MELAWAN ILUSI DENGAN KEMBALI KE KITAB SUCI

18 April 2021

Minggu, 18 April 2021

Minggu Paskah III

Kisah Para Rasul 3: 13-15.17-19

Mazmur 4:2.4.7--9

1 Yohanes 2:1-5a

Lukas 24:35-48

 

“Tetapi, Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu  dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita” --- Kisah Para Rasul 3:18.

 

MANUSIA LEBIH SENANG HIDUP DALAM ILUSI, karena ilusi bisa menghasilkan kenikmatan dan menjauhkan dari kenyataan pahit. Itulah yang terjadi di kalangan para murid Yesus pasca peristiwa penyaliban-Nya. Gosip mengenai berita kebangkitan-Nya pun, menjadi cara untuk membuang kenyataan dan realitas yang pahit. Ilusi para murid Yesus itu begitu kuat. Meskipun Yesus telah berdiri di tengah-tengah mereka, dan memberi Shalom, namun para murid tetap “terkejut, takut, dan (bahkan) menyangka bahwa mereka melihat hantu” (Luk 24:37). 

Dua hal kemudian dipakai oleh Yesus untuk menghancurkan ilusi tersebut, yaitu dengan kehadiran-Nya yang konkret, dan dengan pemahaman Kitab Suci.

St. Yohanes Paulus II (1920-2005) menjelaskan, untuk menyadari kehadiran Kristus secara nyata dalam kehidupan--artinya memahami karakter sakramental dari kehidupan manusia,-- memang diperlukan sebuah perjuangan besar. Namun, begitu kehadiran Allah itu telah kita terima, dan bahwa kita menyadari, hidup kita telah disatukan dengan hidup Kristus, maka akan muncul sebuah paradigma baru mengenai kehidupan. Semua wilayah kemanusiaan dan semesta pun, menjadi kediaman Allah. Artinya, segala sesuatu yang kita lakukan, atau yang gagal kita laksanakan, berada dalam matra Ilahi. Inilah makna nas  “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yoh 2:6). Dan Kristus itu adalah Kristus yang sengsara, wafat, dan bangkit!

Namun, menyadari kehadiran Yesus Kristus secara konkret, hanya dapat dilakukan melalui Kitab Suci. Itulah mengapa St. Hieronimus (342-420) selalu menasehati, agar kita selalu membaca Kitab Suci. “Tanpa mengenal Kitab Suci, kita tidak akan mengenal Kristus. Dengar dan lihatlah apa yang dikatakan oleh Yesus yang bangkit, kepada kedua murid dari Emaus (lih. Luk.24: 25-27). Kitab Suci adalah sumber memahami Mesias,” ungkap Hieronimus. (WIT)

 

DOA: “Datanglah Roh Kudus, pimpinlah kami untuk memahami Rencana sehari-hari dalam kesatuan dengan Bapa, Putra, dan Roh Kudus”.

JANJI: “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” --- 1 Yoh 2:6.

PUJIAN: Seorang pengajar Kitab Suci mengatakan, Beberapa pekan setelah Paskah ini, bacaan pertama liturgi Ekaristi lebih banyak diambil dari Kisah Para Rasul. Apa maknanya? Gereja ingin mengajak umat untuk menyadari, berbagai peristiwa dalam Kisah itu adalah Sejarah Gereja Perdana yang konkret; bagaimana Gereja itu berdoa, beribadat, saling melayani dan memberi, bersaksi, dan merasul menyebarkan Warta Gembira, atau juga bagaimana Gereja itu menghadapi berbagai tantangan baik dari sisi internal maupun eksternal. Namun, dari semuanya, Kisah Para Rasul menunjukkan, Gereja hanya bisa hidup bila bersatu dengan Yesus Kristus, dan selalu memohon pencurahan Roh Kudus.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.