MATA JAHAT

18 August 2021

Rabu, 18 Agustus 2021

Hakim 9:6-15

Mazmur 21:2-7

Matius 20:1-16a


“Ataukah matamu jahat, karena Aku murah hati?” Matius 20:15


KEBANYAKAN PENTERJEMAH meng– Indonesiakan Matius 20, ayat 15, sebagai berikut, “Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?”. Yang tepat, seperti dalam bahasa aslinya, Yunani, adalah “Ataukah matamu jahat, karena aku murah hati?”. 

Memang ‘perumpamaan orang-orang upahan’ ini bicara mengenai ‘mata yang jahat” (Yun. ophthalmos pon?ros), bukan mengenai iri-hati. Ungkapan ‘mata yang jahat’ adalah konsep Semit dan Alkitab Ibrani. Dalam Injil, ungkapan tersebut muncul 4 (empat) kali, dengan 3 (tiga) konteks yang berbeda. 

Konteks pertama adalah mata sebagai pelita tubuh. “Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu” (Mat 6:22-23; Luk 11:34).

Yang kedua adalah keterkaitan dengan munculnya “segala pikiran jahat, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, mata-jahat (Yun. ophthalmos pon?ros), hujat, kesombongan, kebebalan, yang semuanya muncul dari dalam, dari hati, dan menajiskan orang” (Mrk 7:21-22).

Yang ketiga, adalah ‘mata-jahat’ dalam perumpamaan orang-orang upahan (lih. Mat 20:15). Di sini, ‘mata-jahat’ itu membuat para pekerja yang sudah sehari suntuk bekerja, tidak mau menerima kemurahan hati sang majikan kepada mereka yang hanya bekerja satu jam. Ada kecurigaan dan tuduhan tidak adil. Inilah yang menggelapkan mata orang dan menjadikannya mata-jahat.

Apa makna dari ketiga konteks mata-jahat ini? Mata-jahat telah menyempitkan mata kita, sehingga sinar Ilahi yang datang ke jiwa dan batin, berkurang. Bahkan mata-jahat bisa menutupi mata, dan membuat terang keselamatan berubah menjadi kegelapan dosa. Mata-jahat juga bisa menyempitkan pandangan mengenai orang lain, sehingga demi kepentingan pribadi, kekuasaan, kehormatan, ataupun harta, kita bersikap negatif terhadap kedudukan, kesuksesan, dan kekayaan, orang lain. Mata-jahat tercipta karena ketidakpuasan, karena tidak ada syukur atas anugerah kemurahan Ilahi. Itu saja. (WIT)

DOA: “Ya Bapa yang Maha Pemurah, jadikanlah mata kami tetap murni, sehingga kami hanya melihat anugerah keagungan dan kemuliaan-Mu dalam hidup kami belaka.”

JANJI: “Ya, Engkau membuat dia menjadi berkat untuk seterusnya; Engkau memenuhi dia dengan sukacita di hadapan-Mu.” Mazmur 21:7

PUJIAN: Bacaan pertama Kitab Hakim 9:6-15 bicara mengenai ‘perumpamaan pohonpohon’. Ketika Abimelekh, anak Gideon dari gundiknya, menjadi raja di Sikhem, maka Yotam, anak bungsu Gideon, yang lolos dari pembunuhan oleh saudara tirinya, membongkar kelicikan saudaranya itu lewat perumpaaan pohon zaitun, pohon ara, pohon aggur, dan pohon semak berduri. Tiga pohon pertama tidak bersedia dan tidak rela memberikan minyak, rasa manis, serta air buah mereka, yang menyukakan hati Allah dan manusia, untuk mengurapi raja. ‘Mata hati’ mereka tetap murni, setia pada tujuan penciptaan dari Tuhan. Sebaliknya, pohon semak berduri justru—dengan mengancam--, bersedia mengurapi raja. Dan terjadilah, setelah tiga tahun memerintah, Abimelekh mati terbunuh secara memalukan (Hak 9:50- 57).

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.