kepada rekan-rekannya: “Saat menulis dan memberitakan fakta, kita harus selalu membuka mata dan menyentuh kesegaran gerak hidup realitas, sehingga audiences mampu merasakan sentuhan pertama mukjizat semangat kehidupan”.

Memang, salah satu prinsip jurnalisme adalah ‘turun ke lapangan’. Ini butuh kerendahan hati dan kejujuran untuk selalu ingin tahu; perlu sikap terbuka terhadap fakta, serta kemauan meletakkan compassion dan suara hati, saat berjumpa langsung dengan fakta.

Sebagai orang Kristen, dasar compassion dan suara hati itu adalah kesatuan dengan sikap Kristus dan suara Roh Kudus, yang dipelihara dalam “kumpulan Gereja Rasuli, serta terarah untuk memberi kesaksian mengenai Kebangkitan Yesus Kristus” (Kis. 1: 21-22). Inilah dasar kerasulan setiap komunikasi sosial Gereja. Kesatuan kita dengan Yesus membawa konsekuensi dalam karya Komsos juga karena karya-Nya itu menyangkut kaum miskin, tertindas, dan terpinggirkan.

Saat ini, kita bisa bertanya misalnya, apakah dalam situasi pandemi Covid-19, kita juga berani ‘datang, melihat, mendengarkan, serta mewartakan’ jeritan suara kelompok marjinal? Berani singkirkan dan perangi berita-berita manipulatif dari medsos yang tidak benar?

Paus Fransiskus mengatakan, tantangan utama komunikasi zaman ini, adalah keberanian dan kejujuran menjumpai orang lain seperti ‘apa adanya’, di tempat mereka yang konkret, bukan lewat zoom, karena di situ, kita hanya menjadi penonton belaka. Penginjil Yohanes menekankan, kemampuan menjumpa sesama ‘apa adanya’, khususnya yang marjinal, hanya mungkin diwujudkan, bila ada kesatuan rohani (inner life) dengan Allah. Kesatuan ini adalah dasar dari semua Misi dan Evangelisasi Komsos Gerejani. (WIT)

DOA: “Allah Bapa yang Mahapengasih, mampukanlah kami untuk selalu melihat dan menjumpai sesama kami, sebagai Wajah-Mu sendiri.”

JANJI: “Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita” 1 Yohanes 4:12

PUJIAN: Sampai tahun 2010, belum pernah ada wartawan yang dinyatakan sebagai ‘Beatus’, apalagi menjadi ‘Sanctus’ (Santo). Paus Benediktus XVI, 12 Juni, 2010, menyatakan, Manuel Lozano “Lolo” Garrido (1920-1971), wartawan dan penulis rohani asal Spanyol, sebagai ‘Beatus’, satu langkah menuju ‘Sanctus’. Lolo dikenal karena devosinya kepada Sakramen Mahakudus. Tahun ‘30-an, saat rezim militer Spanyol menganiaya Gereja, remaja Lolo sudah dipenjarakan, karena pelayanannya mengirim Sakramen Ekaristi, kepada umat beriman. Sebagai wartawan dan penulis, meski ia kemudian buta dan bahkan lumpuh, Lolo dikenal gigih. Ratusan artikel dan esai, sebuah novel, dan sembilan buku mengenai hidup rohani, telah ditulisnya. Fokus hidupnya adalah devosi kepada Sakramen Mahakudus, dan doa kepada Bunda Maria.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.