MAU RENDAH HATI

28 August 2022

Minggu, 28 Agustus 2022

MB XXII

Sirakh 3: 17-18, 20, 28-29  

Mazmur 68: 4-7, 10-11  

Ibrani 12: 18-19, 22-24a

Lukas 14: 1, 7-14

  

“Makin besar engkau, makin patut kaurendahkan dirimu, supaya kaudapat karunia di hadapan Tuhan!” (Sir 3 :18)

Sirakh 3: 18

 

DALAM INJIL hari ini, Yesus mengajak kita untuk belajar ‘rendah hati’. Dalam peristiwa perjamuan itu, di mana Yesus diundang bersama para murid-Nya, Ia mengamati tingkah laku tamu dalam mencari tempat duduk. Ternyata banyak yang mencari tempat terhormat, yakni di deretan depan.  Menanggapi itu, Ia bersabda “Apa bila kamu diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah!” (Luk 14:10).

Dalam surat pastoralnya, Petrus menulis kepada umat yang digembalakannya, demikian, “Rendahkalah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya’ (1 Ptr 5:6).

Yesus memberi landasan kuat sebagai dasar rendah hati dalam hidup kita, yakni dengan ‘penjelmaan, hidup dan wafat-Nya’.  Yesus hidup di kampung kecil Nazaret, jauh dari tempat pusat pendidikan dan kekuasaan. Ia mencari nafkah dengan bekerja sebagai tukang kayu. Dalam selama tiga tahun -masa yang pendek- dalam penampilan di muka umum, Ia jalani profesi sebagai Guru di jalanan, karena “Ia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58). Ia panggil dan kumpulkan murid-murid-Nya dari orang-orang biasa dan sederhana. Kepada mereka, Ia ingatkan, “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan” (Mat 23:12; Luk 18:14). Karena Yesus sendiri mengatakan tentang diri-Nya sendiri, bahwa Ia “datang untuk melayani bukan dilayani dan untuk memberikan nyawa-Nya  menjadi tebusan   bagi banyak orang” (Mat 20: 28).

Rendah hati dalam bahasa Inggris “humility” dari bahasa Latin ‘Humilitas” . Akar katanya adalah ‘humus’ , yang artinya ‘tanah - tanah yang subur-. Dan ‘sifat tanah’ itu di bawah, diinjak oleh tiap orang, juga menjadi tempat pembuangan, baik itu air maupun sisa-sisa dan sampah, yang sudah tidak kita perlukan. Tanah itu diam saja, menerima perlakuan apa saja, tetapi secara mengagumkan justru tanah mengolah apa yang dibuang itu menjadi sesuatu yang baru dan berguna, merubah segalanya menjadi sumber kehidupan baru, berkat keterbukaannya kepada sinar matahari, air hujan, menerima benih-benih yang dapat menghasilkan buah berlipat ganda.

Mari belajar dari Tuhan: berani ditinggalkan, penyerahan diri dan siap menerima apa saja dari orang lain dan dari Allah ! Nampaknya sikap itu menunjukkan ‘kelemahan’ tetapi kelemahan yang tidak ada hubungannya dengan dosa dan cinta-diri. Nampak lemah di luar tetapi batin tetap kuat perkasa.  (S.W).

 

DOA :‘Tuhan, ajarilah aku selalu bersikap dan berlaku rendah hati, berkat rahmat-Mu.’

JANJI :“Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan dan  barangsiapa yang merendahkan diri akan ditinggikan”  Lukas 14:  11

PUJIAN: Lao-tse, filosof dari Cina yang hidup di abad ke-5 sebelum Kristus, pernah mengumpamakan kerendahan hati itu seperti ‘air’. Fungsi dan manfaat air banyak sekali, air membersihkan apa saja, dan menghidupkan kembali bunga dan rerumpatan yang nampak mati kekeringan. Air tak mau memiliki bentuk yang tetap, ia mau menerima bentuk apa saja sesuai tempat (pinggan dll) yang menerimanya. Dalam aliran sungai air tidak memukul apa saja yang menghalanginya, tetapi mengikuti arus melewati benda-benda yang dengan lembut  menahannya sejenak terus turun menuju lautan bebas. Air mencari tempat yang terendah dan menjadikan tanah sekitarnya berbuah subur. Ya air itu rendah hati. Dalam sinar matahari air menguap terbang ke langit. Semoga kebaikan kita seperti itu: bersih murni, terang transparan;

Tiap mahkluk itu umumnya rapuh dari pada jahat, umumnya miskin daripada  jahanam. SW

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.