MASIH ADA WAKTU BERAPA LAGI?
20 July 2018
Jumat, 20 Juli 2018
St. Apolinaris, UskMrt
Yesaya 38:1-8,21-22
MT Yesaya 38:10-12,16
Matius 12:1-8
Sewaktu Raja Hizkia sakit dan jelang meninggal, nabi Yesaya datang dan berkata kepadanya: “Beginilah sabda Tuhan, ‘sampaikan pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, dan tidak akan sembuh lagi!” --- Yesaya 38:1
SEORANG KETUA Lingkungan datang kepada saya memberi kabar bahwa salah seorang warga di Lingkungannya sudah beberapa kali sakit. Dan keadaan yang terakhir nampak semakin memburuk. Dia memintakannya Sakramen “Perminyakan Orang Sakit” baginya. Anak-anak dan keluarga sudah datang, berkumpul dan berdoa. Disaksikan keluarga, yang sakit menerima Sakramen Tobat, Urapan Sakramen Minyak Suci dan menyambut Komuni kudus. Yang menderita nampak tenang dan keluarga lega.
Bagaimana kalau kita sendiri yang sakit? Dan kita diberi tahu hidup kita tinggal beberapa hari lagi!? Hizkia, dalam bacaan pertama, Raja Israel yang hidup delapan abad sebelum Kristus. Dia dinyatakan sakit keras dan sebentar lagi meninggal. Dia lalu berbalik kepada Tuhan dalam doa, dan doanya didengar Tuhan. Yesaya memberi jaminan kepadanya bahwa hidupnya diperpanjang 15 tahun lagi.
Ada orang yang bertanya kepada Santo Ignatius Loyola, apa yang ia akan lakukan, kalau diberi tahu bahwa dia tinggal 15 menit lagi hidupnya!? Jawabnya Ignatius: “Aku akan meneruskan mengerjakan apa yang saya lalukan waktu itu!” Ini benar-benar sikap kerohanian yang dewasa. Diandaikan apa yang dilakukan bukanlah sesuatu dosa, Ignatius melakukan apa yang dikehendaki Allah untuk saat itu, entah itu berbincang, menulis, berdoa ataupun baru bermain.
Seperti umumnya, orang akan segera memanggil pastor, menyambut sakramen-sakramen dan mengucapkan ‘selamat tinggal kepada orang-orang yang dikasihinya’.
Bagi kita orang Kristiani, sejauh diri kita dalam keadaan ber-rahmat, apapun yang kita lakukan, juga hal-hal biasa , itu semua suci adanya. Kita tak perlu takut.
Doa: Bapa, berilah rahmat-Mu untukku agar aku tetap tenang dalam keadaan apapun, juga di saat-saat gawat, sebab aku sadar bahwa Bapa selalu menyertaiku.
Janji: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kalian tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah” --- Matius 12:8
Pujian: Dalam bulan Mei, Dwiyanta lebih menyadari Doa “Salam Maria” bagian kedua yang berisi permohonan: “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami, yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.”
Penanggung jawab RH: Rm Subroto Widjojo, SJ