MARIA: BUNDA KRISTUS-BUNDA GEREJA- BUNDA KITA
24 May 2021
Senin, 24 Mei 2021
Maria Bunda Gereja Maria della Strada
Kejadian 3:9-15,20
Mazmur 87:1-7
Yohanes 19:25-34
“Ketika Yesus melihat Ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada Ibu-Nya, ‘Ibu, inilah, anakmu!’. Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: ‘Inilah ibumu!.” Yohanes 19:26-27
DALAM PRAKTEK Ibadat kita, kita semua umat katolik akrab dengan Bunda Maria, dengan doa “Salam Maria”, doa “Rosario” dan “Malaikat Tuhan” Hari ini, hari pertama sesudah Hari Agung Pentakosta, sebagai Hari Lahirnya Gereja, kita masuk kembali ke lanjutan Masa Biasa. Gereja memutuskan secara Liturgis, hari ini ditandai dengan gelar Maria, sebagai Hari ‘Maria Bunda Gereja’, sebab pada hari agung Turun-Nya Roh Kudus, Maria berada di tengah-tengah para rasul dan para murid-Nya. Mereka adalah embrio Gereja. Kepada mereka Yesus menjelang wafatNya di kayu salib, telah menyerahkan Maria kepada Yohanes, mewakili para murid semuanya, sebagai Ibu, sebagai Bunda para murid-Nya, sebagai Bunda kita semua kaum beriman.
Dalam Konsili Vatikan II, 1962—1965, dikeluarkan satu Dokumen mahapenting, yakni Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, yakni “Lumen Gentium” (Terang bangsa-bangsa). Di dalamnya ada Bab khusus tentang Bunda Maria, dalam ‘Misteri Kristus dan Gereja’. Maria ‘memang Bunda para anggota (Tubuh Kristus)… karena dengan cinta kasih ia menyumbangkan kerjasamanya, supaya dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota Kepala itu” (LG 53).
Kita sebagai anggota Gereja sangat diharapkan meneladan sifat dan semangat Bunda Maria, sang Bunda Gereja. Antara lain:
- Mau menjadi ‘Hamba Tuhan’ ikut aktif terlibat dalam mengembangkan Gereja setempat;
- Mau seperti Bunda Maria, bekerja sama dengan cinta kasih keibuannya, melahirkan dan mendidik umat beriman;
- Tidak hanya menghormati dan mengagumi Bunda Maria sebagai ‘Bintang Evangelisasi’ tetapi memohon semangat Maria untuk selamanya dan di manapun saja, kita memiliki semangat pewartaan.
- Bunda Maria adalah Bunda Yesus sang Penebus, yang dikandung tanpa noda, kita putra-putri Maria dengan bantuan Roh Kudus, diharap untuk hidup semakin hari semakin kudus, mengatasi daya tarikan ‘manusia lama’ agar semakin dipola dan semakin dirubah serupa dengan Kristus, Putera Maria sendiri. (SW)
DOA: “Ya Yesus, selama 30 tahun Engkau tinggal bersama orangtua di Nazaret, hidup patuh mengikuti kebiasaan saleh bangsa-Mu, semoga kami-kami juga menyerap kebiasaan-kebiasaan saleh dalam komunitas kami selaras dengan teladan Bunda-Mu.”
JANJI: “Sejak saat itu murid itu menerima dia (Maria) di dalam rumahnya.” Yohanes 19:27
PUJIAN: Banyak gelar-gelar yang diberikan kepada Bunda Maria sepanjang tahun, yang kita rayakan. Kita khususkan bulan Mei sebagai “Bulan Maria’, bulan Oktober sebagai ‘Bulan Rosario’. Gereja juga pernah dua kali mengadakan Tahun Maria. Pertama Pius XII, 1954, untuk memperingat seabad Ajaran tentang Bunda Maria dikandung Tanpa Noda. Dan Paus Paulus II, dalam Ensiklik ‘Redemptoris Mater’ (Ibu Sang Penebus), yang diterbitkan pada 25 Maret, 1987, menetapkan tahun 1987 (mulai Pentakosta, 7 Juni, 1987 s/d Pesta Maria diangkat ke sorga, 15 Agustus, 1988) mengenai devosi-devosi kepada Maria. Umat diajar menghayati kehidupan iman secara dewasa agar ‘semangat ber-Maria’ (devosi-devosi kepada Bunda Maria) selaras dengan ajaran Konsili, yang hendaknya berujung ‘per Mariam ad Iesum’.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ