MEMBANGUN BUDAYA SILATURAHMI DAN SILATURAHIM
31 May 2024
Jumat, 31 Mei 2024
Zefanya 3:14-18
Roma 12:9-16b
Yesaya 12:2-3.4bcd.5-6
Lukas 1:39-56
“Beberapa hari kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Lalu ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.” --- Lukas 1:39-40
DE MARIA NUNQUAM SATIS, “tak pernah orang mengatakan cukup tentang Maria”, demikian kata St. Bernardus dari Siena. Memang benar ungkapan tersebut sebab Maria adalah pribadi yang amat istimewa di hadapan manusia maupun di hadapan Allah. Ia adalah pribadi yang dikarunia dan rahmat Tuhan melimpah atas dirinya (Luk. 1: 28). Ia adalah wanita pilihan untuk menjadi Bunda Sang Juru Selamat manusia dan keterpilihannya membawa sukacita bagi Gereja sepanjang sejarah. Dengan keterpilihannya sebagai Bunda Allah, Maria merobohkan tembok pemisah antara Allah dan manusia. Maka sudah amat pantas dan layak kita memberi hormat, puji-pujian dan mengaguminya sambil belajar dan memohon doa daripadanya.
Ada banyak sekali inspirasi hidup yang bisa kita pelajari dari Maria baik untuk kita secara pribadi maupun dalam hidup bersama misalnya dalam keluarga, komunitas biara, kelompok kategorial, dan lain-lain. Dalam renungan ini, saya ingin mengajak kita untuk merenungkan tentang pribadi Maria yang suka bersilaturahim dan bersilahturahmi. Bagi kita di Indonesia dua kata ini sudah bukan kata asing dan (mungkin) sering kita gunakan dalam hidup sehari-hari apalagi ketika kita ikut merayakan hari raya Idul Fitri bersama saudara-saudari kita umat Muslim. “Silaturahim” (Arab: shilat ar rahim) artinya menjalin relasi yang lebih dalam antar mereka yang memiliki hubungan darah. Sedangkan “silaturahmi” (Arab: shilat ar rahmi) menjalin hubungan kasih sayang dengan siapa saja tanpa dibatasi oleh hubungan darah.
Kabar Injil yang kita baca dan renungkan pada Pesta Maria mengunjungi Elisabet, saudaranya sarat dengan makna silaturahim dan silaturahmi. Silahturahim dan silaturahmi antara Maria dan Elisabet bukanlah sekedar karena memiliki hubungan darah atau hanya untuk mengungkapkan kasih sayang tetapi karena memiliki hubungan yang mendalam dengan rencana keselamatan Allah. Kedua pribadi ini disiapkan oleh Allah untuk sebuah karya yang amat besar nan agung yaitu menyelamatkan jiwa-jiwa. Maka inspirasi pertama yang kita ambil dari pesta hari ini adalah tindakan silahturahim dan silaturahmi memiliki tujuan mulia, yaitu membawa keselamatan. Kita bisa menengok sebentar ke dalam keluarga dan komunitas kita masing-masing. Pasti kita sering bersilaturahim dan bersilaturahmi tapi apakah dalam tindakan itu kita membawa misi keselamatan bagi keluarga, komunitas kita, dan orang lain atau sekedar berkunjung karena hari raya.
Bagaimana kita mengukur kualitas silaturahim dan silaturahmi kita membawa keselamatan? Oh iya keselamatan yang dimaksud bukan hanya keselamatan di akhirat (eskatologis) saja tetapi terutama keselamatan kini dan di sini (hic et nunc). Keselamatan akan dialami jika dalam silaturahim dan silahturahmi kita merasakan adanya sukacita. Elisabet sangat bersukacita dengan kehadiran Maria, demikian pun dengan Maria. Sukacita itu bukan diukur pula dengan seberapa ramai pembicaraan dan aktivitas yang dibuat tetapi dengan membawa Tuhan di dalam diri kita. Maria tidak hanya sekedar hadir bagi Elisabet tetapi ia membawa Yesus kepada Elisabet dan Yohanes. Inilah sukacita terbesar dalam membangun budaya silaturahim dan silaturahmi dalam hidup sehari-hari.
Kualitas silaturahim dan silaturahmi kita akan berkualitas juga tergantung dari apa yang kita bicarakan atau sharing-kan. Maria dan Elisabet berbicara tentang pengalaman-pengalaman mereka akan Allah dan hal-hal baik tentang kehidupan mereka. Sering ada guyonan bagi kita, di mana ada bapak-bapak berkumpul di sana ada proyek ilegal; di mana ada ibu-ibu berkumpul di sana ada gosip; di mana ada biarawan/i atau imam berkumpul di sana ada konflik. Jika guyonan ini benar ada dalam silaturahim dan silaturahmi kita maka amat disayangkan sebab keselamatan jauh dari hati dan hidup kita. Mari belajar dari Maria dan Elisabet untuk berbagi pengalaman iman di tengah perbuatan silaturahim dan silaturahmi kita. Dan yang terakhir, Silaturahim dan silaturahmi kita akan berkualitas dan membawa keselamatan jika ada rasa syukur. Maria dan Elisabet adalah pribadi-pribadi yang penuh dengan rasa syukur bukan karena hal-hal ajaib yang selalu mereka peroleh tetapi mereka mengalami bahwa dalam situasi hidup yang terhimpit, penuh tekanan, hidup yang sulit dimengerti dan penuh tanda tanya, mereka tetap percaya dan pasrah kepada kehendak Allah. Itulah yang membuat mereka menjadi pribadi yang penuh syukur dan bahagia. Bagaimana dengan kita? Coba renungkan sejenak dalam batin kita!
Saudara/i-ku, belajar dari Maria dan Elisabet, mari kita hayati silaturahim dan silaturahmi sebagai tindakan iman bukan sekedar kunjungan persaudaraan biasa. Bahkan kita jadikan sebagai budaya atau falsafah hidup dan spiritualitas dalam hidup sehari-hari. Di zaman ini kebiasaan silaturahim dan silaturahmi ini amat dibutuhkan sebab kita sadari bahwa dengan kemajuan teknologi secara langsung maupun tidak langsung telah turut membentuk pribadi-pribadi yang sibuk dengan diri dan pekerjaannya masing-masing. Teknologi mempermudah kita untuk bisa bersilaturahim dan bersilaturahmi secara daring namun tidak bisa menggantikan silaturahim dan silaturahmi secara luring. Mari membangun budaya silaturahim dan silaturahmi bersama Maria dan Elisabet. (Rm. Aris Fenanlampir)
DOA: “Ingatlah ya Bunda Hati Kudus, akan segala karya ajaib yang dilakukan Tuhan bagimu. Ia telah memilih engkau menjadi bunda-Nya. Ia menghendaki engkau berdiri dekat salib-Nya. Ia mendengarkan doamu. Persembahkanlah kepada-Nya, segala pujian dan ucapan syukur kami. Unjukanlah kepada-Nya permohonan kami. Jadikanlah hidup kami serupa dengan hidupmu di dalam cinta Putra-Mu, agar datanglah kerajaan-Nya. Hantarkanlah semua orang kepada sumber Air Hidup, yang memancar dari Hati-Nya, yang menyiram ke seluruh bumi, pengharapan dan keselamatan, keadilan dan perdamaian. Perhatikanlah iman kami, jawablah seruan kami, dan sudilah engkau menunjukkan dirimu selalu bahwa engkaulah Bunda kami. Amin” (Doa P. Jules Chevalier, Pendiri Tarekat MSC dan PBHK).
JANJI: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” Lukas 1: 46-49
PUJIAN: Aku berjanji akan menjadikan Bunda Maria sebagai teladan dan pelindungku agar aku bisa menjadi pembawa dan pewarta Kristus bagi setiap orang yang aku jumpai.
Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)