Maria Magdalena: Rasul Perempuan !
16 September 2022
Jumat, 16 September 2022
1 Kor 15:12-20
Mazmur 17:1,6-7,8b.15
Lukas 8 : 1-3
Dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh_roh jahat atau berbagai penyakit yaitu Maria yang disebut Magdalena --- Lukas 8 :2
PADA TANGGAL 16 Maret 2018, Garth Davis merilis sebuah film Hollywood dengan judul “Mary Magdalene”. Tujuannya tentu satu, ia ingin menjadikan sentral: kisah panggilan dan misi Maria Magdalena. Ini adalah kisah tentang ketulusan, yang menunjukkan kegembiraan dan kesulitan, terutama bagi seorang perempuan, meninggalkan segalanya untuk mengikuti Kristus, dan sebuah kisah tentang apa yang diperlukan untuk bertekun dalam kemuridan, bersama Kristus, sampai akhir.
Film ini tidak mengacu pada Maria dari Magdala sebagai pelacur atau sebagai perempuan dengan skandal seksual. Dan memang Maria Magdalena dalam keempat Injil tidak pernah disebut sebagai pelacur. Misalnya, injil Lukas hari ini, memberi tahu kita, “Selain ke dua belas murid Yesus, ada juga perempuan–perempuan yang ikut serta dalam rombongan itu. Para perempuan ini adalah orang–orang yang telah mengalami kuasa Yesus. Maria Magdalena, perempuan yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat.' (Lukas 8:1-3). Apa yang kita ketahui adalah bahwa Maria Magdalena adalah seorang murid setia yang berada di barisan depan untuk menyaksikan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Yesus termasuk penyaliban dan penguburan-Nya, serta menjadi salah satu orang pertama yang kepadanya Kristus yang Bangkit menampakan diri. Memang, selama berabad-abad identitasnya sering dikacaukan dengan identitas perempuan yang kedapatan berbuat zinah yang tidak disebutkan namanya dalam Lukas 7, dan di lain waktu digabungkan dengan Maria dari Betania yang mengurapi kaki Yesus. Film Mary Magdalene bertujuan untuk meluruskan cerita.
Yang paling menggetarkan kita adalah hasrat spiritual yang dalam dan ketajaman Maria Magdalena, yang diperankan dengan indah oleh Rooney Mara. Dia adalah seorang wanita muda Yahudi yang kuat, penyayang dan jeli yang dengan tulus merasakan roh Tuhan bekerja di dalam dirinya, mengundangnya ke sesuatu yang jauh lebih memuaskan daripada tunduk pada perjodohan paksa keluarganya. Film ini tidak mengabaikan biaya keras pemuridan bagi Maria. Dalam budaya yang didorong oleh kehormatan dan rasa malu, menentang keinginan keluarganya untuk mengikuti seorang pengkhotbah baru yang karismatik bernama Yesus berarti dia akan ditolak.
Tetapi Maria memang memilih untuk mengikuti Yesus. Terlepas dari persaingan yang meletus di antara para murid (yang muncul dari masalah gender, kesetaraan, keintiman emosional dengan Yesus dan bahkan kepemimpinan), Yesus sangat menghargai naluri dan wawasan feminin Maria, terutama dalam hal membawa pesan-Nya tentang Kerajaan Allah dan pengampunan kepada orang-orang yang terpinggirkan, yakni perempuan.
Di dalam film, interaksi Petrus dengan Maria Magdalena kadang-kadang ramah, namun di waktu lain cemburu dan menuduh, menunjukkan bahwa dia telah “melemahkan Yesus” dan bahwa pemuridannya akan menjadi penyebab penghakiman dan perpecahan dalam komunitas. Terakhir, Perawan Maria lebih tua dan berbicara lebih tajam daripada penggambaran lainnya, tetapi kita menemukan hubungannya dengan Maria Magdalena, yang berasal dari cinta mendalam yang dimiliki kedua perempuan itu kepada Yesus, cukup mengharukan.
Kisah Maria Magdalena juga merupakan kisah semua perempuan. Kristus adalah pusat hidupnya, dan Dia juga pusat kehidupan setiap perempuan. Kita dapat memahami perjumpaannya yang penuh kuasa dengan Kristus dan dengan bagaimana pengabdiannya yang mendalam untuk mengikuti Dia dan melayani Dia membawa pemenuhan yang besar. Maria Magdalena adalah Rasul dari Para Rasul. Pada tahun 2016, gelar ini akhirnya tercermin dalam peningkatan perayaan liturginya dalam kalender Romawi menjadi pesta, setara dengan para rasul. Semoga kisahnya terus menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mewartakan Kabar Gembira Kristus yang Bangkit dengan anugerah seluruh hidup kita.
DOA: Santa Maria Magdalena, yang sering disalah tafsirkan sebagai perempuan pendosa, yang oleh pertobatan menjadi kekasih Yesus, terima kasih atas kesaksianmu bahwa Yesus mengampuni melalui mukjizat cinta. Kamu yang sudah memiliki kebahagiaan abadi di hadirat-Nya yang mulia, mohon doakanlah kami, agar suatu hari nanti kami dapat berbagi dalam sukacita abadi yang sama.
PUJIAN: Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma. (Kidung Agung 1:5)
JANJIi: Belajar menjadikan Kristus dijumpai lewat pelayanan seorang perempuan.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ