MELAWAN “BIBIT, BÈBÈT, BOBOT”

17 December 2020

Kamis, 17 Desember 2020

Hari Biasa Khusus Adven

Kejadian  49:2.8-10

Mazmur 72:1-2.3-4ab.7-8.17

Matius 1:1-17

 

“Inilah silsilah Yesus Kristus, putra Daud, putra Abraham”. -- Matius 1:1.

        

SEJAK AWAL INJILNYA, Matius sudah menolak pemakaian kriteria ‘bibit-bèbèt-bobot’ untuk Yesus, Sang Immanuel, ‘Allah menyertai kita’ (Mat 1:23).

Dari ‘bibit’-nya (asal usul keturunan), ‘bèbèt’ (harkat, martabat, dan prestise), dan ‘bobot’ (kualitas fisik dan mental), nilai nenek moyang Yesus adalah ‘merah’!

Daud misalnya, adalah perampas istri orang. Salomon punya 700 istri dan 300 gundik (1 Raj  11:3). Beberapa nenek moyang Yesus bukan ‘murni’ Yahudi, dan bahkan berasal dari suku-suku terkutuk. Lihatlah riwayat Tamar, Rahab, dan Rut. Bersama dengan Batsyeba, mereka berempat menjadi gambaran sosok, yang punya nilai buruk dalam harkat, martabat, dan prestise. Namun, justru melalui ‘Pohon Keluarga” yang ‘merah’ itu, Matius ingin memperlihatkan, semua nenek moyang Yesus memiliki peran penting dalam ‘menurunkan’ Mesias.

Melalui realitas kelemahan manusia, kepenuhan kasih dan kerahiman Allah memasuki kehidupan manusia secara apa adanya. Tidak ada pembatasan antara yang masih buruk, atau yang sudah dimurnikan. Allah dapat mewujudkan ‘Keputraan Daud’, sebagai pengharapan orang-orang Yahudi ( 2 Sam. 7:12-16), ataupun ‘Keputraan Abraham’, yang menjadi sumber keselamatan bagi semua bangsa (Kej. 12:13), dalam situasi kemanusiaan apapun.

Bagi kita, realitas ini berarti, hidup kita tidak sepenuhnya ditentukan oleh perbuatan-perbuatan nenek moyang kita. Yang terpenting adalah bagaimana rahmat, kasih, dan kehadiran Allah, bekerja dalam sejarah nenek moyang kita. Mampukah kita melihatnya? Dalam hal ini, kesatuan diri dengan Allah menjadi penentunya! (WIT).

 

DOA: “Ya Allah Bapa yang Mahakasih, kami berdoa untuk para nenek moyang, dan juga untuk keluarga kami. Anugerahilah mereka dengan kedamaian kekal, dan kasih kerahiman-Mu, sebab dari merekalah kami menerima bibit iman, serta belajar mengabdi kepada-Mu”.

JANJI: “Biarlah namanya tetap selama-lamanya, kiranya namanya semakin dikenal selama ada matahari. Kiranya segala bangsa saling memberkati dengan namanya, dan menyebut dia berbahagia”. --- Mazmur 72:17

PUJIAN: Pada 1911, P.J.Darmasepoetra dan F.X. Satiman, alumni Kolese Xaverius, Muntilan, menghadap Romo Fransiskus van Lith (1863-1926): “Kami ingin menjadi imam.” Rm. van Lith senang, dan mengajukannya ke vikariat Batavia (Jakarta) dan ke Roma. Petinggi di sana mengatakan, permintaan itu terlalu pagi, tunggu ada tiga generasi Katolik dulu. Artinya, baru nanti ‘cucunya’ Darma atau Satiman, boleh jadi imam. Tetapi, kemudian Darma menjawab: “Bukankah para rasul itu, berasal dari generasi pertama pengikut Yesus? Kami ingin seperti mereka.” Itulah awal ‘bibit’ imamat di tanah Jawa. Tidak harus dari ‘generasi ketiga keluarga Katolik’. “Rahmat Allah yang utama”, tulis Darma. (lih. Fl. Hasto Rosariyanto, SJ, 1997).

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.