MEMATUHI PERATURAN
06 July 2024
Sabtu, 6 Juli 2024
Amsal 9:11-15
Mazmur 85:9.11-12.13-14
Matius 9:14-17
"Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" --- Matius 9:14
SUATU PERATURAN dibuat untuk kebaikan dan keteraturan hidup manusia. Dinamika kehidupan dan budaya manusia banyak membuat suatu peraturan kadang menjadi tidak relevan lagi pada jamannya. Lebih lanjut, dalam penerapan suatu peraturan, manusia sering terjebak pada kepatuhan yang membabi buta. Tidak melihat lagi kepada substansi apakah kepatuhan manusia terhadap peraturan itu membawa kebaikan kepada manusia pelaku dan sesamanya atau tidak.
Demikian juga dikisahkan yang terjadi kepada para murid Yohanes dan orang-orang Farisi ketika mereka mempertanyakan para murid Yesus mengapa tidak berpuasa. (Mat.9:14) Orang-orang Farisi adalah pengamat pelaksanaan hukum Taurat yang sangat teliti, karena mereka memiliki kerangka berpikir bahwa Allah mencintai orang yang taat hukum Taurat dan menghukum yang tidak patuh. Agar dilihat orang bahwa mereka sangat paham aturan, mereka cenderung ingin memperlihatkan (pamer) bahwa mereka pun taat pada aturan. Sehingga seringkali yang muncul adalah sifat munafik. Apa yang dikatakan (kepatuhan terhadap peraturan) tidak sesuai dengan apa yang diperbuatnya (kenyataan). Dan hal ini membawa kecenderungan untuk menyalahkan orang/pihak yang lain. Mereka menyalahkan murid Yesus karena tidak berpuasa. Mereka tidak mau melihat penyebab mengapa peraturan tentang puasa itu tidak dilaksanakan.
Sebenarnya ada kondisi tertentu dimana suatu aturan tidak mungkin dilakukan; dan bila terjadi hal itu bisa dimaklumi. Misal seseorang tidak berpuasa karena sedang sakit, masih kanak-kanak, sudah renta, berada dalam perjalanan, dsb. Selalu ada pengecualian dalam suatu peraturan yang dapat dimengerti.
Sebagaimana murid Yohanes dan orang-orang Farisi, kita pun sering terjebak kepada kepatuhan terhadap suatu aturan secara membabi buta. Dan menjadi masalah besar ketika sampai kepada kecenderungan agar kepatuhan kita dilihat orang. Kita ingin agar terlihat atau diketahui orang bahwa kita taat aturan. Kita “show of force”. Kita pamer.
Jangankan kepatuhan terhadap suatu peraturan, bersikap dan berbuat baik yang merupakan suatu kewajiban wajar bagi manusia yang secara kodrati perlu dilakukan oleh manusia sebagai makhluk sosial pun cenderung kita pamerkan. Ditambah kondisi bahwa media sosial sebagai sarana dewasa ini sangat memungkinkan bagi kita untuk memperlihatkan perbuatan baik apa yang sudah dan sedang kita lakukan. Sudah barang tentu Tuhan Yesus tidak menghendaki hal yang demikian (yaitu pamer) dilakukan oleh para murid-Nya. Termasuk oleh kita, murid Yesus jaman now. (Mat.6:3-4)
Hal pamer ini juga sudah sampai ke ranah yang bersifat pribadi terkait hubungan manusia dengan Tuhan yaitu berdoa. Berdoa dilakukan agar dilihat orang dan dengan kalimat yang panjang-panjang. Tuhan Yesus memerintahkan para murid-Nya agar tidak berbuat demikian. (Mat.6:5-8)
Sudah pasti kepatuhan yang membabi buta tanpa melihat apakah ketaatan itu bermanfaat bagi pelaku dan sesama, terlebih lagi bila hal itu dipamerkan agar diketahui orang lain bukanlah merupakan hal-hal yang dikehendaki Tuhan Yesus untuk kita lakukan.
Pertanyaan reflektif bagi kita: Apakah kehidupan beriman kita sudah taat pada aturan? Apakah ketaatan kita itu membawa kebahagiaan bagi kita dan sesama. Bila jawaban keduanya adalah “iya”, apakah juga perlu kita pamerkan. (Hadi Karyono)
DOA: ”Ya Allah, kami sering terjatuh dalam dosa yang berulang yaitu pamer. Kami ingin eksistensi kami diakui banyak orang. Seakan kalau tidak diketahui orang lain maka hidup kami hancur. Setiap berkegiatan terlebih yang kami anggap sebagai perbuatan baik, sering ingin kami pamerkan. Baik dengan bercerita maupun lewat posting-an selfie melalui media sosial. Kami sadar bahwa Engkau sangat mengetahui apa pun yang sudah, sedang dan akan kami lakukan, meski kami sembunyikan sekalipun. Ya Allah, bantu kami yang lemah ini untuk semakin menyadari bahwa Engkau selalu mengetahui apa yang kami lakukan bahkan sebelum hal itu kami perbuat, Amin.”
JANJI: “Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita.” - Mazmur 85:9
PUJIAN: St. Maria Goretti, Perawan dan Martir. Maria Goretti lahir lahir di Corinaldo, Provinsi Ancona, Italia pada tanggal 16 Oktober 1890. Ayahnya Bernama Luigi Goretti sedangkan ibunya Assunta Carlini. Orangtuanya adalah petani miskin di desanya. Luigi Goretti meninggal dunia akibat sakit malaria ketika Maria berusia sembilan tahun. Karena kemiskinannya, keluarga Goretti harus berbagi rumah dengan keluarga lain, yakni keluarga Serenelli di Nettuno. Meskipun kesulitan hidup terus melilit keluarga Goretti, namun semangat iman mereka tidak luntur. Maria tetap bersemangat mengikuti pelajaran agama menyongsong pesta Komuni Pertama. Ia rindu sekali secepatnya menyambut Tubuh dan Darah Kristus, meskipun untuk itu ia harus berjalan kaki ke kota. Pada suatu senja tanggal 5 Juli 1902, saat sendirian di rumah untuk menjaga adiknya yang sedang sakit, sementara ibunya sedang bekerja di ladang, Maria mengalami ancaman dan usaha pemerkosaan yang dilakukan oleh tetangganya, Allesandro Serenelli. Maria dengan gigih dan berani berusaha mempertahankan kesuciannya. Upaya pemerkosaan tidak berhasil. Pemerkosa kalut dan nekad melakukan empat belas tusukan ke tubuh Maria. Upaya operasi yang sangat menyakitkan, tidak membuahkan hasil. Sehari kemudian, tanggal 6 Juli 1902 setelah mengakukan dosa-dosanya dan menerima Komuni Kudus, Maria meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia, Maria memaafkan dan mengampuni perbuatan keji pemerkosa dengan berkata: "Aku ingin dia berada di dekatku di surga kelak."
Maria Goretti dibeatifikasi pada tahun 1947 dan dikanonisasi pada tanggal 24 Juni 1950 di Roma oleh Paus Pius XII. Ibu, keempat saudara-saudari kandung Maria yang masih hidup, dan Alessandro Serenelli, hadir dalam perayaan kanonisasi. Jenazah St. Maria Goretti disimpan di ruang bawah tanah Basilika Nostra Signora delle Grazie e Santa Maria Goretti di Nettuno, di Selatan Roma.
Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)