MELAMPAUI LOGIKA "DO UT DES"
20 February 2022
?Minggu, 20 Februari 2022
Hari Minggu Biasa VII
1 Samuel 26:2.7-9.12-13.22-23
Mazmur 103:1-2.3-4.8.10.12-13
1 Korintus 15:45-49
Lukas 6:27-38.
“TUHAN adalah penyayang dan pengasih,
panjang sabar dan berlimpah kasih setia”.
Mazmur 103: 8
SETELAH SEMALAMAN berdoa di bukit, Yesus turun, memilih 12 orang dari antara para murid-Nya, untuk ditetapkan sebagai Rasul (lih. Luk 6: 12-13). Ia kemudian “berhenti pada suatu tempat datar” (ay. 17), mengajar, menyembuhkan banyak orang, serta memaklumkan ‘empat ‘blessings’ (berkat) dan empat ‘curses’ (kutuk) (lih. Luk 6: 20-26).
Deskripsi Lukas ini beda dengan deskipsi Matius (Mat 5:1-12), di mana ada ‘Sembilan Sabda Bahagia’, yang diucapkan di ‘atas bukit’, dan hanya diperuntukkan bagi para murid-Nya saja (lih. Mat. 5:1). Pada Lukas, ‘empat blessings dan empat curses’ itu diwartakan di tempat datar, dan secara umum diperuntukkan bagi orang banyak (lih. ay. 17-18). Empat ucapan bahagia dan peringatan-nya mengacu pada seluruh ‘blessings’ dan ‘curses’ dalam pengajaran Musa di Kitab Ulangan (Ul 4: 44 - 26:19). Ucapan ‘celakalah’ juga merupakan kata-kata dari para nabi Perjanjian Lama.
Selain itu, ada dua perbedaan penting lagi dalam ‘blessings’ dan ‘curses’-nya Lukas.
Pertama, berbeda dengan Matius, yang menekankan disposisi internal untuk membuahkan hasil yang khusus, Lukas menempatkan arah tujuan ucapan bahagia dan peringatan ini, dengan mengacu pada Allah Bapa: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk 6:36). Melalui acuan ‘apa yang telah dikerjakan oleh Allah’ ini, Lukas ingin menekankan bahwa segala perbuatan dan sikap kita harus ‘going beyond’, melampaui apa yang umum dan biasa dilakukan orang. ‘Going beyond’ ini mirip dengan apa yang ditulis oleh Yohanes mengenai ‘perintah baru mengenai cinta kasih’: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:34-35). Bandingkan perintah kasih dari Yohanes ini dengan Matius: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22: 39).
Di sinilah, dengan mengacu pada karya Allah, Lukas melampaui logika umum: “Do ut des” -ungkapan bahasa Latin -, yang berarti, ‘aku memberi, supaya engkau memberi‘. Melalui acuan kepada Allah itu, ditunjukkan bahwa semua perbuatan baik kita melulu muncul karena iman kepada Allah yang Mahapengasih dan Maharahim. Secara keras, Lukas bahkan sampai tiga kali menyebut logika ‘do ut des’ sebagai kelakuan ‘orang berdosa’ (ay. 32.33.34).
Kedua, dalam mengungkapkan sebuah tindakan, misalnya perintah untuk “memberi kepada setiap orang yang meminta kepadamu” (ay. 30), Lukas memakai ‘tense’ (Inggris) atau sistem kala ‘saat kini’ (present tense). Dalam Bahasa Yunani, present tense dipakai untuk menunjukkan sesuatu ‘yang terus menerus terjadi’. Atas dasar ini, maka terjemahan yang tepat dari ay. 30 itu, adalah: “hendaknya engkau terus menerus, tanpa henti, memberi kepada setiap orang, yang meminta kepadamu”. Intensitas ini diperkuat dengan tambahan “kepada setiap orang”.
Di sinilah, dengan memakai present tense (saat ini), Lukas hendak menunjukkan bahwa ‘berbuat baik’ itu tidak mengenal batasan waktu, situasi, maupun tempat, apalagi ‘pilih-pilih’, karena kasih Allah itu kekal adanya. “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu”, begitu sabda Yahwe kepada umat-Nya melalui nabi Yeremia (lih. Yer 31:3). (Witdarmono).
DOA : “Allah yang Mahakasih, datanglah ke dalam hati kami, sehingga hanya Engkau sajalah, yang menjadi pusat kehidupan kami”.
JANJI : “Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari Surga”. - 1 Korintus 15: 47
PUJIAN : Di antara lima rumah sakit (RS) yang paling tua di Indonesia, dua di antaranya adalah RS, yang dikelola oleh umat Kristen, yaitu RS PGI Cikini, Jakarta,yang didirikan pada 15 Maret 1895, dan RS Immanuel Bandung, yang sudah beroperasi sejak 1900, awalnya sebagai Balai Pengobatan. Dua RS itu didirikan atas inisiatif keluarga pendeta Kristen dari Belanda. RS PGI Cikini didirikan oleh pendeta Cornelis de Graaf bersama Adriana, isterinya. Sedangkan RS Immanuel Bandung didirikan oleh pendeta B.M. Alkema, yang mengubah kandang kereta kudanya menjadi tempat pengobatan. Sangat jelas, pendirian RS tersebut—yang juga diperuntukkan bagi kaum pribumi--, merupakan ungkapan kasih kerahiman Allah dalam konteks zaman.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ