MEMBANGUN RELASI DENGAN KESETIAAN
15 September 2021
Rabu, 15 September 2021
HR SP Diangkat ke Surga
I Timotius 3:14-16
Mazmur 111:1-6
Yohanes 19:25-27/Lukas 2:33-35
“Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya. Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena.” Yohanes 19:25
MEMBANGUN RELASI yang baik merupakan suatu keharusan bagi kita umat Allah. Dalam kehidupan, kita banyak membangun relasi, relasi dengan Allah, relasi dengan sahabat, relasi dengan rekan kerja, relasi dengan orang tua dan lain sebagainya. Suatu relasi dapat berjalan dengan baik jika di bangun atas dasar kesetiaan yang konsisten. Sebaliknya apabila relasi itu dibangun hanya karena kebutuhan atau rutinitas saja maka, relasi akan hilang apabila mengalami badai atau masalah menerpa.
Bunda Maria adalah teladan iman bagi kita dalam hal membangun relasi kita dengan Yesus Puteranya. Dilukiskan dalam bacaan Injil hari ini, bagaimana Maria dengan kesetiannya mengikuti perjalanan penderitaan Puteranya dari Yerusalem ke Kalvari dan sampai Puteranya mati di salib. Tentu saja, sebagai seorang ibu, Maria sangat menderita, tetapi Maria tetap setia berdiri dekat salib Yesus (Yoh 19:25) Inilah relasi yang dibangun atas dasar kesetiaan dan kepercayaan.
Hari ini Gereja Katolik memperingati Maria yang Berdukacita. Sebagai manusia biasa Maria sungguh menderita. Nubuat Simeon, yang mengatakan kepada Bunda Maria, “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri”, diartikan bahwa Bunda Maria menyaksikan sendiri kematian Puteranya di Salib, namun Maria tidak mengeluh dan tetap setia dan percaya pada rencana Allah. Dan berkat kesetiannya Maria mendapat ganjaran dimuliakan di Surga.
Pentingnya relasi dan kesetiaan juga terungkap dalam hubungan ‘suami-istri’ dalam hidup berkeluarga. Hubungan suami-istri diawali dengan ‘relasi’ dan memuncak dalam Sakramen Perkawinan. Dalam ‘saling menerimakan Sakramen’, pasangan yang bersangkutan, bergantian mengucapkan ‘Janji suci kesetiaan mereka’, dengan mengatakan ‘Saya berjanji akan tetap setia kepadanya dalam untung dan malang, dan saya mau mencintai dan menghormatinya seumur hidup’ (ada versi lain dalam Bahasa Inggris) ‘until death do us part’ – sampai maut memisahkan kita!
Marilah kita tetap setia dan percaya pada setiap rencana Allah, dalam hidup kita ini, dalam situasi apapun. Seperti Bunda Maria, ‘dekat salib Yesus berdiri’, kitapun demikian juga berdiri sambil memandang Salib-Nya, kita, putera-puteri Maria, akan tetap setia pada Putera-nya, sampai akhir hayat kita, sambil bersemboyan ‘pejah gesang ndherek Sang Kristus – hidup mati ikut Kristus‘. (PTR)
DOA: “Tuhan Yesus, baharui hatiku dengan Roh-Mu dan jadikanku setia dan percaya pada-Mu, sampai aku kembali pada-Mu nanti.”
JANJI: “Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; Tuhan itu pengasih dan penyayang.” Mazmur 111:4
PUJIAN: Ada teman yang berbagi dalam pertemuan kelompok doa di Lingkungan. Katanya, “Saya adalah orang yang pemalu, minder dan takut sehingga susah kalau diajak komunikasi dan relasi dengan orang lain. Akan tetapi setelah saya mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan melalui seminar kerohanian, saya bersyukur saya menjadi terbuka dan dapat membangun suatu relasi dengan orang lain dengan tidak ada rasa takut dan minder lagi. Dan ternyata membangun relasi kalau dengan penuh kesetian dan kepercayan semuanya menjadi indah.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ