MELAWAN ARUS
21 May 2022
Sabtu, 21 Mei 2022
Kisah Para Rasul 16:1-10;
Mazmur 100:1-2.3,5;
Yohanes 15:18-21.
“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu”.
Yohanes 15: 18.
MENJADI PENGIKUT KRISTUS itu berat, karena ia dipanggil untuk hidup dengan cara yang berlawanan dengan kriteria umum masyarakat.
Saat ini misalnya, orang menjadi besar karena media massa. Kecenderungan ini juga terdapat dalam praktik keagamaan. Berbagai khotbah atau pewartaan akan memperoleh rating tinggi, apabila ia memenuhi selera pendengarnya. Kata Yesus: “Karena asalnya sama dari dunia, maka dunia pun mengasihi kamu sebagai miliknya” (ay. 19a).
Tidak demikian dengan murid Yesus. Mereka “bukan dari dunia, melainkan telah dipilih dan ditarik oleh Kristus dari dunia; sebab itulah dunia membenci mereka” (ay. 19b). Atas dasar ini, maka bila ada murid-murid Kristus dipuji oleh kekuatan dunia dan diangkat oleh media massa sebagai model orang beriman, sebaiknya kita tidak mempercayainya secara penuh.
Pilihan dari Yesus-lah yang membedakan kita dari ‘dunia’. Pilihan ini pulalah yang memberi kemampuan untuk menghadapi penderitaan dan penganiayaan.
Dalam sejarah Gereja, sejak awal, telah disadari bahwa karena nama Yesus, mereka yang percaya kepada-Nya, selalu mengalami penganiayaan. Namun, umat yang beriman itu, tetap setia dan kokoh. Mereka mengidentifikasikan diri mereka dengan Kristus. Mereka mengimani bahwa Allah selalu bersama dengan mereka.
Memang Paulus minta agar umat memiliki keberanian untuk mewartakan Injil (Ef 6:19), tetapi sekaligus juga “penuh hikmat dalam menghadapi dunia” (Kol 4:5-6). Apakah ini artinya kita harus punya balance dalam mengikuti Yesus?
Inilah yang patut jadi bahan renungan. (Witdarmono).
DOA : “Ya Allah yang Maharahim, curahkanlah rahmat-Mu kepada kami agar mampu mengabdi-Mu dengan kesetiaan tanpa batas”.
JANJI: “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” – Mazmur 100:2.
PUJIAN: Setiap Aksi Puasa, Gereja Katolik selalu menekankan masalah-masalah sosial yang sedang ‘mengganggu’ kehidupan manusia, mulai dari masalah lingkungan hidup, kesehatan, kemiskinan, kecukupan pangan, sampai juga ke masalah solidaritas antarmanusia (Yes. 58: 6-7). Saatnya, kini mengevaluasi kembali apakah aksi puasa tersebut sudah mulai menghasilkan buah-buahnya, secara khusus apakah telah memberikan nilai lebih dalam penghayatan iman umat. Dituntut kejujuran dalam kasih memang. Di situlah sukacita sejati diperoleh.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ